Merenungi Kembali Surah Al-Ma’un

0
147

Siapa yang tidak kenal  dengan surah Al-Ma’un? Saya rasa seluruh kaum muslim telah menghafal dan membacanya dalam shalat. Tetapi apakah dari seluruh muslim telah memahami kandungannya? Jika sudah, apakah telah menerapkan kandungan surah Al-Ma’un dalam kehidupan? Mari bertanya pada diri sendiri.

Kampusdesa- Sebelum membahas lebih dalam, alangkah baiknya jika kita telusuri dahulu latar belakangnya. Surat ini menurut sebagian riwayat tergolong dalam surat Makkiyah. Tetapi, menurut riwayat yang lain tergolong Makkiyah dan Madaniyah. Tiga ayat pertama tergolong Makkiyah, sedangkan sisanya tergolong Madaniyah. Pendapat yang kedua lebih diunggulkan, sebab sebagian topik yang dibicarakannya termasuk topik-topik Al-Qur’an yang tergolong Madani, yaitu berkaitan  dengan kemunafikan dan riya yang belum dikenal di dalam jamaah muslim Mekkah. Betapa pun, surah ini secara keseluruhan merupakan satu kesatuan yang terpadu.

Diceritakan bahwa ada tokoh musyrik di kota Mekkah yang bernama Abu Sufyan yang selalu menyembelih unta setiap minggunya dan dia membagi-bagikan kepada teman-temannya. Ketika itu datanglah seorang anak yatim yang mampir untuk meminta sedikit daging, tetapi malah didorong hingga jatuh. Riwayat lain berkata bahwa yang mendorong ialah Abu Jahal. Maka turunlah surah ini.

Sedangkan menurut Shaleh dan pendapat ini juga senada dengan yang diungkapkan oleh Ibnu Abbas mengungkapkan bahwa di dalam suatu riwayat, ayat ini (Qs. Al-Ma’un:107) turun berkenaan dengan kaum munafik yang suka mempertontonkan shalatnya kepada kaum mukminin dan meninggalkannya apabila tidak ada yang melihatnya serta menolak memberikan bantuan ataupun pinjaman. Hemat  saya, surah Al-Maun mengandung suatu bentuk ancaman  keras terhadap orang-orang yang tidak mempercayai hari akhirat seperti dilakukakn oleh Abu Sufyan dan orang-orang munafik.

Sekarang mari berkaca diri. Sudahkah kita mempercayai hari akhirat itu? Mungkinsecara spontan akan menjawab ‘ya’. Tapi di dalam  hati kecil saya mengatakan bahwa tidak semua yang mengatakan ‘ya’ untuk benar-benar mengaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Atau kalau boleh di bilang, belum mengaplikasinkannya secara menyeluruh.

Apakah di dalam diri kita masih ada  sifat-sifat seperti Abu Sufyan? Dia melakukan kebaikan hanya untuk mendapatkan posisi (jabatan) tertentu di kalangan petinggi-petinggi Mekkah. Maka alangkah wajar jika dia berlaku kasar terhadap anak yatim yang ingin meminta makanan tersebut (perhatikan kembali ayat kedua).ini bagaikan dia berkata, “Hmm… hadiah-hadiah ini diberikan supaya di saat-saat tertentu saya bisa mendapatkan posisi jabatan yang tinggi” dan atau “gak ada keperluan sedikit pun dengan orang-orang yang lemah. Itu derita yang harus mereka tanggung sendiri”. Coba kita alihkan ke dalam diri masing-masing. Adakah  sifat-sifat yang seperti di atas masuk ke dalam pribadi kita? Seperti memberi hadiah kepada guru supaya mendapat nilai besar, menghambur-hamburkan uang untuk pesta sedangkan masih banyak orang yang membutuhkan, dan lain sebagainya.

Perhatikan kembali redaksi dalam ayat ketiga. Di sana Allah sangat memahami bahwa tidak semua orang mampu untuk memberikan makanan kepada orang miskin, makanya Allah hanya menyruh setiap orang wajib saling menganjurkan satu sama lain untuk memberi makan oaring miskin.

Sifat buruk lainnya yaitu enggan menganjurkan orang lain untuk memberi makan orang-orang miskin. Perhatikan kembali redaksi dalam ayat ketiga. Di sana Allah sangat memahami bahwa tidak semua orang mampu untuk memberikan makanan kepada orang miskin, makanya Allah hanya menyruh setiap orang wajib saling menganjurkan satu sama lain untuk memberi makan oaring miskin. Sudahkah kita melakukan hal itu? Kalau belum, lakukanlah segera. Anjuran ini bukan berarti kita merasa puasa setelah menyuruh orang lain memberi makan orang miskin. Karena selagi masih mampu, maka kewajibannya adalah untuk memberi, bukan menganjurkan orang untuk memberi. Ingat!

Kita selaku hamba yang lemah tidak pantas berbangga dengan amal-amal yang telah dilakukan, terlebih lagi kita tidak bisa memastikan semua itu telah diterima. Cukup bagi kita untuk terus meningkatkan kualitas sesembari berdoa supaya amal kita diterima di sisi-Nya.

Berlanjut ke ayat selanjutnya. Ada dua sebab mengapa  orang yang sudah shalat tetap diancam celaka atau masuk neraka. Menurut ahli tafsir, pertama karena orang itu sering malalaikan waktu shalat dengan melakukan aktivitas yang tiada berguna, seperti berhela-hela hingga waktu shalat hamper habis (shalat di akhir waktu). Kedua, karena lalai dalam subtansi shalatnya. Memang benar mereka takbir, rukuk, iktikad, sujud tetapi hati mereka tidak hidup bersama shalatnya. Roh-roh mereka tidak menghadirkan hakikat shalat dan hakikat bacaan-bacaan, doa-doa, serta zikir-zikir yang ada di dalam shalat. Shalatnya hanya merupakan gerakan-gerakan rutinitas yang biasa dilakukan, tanpa adanya penghayatan, dan tidak pula menikmati pengaruh shalatnya. Biasanya itu karena mereka telah menghafal kalimatnya (bacaan), sedangkan maknanya tidak dimengerti. Dosen saya berkata ‘janganlah shalat dulu (memulai takbir) kalau diri kalian belum sadar ingin melakukan shalat. Sdarilah dulu bahwa kalian benar-benar ingin berhadapan dengan-Nya’.

Ayat ini amat keras ancamannya. Menyindir sekian banyak orang yang sering menunda-nunda shalat, atau orang yang shalat tetapi hanya karena sebuah rutinitas belaka tanpa mengerti apa yang dibaca.

Sungguh, ayat ini amat keras ancamannya. Menyindir sekian banyak orang yang sering menunda-nunda shalat, atau orang yang shalat tetapi hanya karena sebuah rutinitas belaka tanpa mengerti apa yang dibaca. Tidak tanggung-tanggung Allah Swt. Memasukkannya ke dalam kelompok orang yang celaka/ masuk neraka.

Ayat selanjutnya mengecam orang-orang yang riya dalam shalatnya. Riya dapat diartikan sebagai mengharapkan sesuatu yang bersifat duniawi melalui ibadah.dan makna awal dari kata ini adalah mencari kedudukan  atau pujian di hati manusia. Karena penyakit riya ini sangat halus, mudah terselip di dalam hati, hingga sering kali tidak sadar telah merasuk ke dalam jiwa kita.

Seperti mamanjangkan atau mengiramkan bacaan shalat. Pernakah kita berlaku demikian? Ketika kita dipilih menjadi imam, bacaan dipanjang-panjang bahkan sering kali diramaikan supaya dikata hebat, tetapi ketika sedang shalat sendiri malah di persingkat. Salah satu guru saya pernah berguyon, “kalau lagi shalat bersama mertua, bacaan dipanjang-panjangkan, eeh pas shalat sendiri mah cepat pisan… hehe.” Amat tercela perbuatan riya hingga Allah mengancam dengan api neraka.

Ayat yang terakhir, secara tidak langsung telah memberi tahu kepada kita bahwa keengganan memberi bantuan merupakan efek dari tidak memahami substansi shalat.

Sedangkan ayat yang terakhir, secara tidak langsung telah memberi tahu kepada kita bahwa keengganan memberi bantuan merupakan efek dari tidak memahami substansi shalat. jika diperhatikan, semua ibadah-ibadah ritual akan dapat dikatakan berhasil setelah si pelaku menerapkannya dalam khidupan. Inilah yang dinamakan kesalehan social.  Bagaimana mungkin orang yang memahami substansi shalat, enggan memberikan bantuan? Rasulullah saw, dan paara sahabatnya adalah orang-orang yang sangat memahami substansi shalat. maka dari itu mereka tidak segan-segan untuk memberikan bantuan kepada sesama.

Surat Al-Ma’un memaparkan begitu gamplang ciri-ciri orang yang mendustkan agama. Mestinya menjadi hak mutlak saudara-saudaraku aktktivis dakwah untuk berkaca diri, sudahkah  kita terlepas dari golongan  orang yang mendustkan agama? Semoga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here