Menguatkan Aksi Sosial Kemanusiaan dengan Bibit Sosiopreneurship

0
196
Siti Nur Imamah (Biru), penggerak Sekolah Rakyat Nganjuk, sedang memandu diskusi dalam acara Konvensi Pendidikan VIII.

Pernahkah anda mendengar wise word  “agama itu bukan di baju melainkan di dalam hati, inti agama adalah kemanusiaan.” Kemudian “kemanusiaan itu tak mengenal batas negara dan agama, ia tumbuh dari keajaiban nuranimu tanpa sekat, tanpa musim.” Terimakasih kepada seluruh penggerak aksi kemanusiaan di negeri ini, kalianlah penegak Pancasila Sejati.

kampusdesa.or.id –Kemanusiaan yang adil dan beradab merupakan salah satu bunyi butir pancasila yang kerap kali dilantunkan sejak di lembaga pendidikan sekolah dasar. Nilai sila ke dua tersebut bukanlah sebuah semboyan yang diujarkan lewat lisan saja, namun sebagai tanggung jawab dalam prinsip bernegara. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya lembaga sosial kemanusiaan yang mewarnai negeri ini.

Menjadi masyarakat madani yang bisa memberikan umpan balik terhadap uluran kemanusiaan haruslah dimulai dengan aksi yang benar-benar berangkat dari hati, komunikasi, dan adanya follow up terhadap masyarakat yang bersangkutan. Hal ini akan memberikan bekas dalam gelombang angan-angan masyarakat tersebut. Pemberian material baik keilmuan maupun yang lainnya, disertai bumbu komunikasi dari hati ke hati, dan follow up mampu memberikan hasil masyarakat yang berdaya serta memiliki keinginan turut serta dalam aksi kemanusiaan.

Pemberian material baik keilmuan maupun yang lainnya, disertai bumbu komunikasi dengan hati, dan follow up mampu memberikan hasil masyarakat yang berdaya serta memiliki keinginan turut serta dalam aksi kemanusiaan.

Aksi kemanusiaan yang dilatarbelakangi dengan corak demikian, biasanya akan memberikan dampak kelangsungan eksistensi di tengah-tengah masyarakat. Sehingga tidak sedikit para pemuda Indonesia terpanggil hatinya untuk ikut serta bahkan menggalang suatu aksi kemanusiaan setelah aktif mengikuti kegiatan suatu lembaga kemanusiaan. Bisa kita lihat gerakan Kemanusiaan berbasis IT seperti kitabisa.com, act.id, Laskar Sedekah, YOT (young on top berbagi) merupakan bentuk kepedulian pemuda terhadap bulir sila ke Dua Pancasila.

Begitu pula yang dilakukan oleh Siti Nur Imamah, dalam menggerakkan hatinya, ia memiliki prinsip “ Mencari Sangu Mati, Bukan Sangu Urip, sehingga volunteer yang turut serta membantu beliau dalam mengembangkan Sekolah Rakyat pun dicari yang ”sudah tidak sibuk mencari dangu urip, namun sangu mati.Perjuangan mengharumkan beberapa desa dan kecamatan di wilayah Nganjuk, bukan tidak memiliki permasalahan, namun setiap desa yang di dampinginya memiliki beragam masalah.

Siti Nur Imamah memiliki prinsip “Mencari Sangu Mati, Bukan Sangu Urip.” Sehingga volunteer yang turut serta membantu beliau dalam mengembangkan sekolah rakyat pun dicari yang ”Sudah Tidak Sibuk Mencari Sangu Urip, Namun Sangu Mati.”

Best Practice community yang di bangun oleh Siti Nur Imamah dengan menggali kekurangan apa di daerah yang bersangkutan lebih bisa berjalan dan diterima, dibandingkan kita mendatangkan suatu yang menurut kita mereka butuh. Hal ini terbukti dengan semakin berkembangnya delapan daerah desa berdaya dan 6 desa wisata di bawah pendampingan beliau yang terletak di beragam kecamatan di Nganjuk Raya.

Dengan taktik saling bersinergi bersama stakeholder setempat, baik dari RT, RW, Kepala Desa dan Masyarakat diajak urun rembuk bersama. Sehingga dapat diketahui, sebenarnya mereka membutuhkan apa, setelah itu  kita memberikan suatu pelatihan, ide, dan penyelesaian melibatkan masyarakat, sehingga mereka merasa memiliki kegiatan tersebut. Berdasarkan pengalaman yang telah terjadi, tak jarang permasalahan-permasalahan di satu titik ternyata menjadi solusi untuk titik lainnya.

Kurikulum yang dimiliki oleh sekolah rakyat adalah memahami tutur masyarakat, mengubah bahasa ilmiah yang bisa diterima setiap komponen masyarakat. Memanusiakan setiap obyek dan mitra yang ditemui. Sehingga dari Sekolah Rakyat menghasilkan beragam titik temu pendidikan karakter, misalnya integritas, kecerdasan sosial, tanggung jawab, etos kerja, gotong royong, self esteem, dan masih banyak lingkup pendidikan karakter yang diperoleh dari masyarakat dan terbungkus dalam kegiatan sekolah rakyat.

Kurikulum yang dimiliki oleh sekolah rakyat adalah memahami tutur masyarakat, mengubah bahasa ilmiah yang bisa diterima setiap komponen masyarakat. Memanusiakan setiap obyek dan mitra yang ditemui.

Dari satu sudut daerah ke daerah lain menemukan beragam karakter masyarakat, sehingga hal ini bisa berdampak pada diri sendiri, dan orang sekitar penggerak kegiatan kemanusiaan. Misalnya membawa kepribadian yang awalnya egosentri menjadi humble, yang awalnya komitmennya kurang, hingga akhirnya berubah selalu termotivasi dan memiliki komitmen yang tegas.

Selain berdampak pada kepribadian, keilmuan pun ikut serta mengikuti, semakin memiliki banyak  masalah, semakin lihai pula menyelesaiakan masalah. Inilah yang kemudian dalam taksonomi revisi Andersoon, menempatkan pendidikan tertinggi bukan dari sintesis saja, melainkan menempatkan kreativitas yang di dalamnya mampu menyelesaikan beragam masalah yang dihadapi.

Gerakan yang didampingi oleh ibu Imamah ini sebenarnya bisa ditiru, dengan cara ATM Bag (Amati, Tiru, Modifikasi dan Bagikan) sehingga setiap generasi yang terpanggil untuk ikut serta berkontribusi diranah sosial dan kemanusiaan, dapat mengeksekusinya.

Gerakan yang didampingi oleh ibu Imamah ini sebenarnya bisa ditiru, dengan cara ATM Bag (Amati, Tiru, Modifikasi dan Bagikan) sehingga setiap generasi yang terpanggil untuk ikut serta berkontribusi diranah sosial dan kemanusiaan, dapat mengeksekusinya. Namun, yang menjadi kendala ketika hendak membuat aksi maupun lembaga sosial kemanusiaan, Pemuda selalu berfikir tentang perlunya memiliki kematangan secara materi, baik finansial maupun administrasi, selain itu juga kematangan cara berpikir sehingga yang terjadi langkah mereka seakan-akan terikat di tengah-tengah untuk melanjutkan langkah, atau mandek di tengah jalan.

Selain itu, fenomena yang menyelimuti kepedulian masyarakat adalah kejar kerja secara material, celoteh akan ketidak-ada-gunaan membuat aksi dan lembaga kemanusiaan karena tidak menghasilkan sesuatu berupa materi terutama finansial. Kebutuhan finansial memanglah tidak bisa dipungkiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Coba kita tengok, suatu misal kita membeli furniture meja, apakah dibawahnya tidak ada ruangan kosongnya, atau tidak ada rongga sela-sela dalam kepadatan sofa, ”pasti ada“ jawabannya. Analogi ini sama halnya dalam aksi kemanusiaan, manakala semakin banyak orang yang kita bantu, semakin banyak pula kebaikan yang diulurkan di sekitar kita.

Dengan demikian, sering berkumpul dibarengi saling berjabat tangan, pikiran, dan semangat terhadap orang-orang yang sepemikiran, akan semakin menguatkan kebaikan budi serta aksi kemanusiaan yang akan dibangun. Karena semakin banyak relasi kemanusiaan yang terhimpun maka akan semakin menguatkan langkah perjuangan kita.

Hadirnya sosiopreneurship dalam aksi sosial dan kemanusiaan, merupakan ilmu yang perlu di sebarluaskan untuk merubah mental dan cara berfikir, bahwa entrepreneur itu tidak saja berupa saham, barang, yang berupa materi saja, namun kegiatan aksi sosial dan kemanusiaan merupakan salah satu dari preneurship.

Sosiopreneurship masih jarang di kenal dikalangan para orang tua, yang mengkhawatirkan putra-putrinya bergelut dalam aksi sosial kemanusiaan. Pasalnya stigma yang tertanam bahwa ikut serta dalam aksi sosial dan kemanusian hanya bagi mereka yang memiliki waktu luang, pengangguran, tidak memiliki prinsip untuk bekerja. Tentu, makna bekerja di sini akan lari kembali pada orientasi secara material. Hal ini pun di buktikan oleh Siti Nur Imamah selain ia seorang pengawas pendidikan yang bekerja di institusi, ia meluangkan waktunya di hari Sabtu dan Minggu untuk mendampingi masyarakat melalui Sekolah Rakyat yang dikelolanya.

Jika pemahaman makna sosiopreneurship dimiliki oleh beberapa orang tua dan anak muda, maka akan terselenggara aksi kemanusian yang selalu menumbuhkan kebesaran hati untuk sekitarnya. Dengan pola pikir yang demikian akan mengantarkan motif baru dan semangat untuk berkontribusi dan mengapresiasi aksi kemanusiaan yang ada di sekitar kita.

Aksi kemanusiaan tidak lagi menjadi figur mencari muka manis di panggung sandiwara. Terpanggilnya hati untuk ikut serta mengobati kesenjangan yang ada di setiap segmen masyarakat merupakan hal yang wajib sebagai prinsip tanggung jawab dalam hidup sosial dan bernegara.

Editor: Arif Maulana