Menuju New Normal: Siapkah Anak ke Sekolah?

1
159

0Shares
0

Kurang lebih 100 hari lamanya Covid-19 telah memaksakan kita untuk berdiam diri di rumah. Tatanan kehidupan baru atau yang disebut dengan New Normal, yang telah disiapkan pemerintah untuk diberlakukan di awal Juni ini menuai beragam pro dan kontra dari masyarakat. Lalu bagaimana dengan anak-anak? Sudah siapkah mereka untuk kembali ke sekolah?

Kampusdesa.or.id-Melonjaknya kasus yang terkonfirmasi pada anak-anak membuat banyak orang tua khawatir dan lebih waspada terhadap buah hatinya. Anak-anak memang lebih rawan tertular COVID-19 karena daya tahan tubuh yang masih rendah juga belum pahamnya mereka untuk menjaga jarak, menyentuh benda-benda di sekitar maupun menyentuh hidung dan mulut setelah bermain, mengingat kedua tempat tersebut merupakan mudahnya virus berkembang biak.

Sehingga kewaspadaan yang tinggi dari orang tua sangatlah perlu ditingkatkan. Pandemi yang telah menyebar di seluruh provinsi di Indonesia ini memang masih menjadi musuh terbesar kita dan belum ditemukan jalan keluarnya. Selama vaksin dari virus ini belum ditemukan maka resiko penyebarannya akan terus terjadi, dan cara pengantisipasinya hanyalah kedisplinan kita untuk menjaga jarak, memakai masker dan menjaga sistem kekebelan tubuh.

Sebagai masyarakat yang cerdas, kita juga mampu berperan besar dari bagian pengambilan kebijakan penting di masa sulit ini.

 

Sebagai masyarakat awam yang memang tidak turut langsung dalam pengambilan kebijakan yang dilakukan pemerintah memang hanya harus menurut dan taat. Namun dalam berbagai sisi sebagai masyarakat yang cerdas, kita juga mampu berperan besar dari bagian pengambilan kebijakan penting di masa sulit ini. Tatanan kehidupan baru atau yang disebut dengan New Normal, yang telah disiapkan pemerintah untuk diberlakukan di awal Juni ini menuai beragam pro dan kontra dari masyarakat.

Kesadaran masyarakat dari merebaknya kasus ini membuat sebagian masyarakat mulai meragukan dan takut dengan kebijakan baru ini, khususnya dari kalangan orang tua yang harus melepas anak ke Sekolah tentunya sangan dihantui ketakutan. Jika anak yang sudah remaja saja bahkan kuliah masih sulit menjaga jarak, lalu bagaimana dengan anak Sekolah Dasar ataupun TK? Apakah Guru bisa menjamin kebersihan murid selama di sekolah? Muncul berbagai pertanyaan yang saya yakin tak bisa dijawab dengan yakin oleh semua pihak.

Dari sinilah muncul beberapa petisi untuk menunda dibukanya sekolah tahun ajaran baru yang diberitakan di DKI jakarta akan dimulai 13 Juli. Namun keputusan ini belum diketuk palu. Seperti dilansir di kompas bahwa Mendikbud dalam rapat kerja secara telekonferensi dengan komisi X DPR di Jakarta, Rabu (20/05/2020) menyatakan bahwa “Harus diakui Kemendikbud sudah siap dengan semua skenario. Kami sudah ada berbagai macam. Tapi tentunya keputusan itu ada di dalam Gugus Tugas, bukan Kemendikbud sendiri. Jadi, kami yang akan mengeksekusi dan mengkoordinasikan.”

Sayangnya kecepatan media yang mulai gencar membicarakan pembukaan sekolah dan kurangnya telaah dari masyarakat cukup membuat mereka panik. Padahal kita masih harus menunggu kepastian dari yang berwenang. “Kami tidak pernah mengeluarkan pernyataan kepastian, karena memang kepastiannya bukan di kami. Jadi mohon stakeholders atau media yang menyebut itu, itu tidak benar,” tegas Nadiem.

Akibatnya muncullah beberapa petisi penundaan sekolah karena tingginya resiko anak yang tertular. Petisi ini mendapat banyak dukungan baik dari orang tua, guru maupun masyarakat. Salah satu ide baik ini muncul dari seorang ibu satu anak yang mendedikasikan hidupnya  membuat karya untuk anak-anak, berupa buku cerita anak. Petisi yang dimulai sejak 27 Mei kemarin oleh Watiek Ideo ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat terbukti dengan hingga diliputnya dibeberapa stasiun televisi juga media berita. Hingga 31 Mei kemarin tanda tangan yang terkumpul telah mencapai 92 ribu.

Permintaan masyarakat untuk menunda sekolah sangat besar.

 

Ini membuktikan jika permintaan masyarakat untuk menunda sekolah sangat besar. Tak hanya satu petisi tersebut ada juga petisi serupa yang bertujuan untuk memberikan pertimbangan pada pemerintah untuk menunda dibukanya sekolah. Jadi, kita sebagai masyarakat awam pun masih memiliki kesempatan untuk menyuarakan keinginan dan kepedulian kita untuk anak-anak, guru, juga seluruh masyarakat Indonesia dengan menandatangani petisi tersebut dan menghentikan kebijakan dibukanya sekolah oleh pemerintah. Mengingat sasaran yang dituju oleh petisi watiek langsung pada Bapak Presiden Jokowi juga Mendikbud Nadiem Makarim.

“Sudah terbayangkah bagaimana protokol kesehatan masuk rumah jika anak-anak pulang sekolah, misalnya baju seragam sekolah harus masuk cucian dan ganti setiap hari, Perlengkapan sekolah harus dibersihkan, langsung mandi? Siapkah guru-guru mengawasi dan mengontrol semuanya? Double tugas selain mengajar? Bagaimana fasilitas sekolahnya memadaikah?” Ungkapnya dalam petisinya.

Berbagai kemungkinan mulai membayangi masyarakat khususnya orang tua, dengan anak yang daya tahan tubuhnya masih rendah, juga kepahaman yang masih kurang sehingga perlu perhatian ekstra dari orang disekitarnya. Hal ini tentu saja akan sulit didapatkan jika anak belajar di sekolah.

Pendidikan memanglah satu hal yang sangat penting, namun dimasa sulit ini pilihan belajar dari rumah merupakan hal yang tepat dan seharusnya dilanjutkan hingga suasana memungkinkan. Pembelajaran bisa dilakukan dimanapun dan dengan kondisi apapun asalkan dengan niat dan keinginan yang kuat. Bimbingan dan kedekatan dari orang tua juga menjadi salah satu pendukungnya.

Proses pembelajaran daringpun bukan hal yang mudah bagi guru.

 

Jika kebijakannya memang dibuat untuk memudahkan terwujudnya tujuan pendidikan, mudahnya transfer ilmu dari guru ke murid. Saya pun yakin guru juga sebenarnya lebih ingin keadaan kembali ke semula. Mereka pasti merindukan anak-anak dan sebaliknya, anak-anakpun merindukannya. Proses pembelajaran daringpun bukan hal yang mudah bagi guru, bagaimana mengondisikan murid tetap semangat belajar, memberi inovasi dan tugas yang mendidik namun tetap menyenangkan.

Namun kembali ke rutinitas awal dan mudahnya pembelajaran manual tidak diharapkan guru saat ini. Anak-anak masih belum siap untuk pergi ke sekolah. Fasilitas yang ada pun masih belum memadai untuk menjaga anak di sekolah, dan gurupun belum siap menjadi tameng ekstra dan cctv untuk anak-anak. Itulah mengapa kebanyakan dari mereka menyetujui ajakan untuk menunda dibukanya sekolah.

Kesulitan belajar daring akan dapat teratasi dengan kerjasama yang baik antara guru dan orang tua. Pembagian peran mereka untuk mengajari anak menjadi hal yang utama. Anakpun akan tetap nyaman dengan keadaan belajar di rumah jika lingkungannya sepenuhnya mendukung, kreativitas guru memberikan pelajaran dan peran aktif orang tua sebagai pengganti guru untuk memberikan kenyamanan dan keseruan belajar akan tetap menggugah semangat belajar anak.

 

Putri Aditia Ningrum (tinggal di Desa Keyongan Babat-lamongan, mahasiswa pendidikan matematika di Universitas Islam Darul ‘Ulum Lamongan. Akun sosial media yang bisa dilihat yakni Instagram Putriadietya_ dan nomor telepon 085706513049 serta e-mail putriaditya2233@gmail.com.)