Mewariskan Nilai-Nilai Kepahlawanan Kepada Generasi Muda

0
805

Sejarah mencatat bahwa kemerdekaan Indonesia dirintis, diperjuangkan, dan didirikan oleh para pendahulu atas dasar tekad dan semangat untuk bersatu. Maka dari itu, jika tekad dan semangat untuk bersatu itu luntur dari hati sanubari bangsa Indonesia, berarti keberlangsungan Negara ini dalam bahaya besar. Agar semangat para pejuang dan pendiri Negara tetap berkobar. Nilai-nilai kepahlawanan perlu diwariskan kepada generasi muda.

Kampusdesa.or.id- Nilai-nilai kepahlawanan pada orde baru diberikan melalui jalur pendidikan, yakni melalui pendidikan sejarah perjuangan Bangsa. Namun pelajaran tersebut kenyataanya telah “dipelintir” sebagai alat propaganda rezim tersebut. Akibatnya, saat ini mata pelajaran  ini telah dieliminasi dari kurikulum sehingga pembelajaran sejarah perjuangan bangsa hanya dapat diperoleh dari pelajaran sejarah, yang sifatnya masih umum dan luas (nasional dan internasional).

Terlepas dari persoalan di atas, yang perlu digarisbawahi di sini adalah bahwa pembelajaran  sejarah berfungsi untuk menumbuhkan kearifan dalam diri anak didik. Belajar sejarah bukan sekedar membaca dan mengetahui suatu peristiwa, melainkan juga mengambil hikmah dari setiap peristiwa, sehingga akan timbul kesadaran kolektif untuk menuju masa depan bangsa yang lebih gemilang.

Kesalahan masa lalu, yang merupakan catatan kelam dalam sejarah, perlu diinsyafi sebagai cambuk untuk membenahi dan menata kembali system soaial, politik,  ekonomi, budaya, dan hankam yang lebih demokratis, manusiawi, dan modern. Pelajaran sejarah suatu bangsa senantiasa mengalami pasang surut. Kesalahan yang dilakukan para pendahulu  seyogyanya tidak dijadikan bahwa cacian dan alas an untuk tidak berkarya secara kreatif dan inovatif, akan  tetapi semua itu dijadikan bahan pembelajaran dan acuan untuk melangkah di masa depan.

Menegaskan nilai-nilai kepahlawanan:  Perjalanan sejarah bangsa Indonesia selalu diliputi nilai-nilai perjuangan dan kepahlawanan. Perjuangan  untuk mendapatkan kebebasan dari segala bentuk belenggu penjajahan. Perjuangan untuk menegakkan keadilan . perjuangan untuk meraih kemakmuran  bangsa. Maka, tidak salah jika dikatakan bahwa bangsa Indonesia adalah  bangsa pejuang.

Nilai-nilai kepahlawanan  harus selalu menjiwai setiap perjuangan anak bangsa. Untuk itu, nilai kepahlawanan perlu terus menerus ditanamkan dalam dada setiap anak bangsa. Perjuangan tanpa roh kepahlawanan hanya akan  melahirkan para pecundang (bukan pejuang). Dalam tulisan singkat ini, saya mencoba memaparkan nilai-nilai kepahlawanan yang dapat dipetik  dari  sikap dan perilaku para pahlawan yang dapat dipetik dari sikap dan perilaku para pahlawan yang telah berjuang untuk merebut dan mempertahankan kemerdakaan Indonesia. Dengan harapan, setiap  anak bangsa dan generasi muda khususnya , dapat mewarisi nilai-nilai kepahlawanan  tersebut dan mau mengejawantarkannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbagsa, dan bernegara. Nilai-nilai kepahlawanan yang di wariskan para pejuang atau pahlawan adalah:

Dengan adanya keimanan dan ketakwaan terhadap tuhan yang maha Esa, diharapkan seluruh bangsa  Indonesiaa bisa bersabar, tabah, dan tetap optimis akan mendapat pertolongan, Allah.

Beriman  dan bertakwa pada  tuhan yang maha Esa: Keimanan kepada tuhan yang maha esa mendorong seorang pejuang memiliki keberanian dan tidak takut menghadapi bahaya. Mereka memilki keyakinan dan pendapat pertolongan Tuhan. Selama yang diperjuangkan adalah kebenaran. Dan hal ini, seorang pejuang  menjadi tabah dalam perjuangan. Ini penting ditanamkan mengingat bangsa  kita akhir-akhir ini didera berbagai macam musibah dan bencana, mulai bencana tsunami, gempa bumi, tanah longsor , angin puting beliung , flu burung dan lain-lain. Dengan adanya keimanan dan ketakwaan terhadap tuhan yang maha Esa, diharapkan seluruh bangsa  Indonesiaa bisa bersabar, tabah, dan tetap optimis akan mendapat pertolongan, Allah.

Menegakkan kebenaran dan keadilan: Saat ini, tampaknya sangat sulit mencari orang yang masih berjuang menegakkan nilai keadilan dan kebenaran. Menegakkan benang basah. Kondisi  sosial budaya masyarakat yang carut marut sekarang ini tidak akan selesai, jika keadilan dan kebenaran tidak ditegakkan.

Menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia: Esensi dari perjuangan adalah menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, yakni pribadi dan bangsa yang jauh dari segala bentuk eksploitasi dan penindasan antara manusia satu terhadap manusia lainnya, dan satu bangsa terhadap bangsa lainnya.

sikap yang dimiliki seorang pahlawan adalah keberpihakannya pada kaum yang lemah. Keberpihakannya ini didasari pada kesadaran kesamaan harkat dan derajat sebagai manusia.

Membela kaum yang lemah: sikap yang dimiliki seorang pahlawan adalah keberpihakannya pada kaum yang lemah. Keberpihakannya ini didasari pada kesadaran kesamaan harkat dan derajat sebagai manusia. Orang yang lemah baik secara sosial ekonomi maupun fisik bukan untuk dikalahkan, melainkan perlu ditolong agar bisa bangkit dari segala himpitan problema yang dihadapi. Kondisi sosial politik masa kini yang serba materialis selalu meminta korban dari kaum yang lemah. Mereka menjadi kambing hitam dari segala keburukan, kesalahan dan kegagalan, sehingga mereka selalu dipinggirkan dan disingkirkan dalam setiap derap langkah pembangunan.

Masih banyak lagi nilai-nilai kepahlawanan yang perlu digali untuk diwarisi oleh generasi penerus perjuangan bangsa, baik di masa kini maupun di masa  mendatang. Kearifan dan kesadaran generasi penerus untuk mewarisi nilai-nilai luhur yang telah diperjuangkan para pendiri bangsa ini  adalah sebuah keniscayaan.

Meletakkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi/ golongan: Sikap tersebut saat ini hampir bisa dikatakan tinggal slogan. Padahal, nilai-nilai ini  diagungkan oleh para pahlawan dalam upaya mendirikan negeri ini. Apalagi dalam iklim otonomi daerah dan liberalisasi politik dan ekonomi saat ini, telah muncul manusia-manusia primordalis individualistic. Kepentingan pribadi, kelompok, golongan, daerah telah mengalahkan kepentingan bangsa dan Negara.

Faris meluangkan kepentingan pribadi untuk kepentingan orang banyak

Mencintai rakyat dan bangsa: bukti cinta para pahlawan kepada rakyat dan bangsa adalah kerelaan mereka mengorbankan harta benda bahkan nyawa. Pengorbanan mereka semata-mata hanya untuk sebuah kemerdekaan dan kemakmuran rakyat dan bangsanya. Rela berkorban untuk kepentingan Negara dan bangsa itu adalah sikap yang dimiliki para pahlawan sendiri bangsa ini. Namun, sikap  seperti itu saat ini seperti itu saat ini sepertinya sudah makin langka. Bahkan kalangan elit politik  justru “rela mengorbankan” rakyat dan bangsanya demi  ambisi pribadi dan kelompoknya.

Menghindari ketergantungan pada bangsa lain: Perjuangan para pahlawan dilandasi semangat dan sikap ingin mendirikan Negara dan bangsa yang merdeka dan mandiri. Namun, saat ini para elit politik justru membuat kebijakan yang menggantungkan diri pada pihak asing. Mereka menumpuk hutang  luar negeri dan menggadaikan Negara dan tanah airnya kepada  pihak asing.

Masih banyak lagi nilai-nilai kepahlawanan yang perlu digali untuk diwarisi oleh generasi penerus perjuangan bangsa, baik di masa kini pun di masa mendatang. Kearifan dan kesadaran generasi penerus untuk mewarisi nilai-nilai luhur yang telah  diperjuanngkan para pendiri bangsa ini adalah sebuah keniscayaan.

Para generasi tua harus “menjadi” bukan sekedar “memberi” teladan. Seiring dengan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, makin sulit mencari pemimpin yang bisa dijadikan teladan bagi pewaris nilai-nilai kepahlawanan.

Keteladanan kunci keberhasilan penanaman nilai-nilai kepahlawanan: Para pejuang, perintis, dan pendiri Negara ini, telah mewariskan nilai-nilai kepahlawanan kepada bangsa Indonesia. Nilai-nilai yang amat mulia tersebut harus tetap terpatri dalam sanubari bangsa Indonesia. Jika bangsa ini menghendaki tetap tegaknya Negara Indonesia, jika bangsa ini menghendaki tetap tegaknya Negara Indonesia. Nilai-nilai tersebut harus diwariskan dari generasi ke generasi dan diejawantahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk itu, dituntut adanya keteladanan dari para elit politik, tokoh masyarakat, para guru, dan orang tua. Keteladanan yang dimaksud adalah bahwa para generasi tua harus “menjadi” bukan sekedar “memberi” teladan. Seiring dengan perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, makin sulit mencari pemimpin yang bisa dijadikan teladan bagi pewaris nilai-nilai kepahlawanan.

Kondisi seperti ini jika dibiarkan terus-menerus niscaya berakibat sangat fatal. Nilai-nilai kepahlawanan yang mestinya melandasi dan mendasari dan mendasari sikap dan perilaku setiap komponen bangsa dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara kini justru digantikan oleh nilai-nilai materialistic, individualistic, konsumerisme, hedonistic, dan nilai-nilai lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa. Kewarisan dan pelestarian nilai-nilai kepahlawanan dan keteladan  dari para pemimpin mutlah diwujudkan, bukan sekedar dibicaraakan!!!