Menyikapi Suka Duka Merawat Orangtua

0
959
Ilustrasi : relasi perawatan. (diambil dari kompas.com dari arsip Garda Oto)

Di antara permasalahan sosial yang kerap membuat miris hati adalah nasib memprihatinkan para lansia. Alih-alih menikmati masa tua, banyak lansia yang hidupnya justru terlunta-lunta. Anak-anak yang mereka besarkan tak lagi mempedulikan. Sungguhpun secara norma maupun dalam syariat agama merawat mereka merupakan kewajiban anak. Nyatanya, masih banyak anak yang menelantarkan orangtuanya. Mengapa blessing in disguise ini terabaikan begitu saja?

kampusdesa.or.id—Perawatan orangtua di berbagai negara mempunyai perbedaan satu sama lain. Di belahan bumi Eropa misalnya, pemerintah bertanggung jawab terhadap perawatan orangtua pasca produktif. Pemerintah, di bawah badan sosial yang mengurus para orangtua sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa-jasa mereka semasa masih produktif.

Selain itu pengaruh culture atau budaya membuat orangtua di negara-negara tersebut merasa malu untuk ngenger  (tinggal bersama anak dan menjadi tanggungannya). Maka tidak lazim kita temui ada orangtua yang dirawat anaknya. Biasanya para orangtua tinggal di rumahnya sendiri, di bawah pengawasan badan sosial atau tinggal di panti-panti yang khusus merawat orang-orang yang sudah sepuh atau lanjut usia (panti jompo).

“Dalam agama Islam berbuat baik kepada orang tua tingkatannya setelah beriman kepada Allah”

Berbeda dengan negara-negara Eropa, di Asia dan negara-negara Amerika Latin perawatan orangtua menjadi tanggung jawab anak-anaknya. Anak-anaklah yang sepenuhnya merawat dan membiayai perawatan orangtua. Anak adalah tumpuan harapan orang tua yang akan merawat ketika mereka berusia lanjut. Kewajiban ini juga diperkuat dengan aturan agama yang membebankan perawatan orangtua kepada anak. Bahkan dalam agama Islam berbuat baik kepada orangtua tingkatannya setelah beriman kepada Allah. Perilaku anak dan kata-kata yang tidak boleh diucapkan demi menjaga perasaan orang tua diatur sedemikian rupa. Tidak heran bila kemudian muncul cerita-cerita tentang akibat tidak berbakti kepada orang tua seperti “Malin Kundang”, “Atu Belah” dan sejenisnya. Hal ini dimaksudkan untuk menyiapkan mental anak dalam berperilaku yang sepatutnya terhadap orang tuanya.

Meski dalam aturan agama Islam perawatan orang tua itu menjadi tanggung jawab anak pertama laki-laki, tapi di masyarakat Jawa perawatan orang tua justru lebih banyak diambil alih oleh anak terakhir perempuan. Anak perempuan dianggap lebih sabar dan telaten merawat orang tua sehingga biasanya orang tua lebih nyaman bila dirawat anak perempuannya.

“Seringkali kritikan pedas dialamatkan kepada si anak dalam hal perawatan hingga menjadi ujian mental tersendiri baginya”

Di sisi lain, merawat orang tua bukanlah pekerjaan mudah. Butuh kesabaran ekstra, mengalokasikan waktu, dan biaya. Mengapa dikatakan kesabaran ekstra? Karena seiring bertambahnya usia, fungsi-fungsi tubuh manusia semakin berkurang kemampuannya sehingga mengganggu keleluasaan dalam beraktifitas maupun berfikir akibat penurunan daya kerja otak. Belum lagi bila disertai dengan gangguan penyakit semisal diabet, stroke, pikun dan lain-lain. Tentu perawatan semakin sulit karena membutuhkan biaya untuk pengobatan dan butuh waktu lebih untuk merawatnya.

Bukan hanya itu, seringkali kritikan pedas dialamatkan kepada si anak dalam hal perawatan hingga menjadi ujian mental tersendiri baginya. Alih-alih memberikan dukungan, seringkali komentar yang muncul justru lebih banyak cacian daripada pujian. Hal ini sering membuat si anak menjadi down.

”Seorang ibu bisa merawat sepuluh anak tapi sepuluh anak belum tentu bisa merawat seorang ibu”

Ketika anak merasa down, tak jarang mereka menyerah. Ditambah lagi dengan sikap orangtua yang kembali seperti anak-anak, sulit diatur dan cenderung semaunya sendiri. Meski tidak semua orang tua begitu. Umumnya orangtua lebih suka tinggal di rumahnya sendiri dibanding tinggal di rumah anaknya, bagaimanapun keadaan rumahnya. Hal ini tentu menyulitkan anak dalam merawat orangtuanya sebab anak juga punya tanggung jawab terhadap keluarga dan pekerjaannya. Itulah mengapa sering menjadi sebab  saling iri antar anak dalam merawat orangtuanya. Maka yang terjadi kemudian orang tua seperti terabaikan, tidak terurus dengan baik. Tidak heran bila ada pepatah ”seorang ibu bisa merawat sepuluh anak tapi sepuluh anak belum tentu bisa merawat seorang ibu”.

“Tanggung jawab ini tidak hanya menyangkut pembiayaan, tapi juga perhatian dan kasih sayang. Jangan sampai anak yang secara materi berlebih hanya mengirimkan uang tanpa turun tangan merawatnya”

Melihat fenomena di atas, sudah sepatutnya ada kerja sama dan komunikasi yang bagus diantara anak. Perawatan orang  tua semestinya menjadi tanggung jawab semua anaknya. Tanggung jawab ini tidak hanya menyangkut pembiayaan, tapi juga perhatian dan kasih sayang. Jangan sampai anak yang secara materi berlebih hanya mengirimkan uang tanpa turun tangan merawatnya. Diperlukan pembagian tugas yang adil sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing anak. Komunikasi yang efektif antar anak sangat diperlukan sehingga terjalin kerjasama yang baik.

Lalu bagaimana dengan peran serta orang-orang di sekitarnya? Hindari “nyinyir”. Kunjungi mereka, hiburlah dengan kata-kata yang menyejukan agar kesabarannya meningkat. Bila perlu bantulah sesuai kemampuan. Bantuan tidak harus berupa materi. Bisa juga dalam bentuk perhatian, seperti mendengarkan keluh kesah orang tua, mengingatkan apa-apa yang perlu dilakukan si anak semisal kapan harus ke Posyandu lansia, memberikan trik-trik khusus menghadapi masalah perawatan dan lain sebagainya.

Satu hal yang perlu diingat, jangan terlalu responsif terhadap keluhan-keluhan orang tua. Cukup dengarkan saja. Karena umumnya yang dikeluhkan adalah hal-hal yang berkaitan dengan perawatan yang dilakukan anaknya, atau kadang orang tua menginginkan perhatian dari orang lain. Menjaga perasaan anak yang merawat pun juga sangat diperlukan.

“Alangkah tidak manusiawinya kita bila orang tua yang telah mencurahkan kasih sayang, perhatian, dan bekerja keras demi anak-anak serta berperan penting menyokong kemajuan masyarakat tersia-siakan di masa tuanya”

Kerja sama yang baik antar anak dan peran serta lingkungan sekitar atas perawatan orang tua diharapkan bisa menjadi pilar penguat sehingga perawatan orang lanjut usia dapat berjalan sesuai yang diharapkan. Alangkah tidak manusiawinya kita bila orang tua yang telah mencurahkan kasih sayang, perhatian, dan bekerja keras demi anak-anak serta berperan penting menyokong kemajuan masyarakat tersia-siakan di masa tuanya.