Mengulik Pendekatan dan Strategi KBM Membudayakan Literasi di Pedesaan

0
288
Kopdar IV KBM yang dihadiri penulis dan penyunting buku asal Lamongan, M. Husnaini

Di era media sosial, literasi telah menjelma menjadi kebutuhan primer. Tanpa memiliki literasi yang baik, seseorang akan dengan mudah terjebak dalam pusaran efek negatif media sosial. Hoaks misalnya. Oleh karenanya, perlu pendekatan dan strategi yang tepat agar literasi tidak hanya dikuasai, tapi juga menjadi habit positif dan membudaya. Pendekatan dan strategi yang diterapkan oleh komunitas literasi KBM Bojonegoro kiranya laik untuk diketengahkan di sini.

Kampusdesa.or.id–Kita Belajar Menulis (KBM) merupakan sebuah komunitas literasi yang didirikan oleh Slamet Widodo, Roni Hardiawan, dan M. Arfi Nur Iksan menjelang akhir 2017 silam. Komunitas ini memiliki concern membudayakan literasi di kalangan pemuda-pemudi desa, atau dalam dialek Bojonegoro disebut Cah Ndeso. Strategi yang ditempuh adalah dengan mengajak Cah-Cah Ndeso Jonegoro ini untuk mengasah dan mengembangkan keterampilan menulis mereka melalui media sosial berupa grup Whatsapp (WA).

Tulisan-tulisan anggota KBM sejak tahun 2018 sudah menghiasi berbagai media, baik cetak maupun online. Bahkan, banyak juga yang sudah berhasil menerbitkan buku.

Komunitas yang berpusat di Dusun Kedungsari, Desa Kepoh, Kecamatan Kepohbaru ini dalam waktu yang relatif singkat telah berhasil memunculkan penulis-penulis muda berbakat. Tulisan-tulisan anggota KBM sejak tahun 2018 sudah menghiasi berbagai media, baik cetak maupun online. Bahkan, banyak juga yang sudah berhasil menerbitkan buku. Baik itu buku bunga rampai atau antologi, maupun buku solo.

Tidak hanya menulis, KBM juga berhasil mengembangkan berbagai potensi lain yang dimiliki anggotanya. Beberapa di antaranya ada yang telah muncul menjadi motivator, moderator, bahkan narasumber dalam berbagai event. Baik itu event daring maupun tatap muka.

Pencapaian KBM yang akseleratif ini tentu tak bisa dilepaskan dari pendekatan dan strategi yang diterapkan. Slamet Widodo sebagai figur sentral di komunitas ini berkali-kali dengan tegas menyatakan bahwa didirikannya KBM bukanlah untuk mengerek popularitas dirinya sendiri. Melainkan untuk dijadikan sebagai rumah belajar bersama bagi siapa saja yang berkomitmen untuk belajar.

Selain itu, Slamet Widodo juga selalu menekankan bahwa semua orang yang berada di KBM merupakan satu keluarga. Maka, panggilan akrab di dalam KBM tidaklah anggota, tetapi keluarga. Terhadap anggota yang masih berstatus sebagai pelajar, Slamet Widodo mampu tampil sebagai figur bapak sekaligus guru dan mentor.

Melalui pendekatan yang menitikberatkan interpersonal engagement ini, suasana di KBM terasa berbeda dengan komunitas menulis daring pada umumnya. Rasa kekeluargaan begitu kental di dalamnya

Melalui pendekatan yang menitikberatkan interpersonal engagement ini, suasana di KBM terasa berbeda dengan komunitas menulis daring pada umumnya. Rasa kekeluargaan begitu kental di dalamnya. Setiap ada keluarga KBM yang sakit, para pengurus dan keluarga lainnya yang berkesempatan selalu menyempatkan datang menjenguk. Jika ada keluarga KBM yang berhasil meraih prestasi tertentu, ucapan apresiasi meluncur deras dari segenap keluarga KBM.

Feedback demikian ini menjadikan yang bersangkutan terus termotivasi untuk meraih prestasi-prestasi lain ke depannya. Berkat pendekatan ini pula, sense of belonging dapat terinternalisasi dalam diri anggota KBM. Sehingga, semua anggota KBM mau terlibat aktif membesarkan KBM. Perlu diketahui, saat ini anggota KBM tidak hanya terdiri dari pemuda Bojonegoro saja, melainkan sudah lintas provinsi. Ada yang dari Lampung, Lombok, Demak, dan sebagainya.

Selain pendekatan tersebut, KBM juga menerapkan strategi pembelajaran yang menitikberatkan pada praktik (learning by doing). Anggota KBM diberi kesempatan untuk menjadi penanggungjawab event-event yang diadakan. Mereka juga diberi kesempatan untuk menjadi narasumber dan moderator. Semua dalam rangka memberikan pengalaman dan pembelajaran.

KBM memberikan ruang yang besar kepada segenap anggotanya untuk terus memacu diri mengembangkan potensi yang dimiliki. Meskipun potensi tersebut berada di luar dunia kepenulisan yang menjadi concern KBM. Hal tersebut tidak menjadi soal, karena KBM pada esensinya adalah rumah belajar.

Sementara untuk menyatukan visi, merancang program ke depan, dan mengevaluasi kekurangan dan kelamahan, KBM menjadikan ngopi sebagai strategi. Kegiatan ini diberi istilah Ngopi Literasi, yaitu ngopi dengan tema perbincangan seputar dunia literasi. Berbagai gagasan inspiratif dan solutif kerap muncul saat ngopi literasi ini.

Generasi muda desa harus bangga dengan ke-ndeso-annya. Tag line “Aku Bangga Jadi Cah Ndeso” pun selalu didengungkan di KBM

Harapan utama KBM selain melahirkan penulis-penulis muda dari desa adalah menjaga otensitas para pemuda desa. Generasi muda desa harus bangga dengan ke-ndeso-annya. Tag line “Aku Bangga Jadi Cah Ndeso” pun selalu didengungkan di KBM. Dengan demikian, para pemuda desa kedepan diharapkan tidak akan kehilangan otensitas dan jati dirinya sebagai Cah Ndeso yang mewarisi budaya dan kearifan adiluhung nenek moyangnya.[]