Menulis, Salah Satu Cara Keluar dari Jebakan Psikologis

0
315

Mengawali membuat kalimat pembuka amat sulit bagi penulis pemula. Ketakutan di sana sini juga godaan yang akhirnya kita tidak menulis. Wele-weleh, kalau dipanjangkan masalahnya, selalu ada saja persoalan cara menjadi penulis. Gini saja deh, tidak usah tedeng aling-aling, merdekakan diri Anda lalu ketik atau ambil pena dan menulislah tanpa bayang-bayang kesalahan. Selamat merdeka untuk menulis.

Bagaimana kawan-kawan yang baru mengikuti workshop menulis tanggal 18-19 Mei Lalu. Saya baru sempat ketak-ketik kali ini ya. Coba yang baru mengikuti workshop kampus desa mencermati judul yang saya buat. Saat saya mengikuti panduan yang dibuat oleh mas Edi, saya justru sulit mau membuat tulisan. Beda kali dengan kawan-kawan. Ketika sudah dipandu dengan sistematis oleh mas Edi, ternyata saya macet tidak bisa memulai menulis. Akhirnya juga tidak menulis.

Nah, setelah agak rileks, baru saya menemukan judul tersebut. Yah, menulis itu sebenarnya bisa dimulai dari yang remeh-temeh. Bukan dari yang paling sulit, tetapi memulai dari yang mudah dulu. Begitu juga saat menulis liputan yang sudah terendap lama ini, judul tulisan bagi saya membutuhkan waktu sehingga judul itu menentukan dari sudut pandang apa saya harus menulis sesuatu.

Saya ingin mengambil poin penting dari pertemuan dan membuat judul sebagai fokus tulisan saya yang menjadikan rangkaian berita kegiatan ini lebih mak jleb, nancep di ingatan.

Bagi pemula, menemukan judul menulis juga bisa merepotkan. Meskipun judul itu pendek, judul akan mencerminkan seluruh bangunan berpikirnya. Judul juga merupakan nasib dari sebuah tulisan karena ia membawa konsekuensi daya tarik dari isi tulisan. Oleh karena itu, kembali ke prinsip menulis saja yang remeh temeh, yang mudah, maka membuat judul yang remeh temeh dan mudah juga menjadi resep memulai menulis. Termasuk judul yang saya tulis. Saya ingin mengambil poin penting dari pertemuan dan membuat judul sebagai fokus tulisan saya yang menjadikan rangkaian berita kegiatan ini lebih mak jleb, nancep di ingatan.

{eserta dari Guru PAUD Omah Bocah An-Nafi serius mengikuti latihan menulis

Saya pilih judul itu sekaligus ingin mengulas mengenai hambatan memulai menulis. Selain terpaksa, berbagai keluhan selalu ada dalam kegiatan menulis. Mulai dari kebingungan memulai tulisan sampai aneka kesibukan yang mendera calon penulis pemula. Ini disampaikan baik bagi yang sudah studi S-3 maupun yang guru PAUD yang mereka terjebak dalam berbagai rutinitas menjadi ibu rumah tangga atau bertugas sebagai guru.

Pencapaian Kemerdekaan Pikiran

Memulai menulis adalah memulai melakukan pembebasan diri. Kondisi yang banyak diidamkan oleh banyak orang tetapi sulit dicari momennya. Bagi saya yang waktu itu mengantarkan sesi workhsop kilat menulis, maka saya akhirnya membuat kesimpulan yang bisa saya garis bawahi di menulis itu ternyata tidak lepas dari persoalan psikologis.

Sebagai seorang penulis, hal kunci untuk bisa menulis adalah melakukan pembebasan diri dari kenormalan yang sudah kadung menjerat. Kenormalan aktifitas atau kenormalan mindset kita yang kadung disetir oleh aturan yang mencengkeram. Membebaskan diri berarti kemampuan mencapai pikiran tanpa batas dan tidak dibayang-bayangi oleh pikiran takut. Apa yang dipikirkan bisa dikeluarkan, begitu juga perasaan yang dihayati dikenali untuk mudah dituangkan dalam bentuk tulisan karena sudah tidak ada lagi tabir/penghalang.

Para Pemateri Hebat. Dari kiri : Ulfa Muhayani (Kolumnis Auleea), Atika C Larasati (Penulis Buku Julia Mencari Tuhan) dan Hasan Abdillah (Moderator)

Ketika situasi penghalang pikiran dan hati kita mampu disingkirkan, maka pikiran merdeka itu akan mudah saja dituangkan dibantu jari-jemari kita. Bahkan kita bisa menghayati indahnya ritme keyboard dalam irama lirih yang menjadi semangat

Menulis adalah kondisi yang merdeka. Bebas luar biasa, tidak peduli siapa dan ada dimana tubuh kita. Ketika situasi penghalang pikiran dan hati kita mampu disingkirkan, maka pikiran merdeka itu akan mudah saja dituangkan dibantu jari-jemari kita. Bahkan kita bisa menghayati indahnya ritme keyboard dalam irama lirih yang menjadi semangat bahwa menulis adalah situasi merdeka yang diiringi oleh musik keyboard ketak-ketik.

Kebebasan ini juga didukung oleh kebebasan aktifitas. Kesibukan telah mendikte setiap pikiran dan tubuh manusia untuk patuh pada dunia yang ada di luar kita. Nah, kemampuan membebaskan diri dari kepatuhan eksternal juga menjadi salah satu cara penting untuk bisa memulai. Melawan dan mendapatkan kebebasan dari rutinitas untuk menemukan waktu menuangkan gagasan juga bagian dari kemerdekaan yang perlu dimiliki oleh seorang calon penulis. Kemerdekaan ini juga tidak perlu meninggalkan pekerjaan dan rutinitas, tetapi kemampuan mencuri momen kemerdekaan tersebut.

Nah, jika sudah demikian, kita bisa keluar dari jebakan psikologis dan mendapatkan kesehatan yang bermakna karena momentum kebebasan yang kita rebut dapat dibuat produktif. Tentu kalau sudah bisa menuangkan tulisan, gembiranya bukan main lo…. Kemampuan mendapatkan kemerdekaan dengan aktifitas produktif tentunya merupakan pencapaian kebermaknaan. Itu yang saya rasakan sendiri ketika berhasil menyelesaikan suatu tulisan. Bener, bahagia banget.

Sehat Mental, Dari Takut Kritik menjadi Hidup Lebih Bermakna

Saya jadi ingat kata-kata Achmidah, seorang guru di Kabupaten Malang. Achmidah mengatakan, sebelumnya dia mampu menulis penuh semangat hebat. Bahkan satu bulan sebelumnya bisa menulis rutin. Namun, ketika tulisannya mulai dibagikan ke khalayak, kegalauan perlahan mulai mengganggu produktifitas menulis. Dia mulai ragu tulisannya tidak pantas, kurang positif karena masih ada tulisan lain yang baik-baik.

Perasaan ini menguasai penulis pemula dan menjadikannya semakin ciut, apalagi di group WA menulis, beberapa penulis yang sudah mahir selalu tang ting tung mengirim tulisan yang dahsyat abis. Hati dan pikiran semakin menciut betul jadinya. Begitulah bayangan saya.

Bahkan, ada yang njapri ke saya dengan memberi informasi, “pak rektor (rektor abal-abal lo, jangan percaya), saya tidak Pede kalau langsung memosting di group tulisan saya, sebelum saya kirim, mohon dikoreksi dulu nggih.” Begitulah beberapa contoh bagaimana tulisan itu menjadi beban psikologis tersendiri ketika sudah diproduksi ?

saya sudah bisa menerapi diri saya sendiri. Jikalau tulisan sudah saya lempar ke publik atau ke media, jika dikritik atau tidak masuk nominasi dipublis, ya saya akan menulis lagi dan menulis lagi.

Sepertinya tulisan yang sudah jadi itu melahirkan godaan rasa bersalah. Tidak hanya mereka para penulis pemula. Saya pun demikian hingga hari ini. Tetapi saya sudah bisa menerapi diri saya sendiri. Jikalau tulisan sudah saya lempar ke publik atau ke media, jika dikritik atau tidak masuk nominasi dipublis, ya saya akan menulis lagi dan menulis lagi. Kebahagiaan saya, yang penting saya sudah bisa menulis satu artikel maka sudah cukup bermakna hidup saya. Di sini saya kemudian menganggap jauh lebih sehat dan bermakna karena saya mampu memroduksi tulisan. Hal ini jauh lebih membanggakan daripada memikir merasa selalu salah atau dikritik orang karena dianggap tidak baik.

Apapun yang kita hasilkan dari tulisan kita, saya kira selalu ada celah dan kekurangan. Maka dengan mengubah cara berpikir merasa kurang baik menjadi bebas saja, yang penting menulis berarti pribadi kita bermakna dan kreatif, cukuplah berarti hidup kita.

Menulis adalah terapi memerdekakan diri kita agar lebih bermakna dan saat tulisan sudah dibagi ke orang lain, kurang atau lebih, yang jelas kemerdekaan ini akan lebih membebaskan diri dari situasi tertekan atau telah bebas dari hantu-hantu rasa bersalah.

So… menulis adalah proses terapi menjadikan diri kita lebih berharga, bukan sebaliknya. Itulah kesehatan mental penulis terakui. Atau Anda tetap dihantui oleh situasi yang tidak sehat secara mental ? Begitulah refleksi atas kegiatan workshop kepenulisan kampusdesa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here