Menulis itu Berpikir Sepanjang Hari

1
97
menulis, berpikir,

0Shares
0

Menulis merupakan suatu pekerjaan untuk membuat runtut gagasan atau konsep yang ada pada pikiran seseorang menjadi sesuatu yang mudah dicerna dan dipahami bukan saja oleh diri sendiri, tetapi juga orang lain yang kemungkinan akan memiliki latar belakang yang berbeda dengan diri kita.

Kampusdesa.or.id–Bagi banyak orang menulis mungkin pekerjaan yang mudah untuk dilakukan, apalagi menulis tentang hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaannya. Tetapi sering kali menulis bukan menjadi pekerjaan sederhana ketika hal-hal yang ditulis merupakan sesuatu yang bersifat gagasan, konsep, tulisan-tulisan yang dapat menggugah atau menggerakkan orang lain, memberi petunjuk orang lain untuk melakukan pekerjaan yang kompleks, atau bahkan tulisan-tulisan yang memberikan inspirasi kepada orang lain.

Menulis merupakan suatu pekerjaan untuk membuat runtut gagasan atau konsep yang ada pada pikiran seseorang menjadi sesuatu yang mudah dicerna dan dipahami bukan saja oleh diri sendiri, tetapi juga orang lain yang kemungkinan akan memiliki latar belakang yang berbeda dengan diri kita. Sehingga menulis tidak sekedar berkaitan membahasakan gagasan dan konsep, tetapi juga menatanya dalam bentuk urutan yang enak dibaca oleh siapapun dan pembaca merasa tertarik untuk membacanya. Ada aspek emosi dari pembaca yang akan terlibat dalam proses pembacaan tulisan tersebut.

Proses menerjemahkan gagasan dan konsep yang ada dalam pikiran seseorang kedalam tulisan merupakan suatu proses psikologis yang kompleks. Itulah sebabnya sebagian besar kecakapan menulis merupakan kecakapan yang termasuk dalam kognitif level tinggi.

Proses menerjemahkan gagasan dan konsep yang ada dalam pikiran seseorang kedalam tulisan merupakan suatu proses psikologis yang kompleks. Itulah sebabnya sebagian besar kecakapan menulis merupakan kecakapan yang termasuk dalam kognitif level tinggi. Proses dialog yang ada dalam fikiran tersebut kemudian akan melibatkan berbagai emosi antara penulis dengan apa yang ditulisnya. Sebagaimana pekerjaan-pekerjaan yang lain, penulis juga harus tetap menjaga emosinya dengan apa yang ditulisnya. Penulis harus terus menerus menjaga pikiran dan perasaan terhadap apa yang ditulisnya, sehingga penulis harus terus menerus merasa perlu untuk melihat dan “menjenguk” tulisannya untuk diteruskan atau dilanjutkan dengan gagasan dan konsep-konsep yang baru.

Putusnya ikatan emosi antara penulis dengan apa yang ditulisnya akan menyebabkan terhentinya tulisan, dan hal tersebut akan menjadi sesuatu yang berat untuk dimulai kembali. Untuk mengingat gagasan terakhir dan urutan skenario penulisan terakhir saja seringkali harus memaksa pikiran untuk memgurutkan kembali apa yang telah dipikirkan, belum lagi menumbuhkan kembali emosi yang ada dalam diri penulis dengan gagasan, konsep dan apa yang akan ditulisnya.

Itulah sebabnya orang yang menulis pada dasarnya harus bekerja sepanjang hari, bekerja yang dimaksud adalah bekerja dalam pikirannya, yaitu untuk selalu menjaga emosi keterhubungan antara dirinya dengan apa yang ditulisnya.

Itulah sebabnya orang yang menulis pada dasarnya harus bekerja sepanjang hari, bekerja yang dimaksud adalah bekerja dalam pikirannya, yaitu untuk selalu menjaga emosi keterhubungan antara dirinya dengan apa yang ditulisnya. Mahasiswa yang sedang menulis penelitian dalam bentuk skripsi, tesis, atau disertasi seringkali mengalami kendala dalam menjaga “emosi” dengan tulisannya. Mahasiswa tersebut meninggalkan tulisannya dalam waktu yang lama, sehingga untuk melanjutkan tulisannya tersebut, kemudian mengalami kendala ketidak tertarikan atau tidak lagi mampu melacak gagasan-gagasan yang telah ditulis sebelumnya. Jadi kegagalan mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhir rata-rata bukan disebabkan oleh ketidak mampuan mahasiswa tersebut secara kognitif, tetapi lebih disebabkan oleh ketidak mampuan penulis “menjaga hubungan” dengan tulisannya yang pada akhirnya kemudian menjadikannya kehilangan emosi dengan tulisannya.

Dalam kasus lain ketidak tuntasan dalam kegiatan menulis juga seringkali disebabkan oleh godaan untuk beralih perhatian pada hal lain, yang pada akhirnya juga bermuara pada hilangnya emosi penulis dengan apa yang dituliskannya. Menulis dan juga mengerjakan tugas akhir untuk mahasiswa ibarat orang yang mendapat tugas untuk pekerjaan panjang yang melelahkan, tetapi tidak terlalu sulit untuk dilakukan. Seringkali penulis mengibaratkan mengerjakan tugas akhir adalah mendapat tugas untuk berjalan jauh.

Misalnya berjalan kaki dari Malang menuju Surabaya. Berjalan dari Malang ke Surabaya tentu tidak terlalu memerlukan pemikiran yang luar biasa sulit, tetapi memerlukan keberanian, ketekunan, ketabahan, keseriusan, dan konsistensi untuk dapat melakukannya. Kita bisa memilih untuk melakukan perjalanan tersebut lewat jalur manapun, dan bisa memilih kecepatan yang kita lakukan untuk dapat mencapai tujuan. Ditengah jalan kemungkinan besar kita akan mendapatkan godaan yang ada kemungkinannya memperlambat atau bahkan merubah arah dan tujuan kita untuk dapat sampai di Surabaya. Jika kita tidak menjaga emosi kita dengan perjalanan dan pandai-pandai menghindari godaan maka akan ada kemungkinan besar bahwa kita tidak akan mencapai tujuan. Itu artinya bahwa kemudian tugas akhir kita apakah itu skripsi, tesis atau disertasi kita tidak selesai dan kemudian mahasiswa tersebut tidak lulus kuliah, dan dianggap gagal. Kegagalan dalam studi seringkali diartikan dengan bodoh, dan itu berpangkal pada kegagalan dalam menjaga emosi dan hubungan dengan apa yang ditulisnya.

Demikian pula pada menulis gagasan-gagasan orisinal, dan refleksi-refleksi dari fenomena yang terjadi, juga memerlukan proses berfikir yang terus menerus. Gagasan jarang sekali ada jika seseorang tersebut tidak terlibat aktif dalam pemikiran tentang hal itu. Gagasan tentang perbaikan kualitas pendidikan misalnya tidak akan timbul dari orang yang sehari-hari berfikir tentang gunung merapi, juga tidak akan timbul dari orang yang tidak pernah memikirkan tentang pendidikan ataupun perguruan tinggi. Gagasan akan muncul setelah terjadinya berbagai proses pergulatan pemikiran yang matang dan panjang. Refleksi-refleksi cerdas dan kreatif juga jarang dapat dilakukan jika seseorang tersebut tidak aktif melakukan berbagai kegiatan berfikir tentang hal yang direfleksi itu.

Fenomena atau kejadian akan ada sepanjang hari, namun jika kita tidak memikirkannya maka tidak akan menjadi suatu makna apapun, juga tidak akan menimbulkan gagasan apapun, dan itu berarti juga tidak akan menjadi tulisan. Itulah sebabnya mungkin saja seseorang menulis hanya satu atau dua jam dalam sehari tetapi untuk dapat ditulis dalam waktu satu sampai dua jam tersebut, penulis tersebut telah melakukan proses berfikirnya sepanjang hari, apakah itu untuk menjaga emosinya dengan apa yang dituliskannya, atau itu untuk dapat membuat refleksi dari berbagai kejadian atau peristiwa yang terjadi sepanjang hari itu. Semoga akan selalu tumbuh penulis-penulis produktif, karena dari penulislah dunia ini menjadi penuh warna.

**Artikel ini pernah dimuat di website UIN Malang dengan judul yang sama. Klik di sini.