Menggugat Jejak Tentara Santri yang Dibuang

0
191

Kampus Desa Indonesia — Kaget rasanya mendengar kesimpulan bahwa para santri sebenarnya telah berkonstribusi dalam mempertahankan kedaulatan bangsa ini, tetapi ternyata demi perbedaan pemikiran, sejarah kaum santri disingkirkan dari historiografi tentara Indonesia. Bagaimana bisa begitu ?

Menarik mengikuti diskusi di hotel Grand Palace Malang (19/10/2017) tentang sejarah hidup KH Masykur (1902 – 1992), Seorang Kyai dan Panglima Sabilillah dari Arema (Malang) yang difasilitasi oleh Pemerintah Kota Malang. Diskusi ini dilakukan untuk mengaji kelayakan KH. Masykur sebagai Pahlawan Nasional. Pengajuan ini didasari jasa semasa revolusi kemerdekaan. Apalagi, KH. Masykur pernah menjabat menteri agama zaman Soekarno. Siapa KH. Masykur ? KH. Tholhah Hasan dan KH. Agus Sunyoto membantu para audiens memahami sudut pandang yang menjadikan KH. Masykur sebagai sosok penting yang layak diberikan gelar Pahlawan Nasional.

Baca juga : Manakib tradisi keilmuan Santri untuk Indonesia emas

Bahkan, KH. Masykur adalah tokoh penting yang terlibat menjadi salah satu panitia persiapan kemerdekaan di BPUPKI. Peran-peran dalam pemerintahan Soekarno telah menjadikan KH. Masykur adalah tokoh penting. KH. Masykur berasal dari Jepara dan peran penting tersebut tidak bisa dilepaskan dari dinamika hidupnya di Malang. Peran kenegarawanan tersebut bahkan sampai di masa Orde Baru, yang mana KH. Masykur perenah menjaba sebagai wakil ketua DPR-RI.

Masykur tumbuh dari pesantren ke pesantren termasuk akhirnya menjadi salah satu menantu KH Rohim dari Bungkuk Singosari. Selain itu, hubungan pengetahuan keagamaan KH. Masykur tidak bisa dilepaskan persinggungannya dengan para Kyai yang membidani lahirnya NU, seperti Kyai Kholil Bangkalan, KH. Wahab Chasbullah dan KH. Hasyim Asyari, termasuk persinggungannya dengan pesantren Jamsarena Solo yang banyak melahirkan tokoh-tokoh penting nasional zaman kemerdekaan.

Menurut KH. Tholhah Hasan, sejak bersinggungan dengan para kyai dan keluar masuk pesantren tersebut, KH. Masykur mulai tumbuh minat dalam dirinya untuk cinta agama, cinta negara dan cinta bangsa yang pada akhirnya menentukan arah perjuangan KH. Masykur untuk berkhidmat demi agama dan negara.

Beliau adalah pengurus NU Cabang Malang hingga PBNU yang tahun 51an sudah terlibat dalam perhatian kebangsaan. Beliau juga pernah menjabat Menteri Agama empat kali. Dan beliau terlibat masalah-masalah keagamaan. Dalam bidang keagamaan, KH. Masykur adalah sosok penting yang jejaknya tidak bisa dipisahkan dari pergumulan organisasi di NU. Beliau adalah pribadi yang besar mulai dari Anshor, menjadi ketua NU Cabang Malang sampai dengan menjabat ketua PBNU terlama, empat periode.

Di bidang perjuangan kemerdekaan, KH. Masykur pun satu diantara kyai yang turut serta menjadi bagian dari pasukan perang gerilya bersama Panglima Besar Jendral Soedirman. Pengalaman inilah yang akhirnya menempatkan KH. Masykur adalah sosok yang memiliki pengalaman berjuang memanggul senjata. Bahkan, KH. Masykur kemudian menjadi salah satu tokoh sentral dalam barisan pasukan perjuangan di bawah pasukan Sabilillah sebagai salah satu dari anak kandung pasukan Hizbullah yang bergerak melawan agresi Inggris dan Belanda di masa revolusi kemerdekaan, terutama untuk agresi menjelang perlawanan 10 November. KH. Masykur lah yang diamanati KH. Hasyim Asyari untuk mengawal resolusi jihat melawan agresi militer Inggris di Jawa Timur.

Ada dua catatan penting jejak KH. Masykur di Malang, yakni produk pemikirannya bisa disaksikan dengan berdirinya Perguruan Tinggi dan RSI Unisma. KH. Masykur mendorong bahwa pendidikan dan kesehatan perlu dikembangkan untuk melayani masyarakat umum. Sebagaimana disampaikan KH. Tholhah Hasan, pusat pendidikan Ma’arif yang ada di Singosari pun bagian dari buah pikir KH. Masykur.

10 November dan Santri Terbuang

Penuturan menarik tentang historiografi pahlawan santri mengagetkan. KH. Agus Sunyoto, Pengasuh Pesantren Global Malang dan Ketua Lesbumi PBNU, menyatakan, telah terjadi beberapa usaha yang sistematis menghilangkan peran penting para santri dan kyai dalam poros penting pembentukan kemerdekaan Indonesia dan setelahnya.

Agus Sunyoto membongkar beberapa historiografi kyai dan santri yang terkubur oleh dampak kebijakan dan dimulainya pengelolaan negara menggunakan rasional birokratis. Agus Sunyoto memiliki data-data akurat yang menyatakan bahwa peran kyai dan santri sangat besar, terutama dalam membangun kekuatan perjuangan melawan penjajah.

Agus Sunyoto dalam risetnya menemukan data bahwa, banyak sekali nama-nama komandan pasukan, tentara zaman kemerdekaan atau sebelumnya yang namanya ada sebutan KH, sekarang sebutan tersebut lenyap, seperti nama KH. Sam’un, KH Sandar Sulaiman. Nama-nama tersebut merupakan di antara komandan gerakan nasional, atau Tentara Rakyat Indonesia. Keterlibatan kyai dan santri tersebut tidak hanya di komandan tentara, tetapi juga sebagai prajurit.

Mengapa kok para kyai dan santri mendominasi ? Saat membangun negara kemerdekaan, pembentukan alat kelengkapan negara tentunya membutuhkan biaya. Lalu, siapa yang mau jikalau negara merekruit tentara tanpa dibayar. Kata Agus Sunyoto, jawabannya ya santri. Santri sudah sangat terlatih berjuang demi negara ini, apalagi perjuangan negara juga sepadan dengan pengalaman jihad (yakni membela negara juga sama dengan pengalaman beragama), Selain itu, para santri juga memang dididik untuk menyiapkan diri melawan kedhaliman terhadap negeri ini.

Santri yang dapat diorganisir melalui pesantren dan kyainya, tentunya merupakan kekuatan besar yang dapat digerakkan untuk melawan penjajah. Logika inilah mengapa santri menjadi anggota Tentara Rakyat Indonesia waktu itu. “Siapa yang mau melawan penjajah dan mengorbankan diri demi negara Indonesia kalau bukan kyai dan santri,” tegas Agus Sunyoto.

Fakta yang ditemukan tidak hanya itu. Ikhwal posisi KH. Masykur yang berjuang dari Malang. KH. Masykur adalah komandan Sabilillah. Sabilillah itu sama dengan Hizbullah. Pembedaan ini didasari oleh perbedaan antara kyai dan santri. Oleh karena itu, Hizbullah kemudian dipecah, terutama yang kiai dipecah dan diberi nama Sabilillah dan santrinya berada di Hizbullah. Peran kedua pasukan ini tidak bisa diabaikan, terutama zaman revolusi menjelang perang 10 November 2017,

Waktu itu, komandan Tentara Keamanan Rakyat yang dipimpin Sujai, berangkat dari Malang bergerak ke Surabaya. Menurut Agus Sunyoto berdasarkan bukti nyata dari dokumentasi yang dikumpulkan, Sujai didukung juga rombongan pasukan Hizbullah-Sabilillah mulai dari Malang, Singosari, Lawang hingga Surabaya dengan jumlah yang cukup banyak, 10 ribu pasukan Hizbullah-Sabilillah. Sebagian besar adalah pasukan santri. Mengapa ini terjadi ? Tidak mungkin proses transisi kemerdekaan ini langsung merekrut tentara untuk melawan pendudukan Inggris-Belanda. Jawabannya tidak lain adalah mengerahkan pasukan santri melalui Hizbullah-Sabilillah.

Gerakan ini memang sebelumnya diawali oleh komunikasi Soekarno, KH. Hasyim Asyari dan termasuk KH. Masykur. Soekarno meminta pertimbangan bagaimana cara mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajahan. Mereaksi itu, lalu, KH. Hasyim Asy’ari mengeluargkan fatwa resolusi jihat yang kemudian menggerakkan semua santri menuju Surabaya untuk melawan tentara Inggris. Resolusi jihad dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 dan pertempuran dengan tentara Inggris dan Belanda sudah mulai bergerak 26 Oktober 1945. Kedatangan pasukan tersebut juga tidak lepas dari skenario Jepang.

Kata Agus Sunyoto, perang ini langka. Tentara Inggris dan Belanda dilawan tanpa senjata. Tentunya, juga banyak sekali korban di pihak pasukan tanah air, khususnya pasukan yang menjadi satu dengan Sabilillah. Bahkan, ditegaskan, pada 3 Ramadhan, agresi Belanda masuk ke Malang, yang kemudian menelan banyak korban, Mulai dari Lawang sampai dengan Blimbing. Jenazah bertebaran sepanjang jalan tersebut. Menapaki kisah inilah, mengapa sekarang di Blimbling ada masjid Sabilillah.

Sebagaimana diungkapkan oleh Agus Sunyoto, jejak santri di pasukan tentara nasional tidak bisa diabaikan. Agus Sunyoto memiliki data faktual di kearsifan tentara, nama-nama sejumlah komandan pasukan adalah nama yang di depannya tersemat gelar KH. Mengapa sekarang menjadi sirna. Ada suatu peristiwa penting yaitu lahirnya kebijakan RERA (Restrukturisasi dan Rasionalisasi Tentara) yang di usung oleh Bung Hatta di tahun 1948. Katanya, kebijakan ini dilihatnya sangat seksis dengan anggota tentara yang kebanyakan santri. Apalagi jika dirunut Bung Hatta memiliki pandangan sosialis. Kebijakan RERA adalah awal dimulainya penerapakan modernisasi birokrasi di tubuh tentara. Untuk itulah, muncul kebijakan bahwa militer harus profesional yang dibuktikan dengan ijazah. Rontoklah para tentara yang dulu gegap gempita melawan penjajah akhirnya rontok, termasuk tentara berlatar belakang santri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here