Menjadi Pendidik Kekinian di Era Digital

0
79

Bergulirnya revolusi industri 4.0 tidak hanya berdampak pada dunia industri dan ekonomi, namun juga pada dunia pendidikan. Output pendidikan mendapatkan tuntutan lebih dari user. Akibatnya, pendidik di era ini dituntut pula untuk menyesuaikan diri dengan digitalisasi yang telah menjadi konteks kehidupan peserta didik. Lalu, bagaimana menjadi pendidik yang kekinian agar tak ketinggalan zaman? 

Sebagai sarana menyemai benih generasi masa depan, pendidikan senantiasa dihadapkan pada tantangan yang selalu berubah sesuai dengan zaman. Karenanya, sistem dan desain pendidikan haruslah lentur, adaptif, dan akomodatif terhadap dinamika perubahan kehidupan.

Di era 4.0 yang serba digital ini, pendidikan dihadapkan dengan tantangan baru yang sama sekali berbeda dengan era sebelumnya. Ciri utama era ini adalah kecepatan dan keterbukaan akses informasi. Peserta didik bisa dengan mudah mengakses informasi apapun di mana pun dan kapan pun. Hal ini menjadi peluang sekaligus tantangan serius bagi para pendidik.

Keterbukaan dan kecepatan akses informasi ibarat pisau. Jika tidak dimanfaatkan dengan bijak justru akan merugikan diri sendiri. Dua hal yang menjadi ciri utama globalisasi ini dengan mudah dapat menjebak peserta didik ke dalam perilaku negatif. Berita hoaxs, pornografi, hate speech, game online, dan sederet efek samping globalisasi lainnya telah mengintai mereka.

Orang kreatif adalah mereka yang mampu mengubah tantangan menjadi peluang.

Meski demikian, tidak lantas pendidik harus bersikap apatis terhadap digitalisasi. Justru, digitalisasi haruslah menjadi peluang untuk memberikan pelayanan pendidikan yang kekinian kepada peserta didik. Sebagaimana ungkapan bijak yang sering kita dengar, orang kreatif adalah mereka yang mampu mengubah tantangan menjadi peluang.

Lantas, bagaimana menjadi pendidik yang kekinian?

Pertama, tentu saja harus bersedia mentransformasi diri. Meminjam istilah Rheinald Kasali, para pendidik harus legowo untuk mendisrupsi diri. Pendidik harus menyesuaikan diri dengan konteks kehidupan peserta didiknya. Contoh sederhana adalah dengan tidak gagap teknologi (gaptek). Bukankah akan lucu jika kita kalah cerdas dengan peserta didik dalam memanfaatkan teknologi informasi? Lalu kita menyalahkan keadaan atas hal ini.

Di era 4.0, peserta didik dapat dengan mudah mengakses informasi yang jauh lebih lengkap dibandingkan yang dimiliki pendidik. Oleh karena itu, paradigma mendidik yang semula sarat dengan know-what harus digeser menjadi know-how dan know-why.

Kedua, mengubah paradigma dalam mendidik. Pendidik hari ini bukan lagi the only one sumber belajar di kelas. Ia hanya fasilitator dan motivator. Di era 4.0, peserta didik dapat dengan mudah mengakses informasi yang jauh lebih lengkap dibandingkan yang dimiliki pendidik. Oleh karena itu, paradigma mendidik yang semula sarat dengan know-what harus digeser menjadi know-how dan know-why.

Ketiga, menggeser orientasi mendidik. Mindset yang sampai sekrang masih kokoh terbangun di masyarakat adalah bahwa nilai akademik merupakan segalanya dalam pendidikan. Anak disebut pandai dan cerdas bila mendapatkan ranking satu. Sementara anak yang jauh dari ranking satu dianggap “kurang cerdas dan pandai.” Padahal jika mau jujur, capaian akademik tidak menjamin kesuksesan masa depan anak. Stok pengetahuan yang berlimpah akan percuma jika tidak diimbangi dengan hard skills dan soft skills. Oleh karena itu, pendidikan di era 4.0 harus menitikberatkan pada pengasahan skill yang akan menopang karir peserta didik di masa mendatang.

Keempat, profesional dan berintegritas. Dua hal ini menjadi syarat utama jika pendidik ingin sukses menjalankan tugasnya. Perlu diingat bahwa profesi pendidik tidak sama dengan akuntan, arsitek, pedagang, dan yang lain. Profesi ini membutuhkan keteguhan dan ketulusan hati serta panggilan jiwa. Hal ini tak lepas dari tanggungjawab ganda yang diemban pendidik. Ia tidak hanya bertanggungjawab mengantarkan anak didiknya sukses dalam hal akademik dan kehidupan, namun bertanggungjawab pula mengantarkan anak didiknya menjadi hamba Tuhan yang sebenarnya.

Sebagai ujung tombak pendidikan, para pendidik menjadi tumpuan harapan untuk menyongsong generasi emas masa depan. Tuntutan tentu semakin berat diemban. Namun, tentu saja hal ini bukan semata tugas dan tanggungjawab pendidik. Pemerintah dan masyarakat juga merupakan pihak yang berkepentingan di sini. Oleh karena itu, dibutuhkan sinergi kuat antara ketiga komponen ini untuk mewujudkan sistem pendidikan yang kekinian dan ramah masa depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here