Menyibak Intan yang Tersembunyi pada Masyarakat Desa

Puspitasari, mahasiswi semester 2 jurusan Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang. Asal Toli-toli, Sulawesi Tengah. Peserta Magang 2019.

0
171
damai di desa

Tanpa kita sadari, seringkali kita menganggap remeh masyarakat desa. Baik kehidupannya, pola pikirnya, atau bahkan pendidikannya. Padahal ada sebuah intan yang tersembunyi yang barangkali ketika kita menyibaknya dengan sempurna, intan tersebut mampu memberikan manfaat bagi semua orang bak hujan yang mengairi seluruh alam. Intan yang dimaksud di sini adalah perihal metode belajar masyarakat desa yang tampak ringan namun padat dan berisi.

KampusDesa–Belajar, secara sederhana diartikan sebagai proses dari tidak tahu menjadi tahu. Setiap manusia melakukan usaha atau metode yang berbeda-beda dalam rangka  menambah pemahaman dan pengetahuan mereka. Berbicara mengenai metode untuk mencapai pemahaman mendalam, kebanyakan dari kita terfokus pada metode-metode yang terlalu rumit seperti olahraga otak, atau membaca secara berulang-ulang sebuah redaksi untuk mendapatkan informasi dan pemahaman secara maksimal. Namun, metode ini terkadang hanya sampai pada konsep teori dan tidak terealisasi dalam bentuk praktek yang seharusnya menjadi hasil akhir dalam proses belajar. Saat kita masih membahas tentang teori-teori tentang kehidupan, masyarakat desa telah jauh lebih dulu mempraktekkan berbagai  ilmu pengetahuan yang kita bahas di bangku-bangku pendidikan formal atau forum-forum ilmiah.

Pengaplikasian dalam kehidupan yang dimaksud pada pembahasan sebelumnya sejatinya meliputi berbagai aspek dari segi sosial budaya, bahkan bidang ilmiah dapat pula kita jumpai dalam kehidupan masyarakat desa. Sebagai contoh dari bidang pengobatan herbal, ketika pihak pemerintah Indonesia baru memulai menggalakkan kembali pemakaian obat-obat herbal kepada masyarakat Indonesia. Sementara masyarakat desa telah lama mengandalkan berbagai tanaman liar di alam untuk menyelesaikan permasalahan yang menimpa mereka.  Contohnya seperti daun coklat sebagai pengobatan luka, daun pepaya sebagai solusi pengobatan malaria.

Masyarakat desa telah sejak dahulu memegang nilai-nilai adat kesopanan dan mengajarkan hal-hal semacam itu sejak usia dini dalam lingkup keluarga.

Selanjutnya ketika mahasiswa membicarakan mengenai degradasi moral dan solusi dalam mengatasinya, masyarakat desa telah sejak dahulu memegang nilai-nilai adat kesopanan dan mengajarkan hal-hal semacam itu sejak usia dini dalam lingkup keluarga. Melalui tulisan ini penulis ingin menyampaikan mengenai pentingnya mempelajari  pola kehidupan masyarakat desa yang sarat akan praktek mendalam terhadap berbagai permasalahan kehidupan yang selama ini kerap menjadi perbincangan dalam berbagai forum diskusi. Tentunya hal tersebut dapat terwujud jika kita mampu terjun langsung dan melakukan pengamatan mengenai kehidupan di desa secara langsung.

Lahir sekitar awal tahun 2000-an, penulis masih merasakan bagaimana pola pendidikan ala-lingkungan desa yang tentunya belum terkontaminasi oleh kemajuan-kemajuan dari segi teknologi atau yang kini familiar dengan sebutan pengaruh zaman milenial. Hal ini merupakan penyebab utama  yang membuat anak-anak desa mampu menyerap dengan baik berbagai informasi yang diajarkan oleh orang tua mereka. Dalam hal ini keterbatasan akses terhadap teknologi ternyata menjadi point plus untuk penerapan metode tersebut, yaitu metode bercerita. Mendengarkan cerita tentu merupakan hal yang terasa menyenangkan yang disukai oleh hampir semua orang. Metode penyampaian informasi secara menyenangkan akan membuat kita menjadi mudah untuk menerima sebuah informasi dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita tentu akrab dengan cerita Malin Kundang, Bawang Putih-Bawang Merah, Si Kancil, dan masih banyak lagi cerita-cerita lain yang tentu tersimpan rapi dalam memori kita.

Tentu kita pernah bertanya dalam hati mengapa cerita tersebut masih melekat walau telah bertahun-tahun lamanya tidak pernah lagi kita dengar. Satu-satunya jawaban dari pertanyaan tersebut ialah karena kita menerima cerita tersebut dengan hati lapang dan perasaan yang gembira sehingga alam bawah sadar kita ikut merekam saat cerita tersebut disampaikan kepada kita. Biasanya setelah membawakan cerita tersebut para orang tua akan menanyakan ibrah atau pelajaran yang dapat kita ambil dari cerita yang baru saja dibawakannya, kemudian ditutup dengan nasehat-nasehat untuk mencontoh maupun menghindari watak dari tokoh-tokoh dalam cerita. Seperti itulah metode pendidikan orang tua untuk menanamkan nila-niai moral bagi anak-anaknya, metode sederhana yang tidak cenderung menggurui.

Metode belajar yang hangat dan tidak kaku merupakan solusi yang dapat kita terapkan pada semua jenis cabang keilmuan.

Sebagai kesimpulan dari tulisan ini, mari kita kembali mengambil pelajaran dari metode belajar yang diterapkan oleh mansyarakat pedesaan yang sarat akan nilai moral dan tentunya lebih menyenangkan. Metode belajar yang hangat dan tidak kaku merupakan solusi yang dapat kita terapkan pada semua jenis cabang keilmuan. Termasuk dalam bidang-bidang sains, jika kita mampu mengemas berbagai teori dan rumus-rumus rumit dalam bentuk sebuah cerita seperti  metode pendidikan yang dilakukan para orang tua kita dahulu.  Tentu hal ini dapat merubah pandangan kita tentang sains menjadi lebih menarik dan menyenangkan serta mampu untuk diingat dalam jangka waktu panjang.

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here