Merangkai Sejarah

0
137

Ada apa dengan sejarah? Perasaan, sejarah tak begitu penting. Ia hanya berkisah tentang peristiwa, manusia, tanda-tanda, lalu selesai. “Apa sih guna sejarah?” Tanya seorang kawan, “ngapain kita ngapain tanggal dan tokoh padahal nggak berguna buat masa depan kita! Iya kan?”

Kampusdesa- Ketika mendengar pernyataan itu, pikiran kita seakan diajak mengangguk. Memang, jika sejarah tidak dimaknai, sejarah tidak ada artinya. Sama sekali. Maka benarlah kata seorang pemikir, bahwa “seluruh peristiwa yang terjadi memang tak ada harganya, manusialah yang memberi harga dan makna atas peristiwa-peristiwa itu”.

Artinya, jika kita mencoba melihat apa yang tak bisa dilihat orang kebanyakan, di situlah letak harga sejarah yang tak ternilai. Sejarah tidak punya arti bagi manusia yang hanya menghafal tanggal dan tahun. Namun, sejarah punya makna besar, bagi mereka yang ingin merangkai sejarah. Ya, merangkai sejarah!

“Sejarah memberikan kepada seseorang lebih dari sekedar informasi, “tulis Ustadz Felix Y. Siauw dalam bukunya Muhammad Al-Fatih 1453, “ia menyusun cara berpikir seseorang saat ini dan menentukan langkah apa yang akan dia ambil pada masa yang akan datang.” Nah, Kawan, begitulah sejarah berfungsi, bagi mereka yang memaknai, bagi mereka yang ingin turun tangan merangkai sejarah. Membuat sejarah!

Berfikir tidak akan bisa terwujud, kecuali dengan adanya informasi terlebih dahulu.

Seperi diutarakan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam bukunya At-Tafkir, “Berfikir tidak akan bisa terwujud, kecuali dengan adanya informasi terlebih dahulu.” Ya, informasi itu adalah sejarah. Mari kita buka lembaran biografi tokoh-tokoh besar yang menorah nama cemerlang di jagat sejarah.

Hyu-Jung, yang sekarang kita kenal sebagai pemilik Hyundai, adalah pengemar sejarah Napoleon Bonaparte. Cara hidup Napoleon, gaya memimpinnya, keuletannya, dan keramahannya pada bawahan menjadi acuan dasar bagi Hyu-jung menciptakan sejarah besar bernama Hyundai Co. Ltd.

Sama juga ketika kawan melihat buku Tarikh al-Khulafa’ karangan Imam Suyuthi, akan ada kesamaan proses hidup antara khalifah-khalifah yang pernah singgah di panggung sejarah. Masa muda mereka dihiasi dengan mendalami biografi pendahulunya, mencermati kehidupan generasi Nabi dan shabatnya. Karena dari  sejarah, mereka dituntut zaman untuk menciptakan sejarah  baru. Karena mereka akan menapaki jalan yang sama, jalan yang telah dilalui pendahulunya. Karena mereka akan meneruskan pembangunan menara kejayaan yang pasaknya ditata para dahulu sejarah.

Termasuk yang satu ini, Sulthan Muhammad al-Fatih bin Murad II, penakluk konstantnopel pada tanggal 29 Mei tahun 1453. Gurunya , Syaikh Aaq Syamsudin, menuliskan banyak nama-nama  besar untuk dihafalkan dan dimaknai oleh Muhammad muda. Selalu ketika belajar, Syaikh Aaq Syamsuddin menjelaskan riwayat kehidupan Nabi Muhammad, shabatnya, perang-perang fenomenal yang dilalui beliau. Tersebutlah juga pendahulunya, Sultan Shalahudin al-Ayyubi, pendiri Dinasti Ayyubi yang menggemparkan dunia dengan membebaskan Al-Quds dari cengkeraman kerajaan Salib yang menguasai Palestina selama 100 tahun.

Ada satu fakta konkret sejarah yang punya nilai tersendiri bagi Sulthan Muhammad. Nilai sejarah itu ia gunakan sebagai salah satu taktik perangnya dalam membebaskan kota  yang digelari The Perfect Defense ini, Konstantnopel maksudnya.

Ada satu episode besar yang membuat Eropa gempar kala itu. Taktik perang Al-Fatih yang “tak masuk akal” menjadikan sejarawan berlomba-lomba untuk mengabadikannya dalam tulisan-tulisan mahakarya mereka.

Bagaimana mungkin, 72 kapal perang raksasa dipindahkan dari sisi laut yang satu laut yang laindalam satu malam. Yang fenomenal, berpindahnya bukan melalui laut, Kawan, sebanyak 72 kapal itu dipindahkan lewat bukit-bukit tinggi yang jaraknya 1,5 kilometer. “Sebuah pemandangan yang terlalu luar biasa untuk disaksikan,”ungkap Kritovolus, “kapal-kapal di Tarik melalui jalan darat seolah-olah dia sedang berlayar di lautan lengkap dengan wak, layar dan seluruh perlengkapannya.”

Setelah disinyalir dari  sisi sejarah, taktik ini ternyata digunakan terlebih dahulu oleh Shalahudin al-Ayyubi yang memindahkan kapal-kapal dayung dari Fustat menuju laut merah di  abad ke-12. Sultan Muhammad terilhami dari sejarah besar itu, kemudian menciptakan sejarah baru. “Itu adalah sebuah pencapaian yang menjubkan dan strategi bermutu tinggi dari taktik  pertempuran laut,” tutur Melissenos, seorang penulis Yunani.

Ada sebuah pesan dari Ali bin Abdurrahman bin Hudzail al-Fazari, “Ketahuilah, bahwa membaca kisah-kisah dan sejarah tentang orang-orang yang memiliki keutamaan akan memberikan kesenangan dalam jiwa seseorang. Kisah-kisah tersebut akan melegakan hati serta mengisi kehampaan. Membentuk watak yang penuh semangat dilandasi kebaikan serta menghilangakn easa malas.”

Manusia dalam Dua Pilihan: “Ada dua jenis manusia di dunia ini,” tulis Maulana Wahiduddin Khan, tokoh psikolog Muslim India yang mencipta 200 buku, dia mengatakan hanya dua pilihan yaitu, “manusia yang membuat kisah pribadi dan manusia yang membuat sejarah.” Ya, dari semua manusia yang ada, yang pernahh dan masih hidup, ada dua pilihan baginya. Bagi mereka yang membuat kisah prribadi, maka dipastikan mereka hanya mencari kesenangan pribadi. Maka dipastikan mereka hanya mencari kesenangan pribadi. Berbeda dengan sang pembuat sejarah. Mereka yang membuat sejarah adalah contributor terdepan bagi kesejahteraan manusia dan sekelilingnya.

Pembuat kisah pribadi menulis kisah hidupnya dengan kepuasan materi. Para perangkai sejarah menulis kisah hidupnya dengan melayani, menebar manfaat, dan menginspirasi.

“pemimpin umat bukanlah orang yang misterius yang tiba-tiba ada. Tidak diangkat secara dadakan lewat aklamasi atau pengumpulan suara. Ia lahir sejak lahirnya perjuangan itu sendiri. Hidupnya di kancah perjuangan dan hidupnya hanya untuk berjuang. Ia tidak bisa dipisahkan dengan umat, walaupun disa dibedakan. Tiada pembagian waktu yang jelas kapan untuk  pribadinya, kapan untuk umatnya. Kepentingan umatnya adalah kepentingan pula.”

kepuasan bagi pembuat kisah pribadi adalah manakalah ia bisa menggapai keinginaannya. Jika ia senang itu sangatlah cukup baginya. Sementara orang-orang yang menahan lapar di kanan-kirinya tidak dihiraukannya.

Untuk kalian yang rindu perubahan, kepuasan bagi pembuat kisah pribadi adalah manakalah ia bisa menggapai keinginaannya. Jika ia senang itu sangatlah cukup baginya. Sementara orang-orang yang menahan lapar di kanan-kirinya tidak dihiraukannya. Kepekaannya melihat saudaranya sudah beku, dan perlahan mati. Dia mengorbankan apa saja miliknya untuk meraih kepuasan diri. Jika kawan ingin merdeka di lingkungan kita sendiri, lihatlah wakil-wakil rakyat yang mendengungkan janji dengan menebur miliaran rupiah. Setelah jadi, ia tak berpikir bagaimana nasib rakyatnya. Ya, ia hanya terfokus pada satu tujuan: bagaimana uangnya kembali, bahkan berlipat-lipat kali.

Pemilik majalah islami yang terus-terusan menebarkan artikel keislaman walau kadang meneguk kerugian besar. Bagi perangkai sejarah, materi tak berarti, asalkan ideology mereka tersalurkan, maka itulah kebahagiaan sejati.

Siapa perangkai sejarah hari ini? Itulah, sebagaimana kita pahami dari sabda Nabi bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Adalah mereka yang memimpin rakyatnya tanpa menoleh harta dunia, mereka rela menahan lapar asalkan rakyatnya kenyang. Kesudahan yang mulia bagi mereka, sang perangkai sejarah. Adalah pemilik majalah islami yang terus-terusan menebarkan artikel keislaman walau kadang meneguk kerugian besar. Bagi perangkai sejarah, materi tak berarti, asalkan ideology mereka tersalurkan, maka itulah kebahagiaan sejati.

Sama seperti Maulana Wahiduddin Khan menuturkan, “Yang menjadi perhatiannya adalah prinsip, bukan keuntungan. Dia tidak peduli apakah dirinya akan meraih kemenangan atau menderita kerugian, yang penting adalah idealismenya harus tersalurkan.” Contoh konkretnya juga  kita lihat bersama di masyarakat, wakil rakyat di parlemen, tetapi minoritas. Mereka mewakafkan diri untuk berjihad di jalan Allah lewat perumusan undang-undang. Bagaimana agar hukum Islam di goal kan menjadi undang-undang Negara, itu pergerakannya. Mereka menginfakkan  banyak dana untuk kemajuan Islam di ranah politik dan social. Walau harus menderita pedih di fitnah, bahkan diturunkan dari kursi kekuasaan, mereka tak tengah. Justru itulah awal yang baru bagi gerakan besar membela kebenaran.

Untuk kalian yang rindu perubahan, satu-satunya jalan untuk menjadi pembuat sejarah adalah dengan meninggalkan gelar “Pembuat kisah pribadi”, terlebih bagi agen-agen perubahan. Mari berpikir dan mengembalikan kesadaran bahwa hidup hanya sekali, sedangkan hidup yang yang singkat ini adalah sawah luas untuk ditanami amal-amal. Jika kita biarkan lading kita kosong, akhirat terasa begitu hampa bagi kita. Hidup hanya sekali, mengapa hanya mementingkan diri? Mari membuat energi untuk kebangkitan umat yang islami. Selamatkan negeri, lalu tebar manfaat di sana-sini.

Akhirnya, sejarah akan terukir begitu indah, seindaah perjalanan hidup kita nanti yang menambah kearifan generasi  sesudah kita. Percayalah!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here