Skripsi : Menjadi Cantik dengan Perjuangan yang Cantik

0
98
Anita Desi. Situasi saat sidang skripsi

Sudah banyak cerita dan pengalaman mengenai mengerjakan tugas akhir. Bagi Anda yang sudah menempuh sarjana, tugas akhir adalah proses terakhir calon sarjana untuk membuat tawaran pemikiran yang akan dipertahankan di dewan penguji. Sebelum sampai di dewan penguji, usaha menyiapkan skripsi akan berkelindan dengan dosen pembimbing. Selain tentang pembimbingan tentang isi skripsi, dinamika relasional mahasiswa-dosen melahirkan aneka proses yang menegangkan. Bagaimana seharusnya menghadapinya ?

Ketika berkunjung di sebuat tempat kerajinan dari tanah liat, saya sudah terpesona dengan jejeran vas-vas bunga cantik dan tersusun rapi di etalase depan rumah, tempatnya tidak begitu luas namun pemandangan yang disediakan sungguh menarik hati saya untuk berlama-lama ditempat itu.

Lama saya memandangi deretan pernak-pernik rumah tangga, muncul seorang pemuda dari ruang gelap di belakang sana. Terjadi perbincangan yang menyenangkan, yang ternyata pemuda inilah pemilik tokonya. Pemuda ini mengajakku untuk melihat proses  vas-vas itu untuk menjadi  cantik dan menarik.

Berbeda dari ruangan depan yang rapi dan mempesona, ruang belakang ini adalah tempat pembuatan vas-vas itu, berantakan, gelap, penuh tanah liat berceceran dan asap hitam yang membuat sesak. Pemuda ini hanya menunjukkan proses pembuatan vas dan hiasan dari tanah liat lainnya. Mulai dari pengadukan, pembentukan, pembakaran hingga pengukiran.

Ada yang mengatakan bahwa pemuda yang hebat, adalah dia yang memiliki karya. Dan Kali ini saya tidak hanya menceritakan kisah seorang pemuda yang  telah berjuang keras untuk mengispirasi banyak pemuda lainnya. Namun ada sisi lain yang membuat saya berpikir lebih dari perjuangan seseorang, yaitu perjuangan dari vas-vas bunga dan hiasan lainya untuk menjadi cantik dan mempesona.

Satu benda yang selalu terinjak-injak oleh manusia, tapi  juga telah berhasil mengubah dirinya menjadi sebuah benda yang elok dan menenangkan jika dipandang. Yah, tanah liat, bahan dasar dari vas-vas cantik itu. Tidak lagi terinjak-injak tapi menjadi benda yang ditinggikan di ruangan orang-orang yang telah menginjak-injaknya dulu.

Bagaimana ia dapat menjadi istimewa padahal ia adalah hal yang sangat rendah? Perjuangan vas-vas inilah yang membuat saya menyadari bahwa menjadi cantik, menarik, indah dan terpandang itu bukanlah hal yang mudah. Ada tahapan-tahapan yang begitu keras dan menyakitkan yang harus terlewati. Memang semua orang tidak harus berjuang dengan rasa sakit yang luar biasa untuk menjadi hal yang istimewa, tapi vas-vas cantik ini mengajarkan saya bahwa menjadi yang istimewa itu butuh perjuangan yang istimewa juga.

Kalau saya membahasakan bahasa tanah-tanah ini mungkin sama halnya dengan bahasa kita. Dari mulai pemilihan tanah, tanah-tanah ini sudah tersakiti oleh cangkul-cangkul yang mencabik-cabik tubuh mereka, jeritan sakit dari mereka tentu tak dapat saya dengar namun dapat saya bayangkan.  Dan tanah yang baik dan kuatlah yang dipilih untuk proses selanjutnya.

Ketika mulai proses pengadukan, tanah-tanah ini harus menahan rasa sakit lagi, dengan pukulan-pukulan keras dari para pengrajin. Belum hilang rasa sakit, tanah-tanah ini harus segera menghadapi proses pembetukan dari pengrajin, mereka diputar-putar sangat kencang di atas papan, kalau boleh merasakan apa yang tanah-tanah ini rasakan, tentu mereka sangat pusing dan mual. Tidak semua dapat terbentuk dengan sempurna, bahkan banyak tanah yang hancur tiba-tiba sebelum terbentuk sempurna. Dan mereka yang hancur menjadi tanah yang terinjak-injak kembali nantinya.

Usai proses pembentukan, penderitaan tanah ini belum begitu saja berakhir, mereka harus melewati proses pembakaran agar bentuk mereka tidak mudah pecah dan rapuh. Kayu bakar dan api begitu lahapnya membakar tubuh tanah-tanah ini hingga menghitam. Saya berfikir bahwa tanah-tanah ini tentu menguatkan diri mereka sendiri, kalau tidak tentu mereka tidak akan keluar dari tempat pembakaran dengan utuh seperti bentuk mereka ketika masuk dalam  ruang pembakaran.

Dua hingga tiga hari tanah ini dapat beristirahat dari siksaan para pengrajin, hingga tubuh mereka mulai mendingin, pengrajin-pengrajin ini mulai menusuk-menusuk lagi untuk membuat motif-motif cantik ditubuh vas bunga, dengan pahatan dan ukiran yang detail tentu saja lebih menyakitkan dari proses-proses sebelumnya. Tak dapat saya bayangkan lagi rasa sakitnya, Namun dari proses inilah mereka akan terlihat anggun dan mempesona.

Lalu, mungkin saja tanah-tanah ini telah bahagia dengan tubuh mereka yang sangat indah dari sebelumnya yang hanya butiran-butiran yang terinjak-injak. Tapi kebahagiaan belum begitu sempurna untuk mereka. Ada satu tahap lagi hingga dapat dikatakan karya sempurna, vas-vas ini harus melewati proses pembakaran kembali untuk menguatkan polesan, ukiran dan cat di tubuh mereka, hingga pada akhirnya mereka dapat keluar dari semua penderitaan yang mereka lalui dengan hasil yang sangat memuaskan.

Tangisan, jeritan yang menyakitkan harus kuat untuk kita lalui. Motivasi yang kuat adalah dari dalam diri kita sendiri, kita dapat menyakinkan diri kita sendiri (self talk) bahwa kita dapat menjadi yang terbaik dari yang paling baik.

Perjuangan tanah itu sama halnya dengan apa yang harus kita lewati, ketika kita menginginkan hal yang indah pada diri kita, tidak begitu saja kita dapat meraihnya. Tangisan, jeritan yang menyakitkan harus kuat untuk kita lalui. Motivasi yang kuat adalah dari dalam diri kita sendiri, kita dapat menyakinkan diri kita sendiri (self talk) bahwa kita dapat menjadi yang terbaik dari yang paling baik.

Mengeluh akan semakin membuat kita berpeluang untuk menyerah, namun dengan menguatkan diri sendiri tentu akan membantu kita keluar dari proses

Banyak mengeluh akan semakin membuat kita berpeluang untuk menyerah, namun dengan menguatkan diri sendiri tentu akan membantu kita keluar dari proses yang bisa kita sebut kejam dan menyakitkan.

Kalau saya kaitkan dengan  kisah mahasiswa semester akhir, hampir  80% dari mereka selalu frustasi kalau dihadapkan dengan skripsi. Menyelesaikan tugas apa adanya bukanlah solusi yang baik, terkadang ada sesuatu yang indah untuk dikorbankan jika ingin menjadi bintang. Bukan berarti menunda-nunda hanya tidak terburu-buru dan memaksa proses. Sama halnya dengan perjuangan tanah liat untuk menjadi vas bunga yang cantik.

Ingin cepat lulus, cepat wisuda, lanjut kerja atau S2, tapi pekerjaan (skripsi) selalu diabaikan. Sebagian mahasiswa terlalu membuat keadaan (skripsi) ini adalah keadaan yang paling dramatis di sepanjang perjalanan kuliah, baru ketemu dosen pembimbing sekali saja, sudah menangis berhari-hari, belum lagi diberi tugas revisi yang berkali-kali. Atau dosen yang sulit ditemui dan hanya memberi janji, yang pada akhirnya mereka memilih untuk berhenti.

Kalau berhenti maka sama dengan kita memilih untuk terinjak-injak kembali layaknya tanah liat yang gagal menjadi vas bunga yang cantik. Tetapi ketika kita mampu menguatkan diri dari proses yang begitu sulit untuk kita lewati tentu kita dapat seperti vas bunga itu yang menjadi rebutan untuk dimiliki oleh semua orang.

Skripsi ini mengajarkan kita untuk lebih kuat ketika berdiri di kehidupan yang mungkin akan lebih menyakitkan nantinya.

Untuk sahabatku para pejuang skripsi, jangan pernah memilih untuk berhenti. kita masih jauh lebih baik dari perjuangan vas-vas bunga itu, masih secuil penderitaan yang kita alami, karena skripsi ini mengajarkan kita untuk lebih kuat ketika berdiri di kehidupan yang mungkin akan lebih menyakitkan nantinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here