Merawat yang Dirawat

0
97

Aku tak lagi mampu menyembunyikan gerimis di hatiku ketika momy memaksaku untuk melakukan hal yang tidak ku inginkan. Namun demikian, ku lihat matanya berkaca-kaca saat sesekali aku membantah ucapannya. Sungguh, tiada niat untuk melukai hatinya, hanya saja, terkadang aku tak pandai mengekspresikan apa yang ada di benakku dengan ucapan yang baik.

KampusDesa“Ah kamu mah emang nggak pernah bisa diandelin.” Komentar momy yang selalu dikatakan bila aku gagal mengerjakan tugasnya.

Seperti meletus balon hijau, hatiku sangat kacau; sedih, gelisah, galau, merana. Tak jarang bila emosiku tak terkontrol, aku langsung mengatakan, “Stop momy! Jangan katakan itu terus menerus! Ucapanmu adalah doa untukku.”

Namun, itu tak membuat momy jera. Justru kondisi semakin rumit lantaran momy yang selalu merasa benar. Aku tahu, tak ada wanita yang ingin disalahkan. Selalu merasa dan ingin benar sendiri. Tapi, tidak seharusnya momy melakukan itu padaku. Mengapa momy tidak memposisikan dirinya sebagai ibu? Ibu yang selalu menjadi pelipur lara bagi anaknya.

Dan saat ini pun yang terjadi, kembali seperti itu. Momy memintaku untuk cuti bekerja, agar waktu itu dapat digunakan untuk mengantar adikku ke pondok pesantren. Sebab, waktu yang ditetapkan oleh pondok pesantren adikku, posisi momy sudah tidak lagi di Indonesia. Melainkan di Mekkah dan Madinah untuk beribadah pada-Nya.

###

“Kalau nganterin adikmu nggak bisa, seenggaknya kamu ikut nganter momy sampai bandara.”

“Iya kak, lagi pula semua paman dan bibi nganterin aku dong sampai ke pondok.”

“Oh gitu, yaudah kalau gitu kakak tetap bekerja ya. Lagi nggak ada yang bisa diminta bantuan, bahkan cutiku nggak di-acc.”

“Jangan, kakak harus ikut nganter momy dan dady sampai bandara, sama aku.” Pintanya dengan merengek

“Kakak kerja sayang.” Usahaku menenangkan, nihil.

“Yaudah nanti uang saku adikmu momy titip sama tantemu. Jangan sampai uangnya momy kasih ke kamu, eh kamunya tak ikut.”

“Yaudah, kan’ kakak mah tidak bisa diandelin. Ya beginilah jadinya, mungkin ini jawaban atas doa-doa yang selama ini disebut.” Ucapku dengan suara sedikit gemetar. Aku tak sampai hati mengatakan itu, hingga akhirnya air mata membasahi pipi.

“Jangan membesarkan masalah, tapi cari solusi. Dimatamu momy selalu salah, pinternya kamu bukan karena momy.” Seru momy yang juga pecah air matanya.

“Solusi itu bukan dicari, karena pertolongan-Nya lebih dekat daripada jarak antara kening dengan tempat sujud. Kalau momy selalu mencari solusi, akhirnya momy nggak pernah instropeksi diri. Makannya, momy nggak bisa melihat kalau ini adalah sebuah pembelajaran. Pelajaran agar momy tidak berkata sembarangan.” Kali ini suaraku pecah dengan isak tangis dengan nada tinggi, tanpa sadar.

“Coba tanyain rekan-rekan yang lain, barangkali ada yang mau tukeran jadwal.” Pintanya dengan suaranya kembali seperti semula, seolah menemukan ide baru, padahal gagasan itu sudah kulakukan jauh sebelum ia berkata.

“Lagi nggak ada yang bisa, kakak juga yang salah karena dadakan. Karena kakak pikir kepala akan acc cutiku, ternyata cutinya dapet tapi bukan di tanggal yang kakak minta.” Ujarku menjelaskan, lalu melanjutkan kembali, “Yaudahlah, emang kenapa sih kalau kakak tetep kerja?”

“Nah, kalau gitu, kamu nyamperin momy dan dady di asrama haji ya.”

Nyamperin? Untuk apa? Perpisahan? Ah dasar orang tua yang nggak pernah mau mengakui kesalahan. Berpisah denganmu adalah hal yang sangat kuinginkan. Pergilah! Aku lelah dengan semua keplin-planan-mu!

Yang ditunggu tak bersua, akhirnya momy kembali berkata, “Ya itu pun kalau kamu mau temui kami.” Ujarnya dengan nada pilu, tangannya beberapa kali menyeka air mata, berusaha menutupi tangisannya semakin menjadi.

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah