Mengenal Lebih Jauh Virus Corona dan Pola Infeksinya Bersama Alissa Wahid (2)

0
292
(Foto diambil dari www.nu.or.id.)

0Shares
0

Salah satu keunikan sekaligus bahaya Virus Corona adalah suka numpang dan melompat-lompat dari orang sehat ke orang sehat hingga bertemu orang tidak sehat. Jika menular ke orang yang sehat ia tak menampakkan gejala apa-apa. Orang tersebut akan tetap beraktivitas seperti biasa dan berinteraksi dengan banyak orang karena tidak sadar sedang membawa Corona. Akibatnya, orang tersebut menulari banyak orang. Ia menjadi Super Spreader.

kampusdesa.or.id-Hal yang menarik dari infeksi Corona adalah jika orang yang terinfeksi dalam keadaan sehat, maka tidak berpengaruh. Seperti yang terjadi di Korea Selatan, justru para pemuda yang sehat yang menjadi pembawa virus. Mereka tidak sadar jika sudah tertular virus dan tetap beraktivitas seperti biasa. Mereka lalu menulari orang yang sehat juga. Orang kedua lalu menulari orang yang kurang sehat. Nah, orang ketiga inilah yang fatal akibatnya. Dialah yang akan menderita Covid19.

Teman-teman bisa lihat di sini. Ini pemetaan dari Singapur. Ini adalah sebuah Gereja di Singapur, penularannya adalah pada saat Misa. Yang pertama di Gereja karena penularannya lewat misa. Kedua dari gym. Memang situasinya jadi sangat rumit karena penularannya sangat mudah. Kan konyol sekali satu orang bisa menulari banyak orang. Atau contoh tadi, yang naik pesawat berapa banyak yang akan positif corona. Ini yang disebut sebagai klaster dari satu orang nulari ke berapa orang.

Berkaitan dengan hal terssebut juga dikenal istilah Super Spreader. Super Spreader? Apa itu? Orang yang menulari sangat banyak ke orang lainnya. Misalnya, yang korea selatan, pasien 31 itu dia tidak menulari 43 orang, dia menulari langsung mungkin 43 orang, tapi dia menyebabkan 80 persen kasus di korea selatan dari klaster dia saja. Makanya dia disebut super spreader. Ini ada orang sakit dia ke klinik, dokternya bilang periksa dia tidak mau malah dia pergi ke Gereja, setelah itu ke salon dan beberapa hari kemudian dia ke gereja lagi. Akhirnya dia menulari 80 orang lain.

Di Italia, pasien pertama berada di Lombardia, dia di rumah sakit dan menulari 10 orang. Yang menarik super spreader yang sekarang lagi heboh itu tabligh akbar di Malaysia. Tabligh akbar itu dihadiri 10 ribu orang dari berbagai negara, ini kumpulan jamaah tablig. Lalu orang-orang pada pulang, dan 5.000 datang dari Malaysia dan sisanya dari beberapa negara dan tidak ada apa-apa. Lalu di Brunei hasil tes nya positif, dia dilacak ke mana aja dan bilang kalau dari Malaysia. Pemerintah Brunei memberi tahu ke Malaysia, langsung pemerintah Malaysia melakukan testing, dari testing ditemukan banyak sekali orang yang tertutal dari tabligh akbar. Gara-gara tabligh akbar yang awalnya 200 orang melonjak menjadi 500 orang dalam waktu beberapa waktu di Malaysia. Akibatnya Malaysia sekarang ini lockdown.

Di Brunei, dari 85 orang yang ikut Tabligh akbar itu, sekitar 40 yang sudah terbukti positif tertular Corona. Di Singapura juga demikian, lockdown juga. Itu yang disebut super spreader. Itulah yang menyebabkan minggu lalu, saya berjibaku di PBNU agar bisa menunda munas alim ulama yang harusnya hari ini dilakukan di pesantren al-Anwar, Sarang Rembang. Namanya NU kumpul ada ribuan santri di situ dan ada kiai sepuh dan bunyai sepuh, yang mereka punya resiko tinggi. Saya waktu itu berharap PBNU mau menunda. Alhamdulillah mau menunda. Tapi konyolnya, masih banyak orang yang beranggapan “Enggak ini hanya flu biasa, nggak mungkin saya ketularan, atau saya ini punya amalan kan kita orang bertakwa jadi kita tidak boleh takut”

Di Malang ada dua kasus, satu radang, dan satu meninggal. Keduanya berinteraksi dengan orang yang meninggal tanggal 3 Maret. Dia berinteraksi dengan orang meninggal karena radang paru-paru tapi dia negative corona. Waktu itu dia masuk rumah sakit dalam kondisi radang paru-paru berat, tapi dites hasilnya negatif, maka rumah sakitnya slow saja. Maka yang ngurusin dia biasa aja. Apalagi meninggalnya tidak karena corona. Tapi kalau dia meninggal di tanggal 3 Maret di akhir minggu ketiga, jadi ketularannya kapan? kemungkinan di minggu kedua Februari, ibu ini yang kemarin meninggal berarti kira-kira kalau pakai standar normal, katakanlah meninggalnya positif corona tanggal 17 Maret, kalau kita tarik 3 minggu sebelumnya di akhir Februari sampai temennya meninggal dia masih merasa aman dan tidak menunjukkan gejala apa-apa masih bertemu banyak orang, dan barketemu. Kebayang nggak? Dari pertengahan Februari dari kasus 3 Maret, dia bertemu banyak orang.

“Sepanjang kita sehat kita tidak perlu khawatir. Insyaallah bisa 80% menang terhadap virusnya, nanti ada sisanya 15% yang gejala ringan 5% itulah yang fatal”

Kita tidak tahu apakah orang-orang di sekitar kita positif atau tidak. Sepanjang kita sehat kita tidak perlu khawatir. Insyaallah bisa 80% menang terhadap virusnya, nanti ada sisanya 15% yang gejala ringan 5% itulah yang fatal. Tetapi karena wataknya suka numpang, lompat-lompat dari orang sehat ke orang sehat sampai ke orang tidak sehat, maka kita memang harus hati-hati.

Kalau kita menjaga jarak dengan orang lain. Misalnya, kita punya beberapa teman dan dia misalnya positif Corona. Kalau kita menjaga jarak ke dia, maka tidak menular. Ataupun kita ketularan dan dia di rumah maka tidak menularkan. Itu yang bisa dilakukan. Jadi, itu sesuatu yang sifatnya personal, pada saat yang sama negara harus mengatur karena resiko sangat tinggi.

“Jangan sampai menjalani takdir, tapi takdir yang dia pilih takdir menularkan Corona ke orang lain seperti kasus 31 di Korea Selatan”

Di Indonesia masih banyak orang yang tidak peduli, tidak paham, masih banyak orang yang cara berpikirnya tawakkal kepada allah Swt. dan tidak berusaha. Padahal kalau mati sendiri tidak apa-apa, kalau menyebabkan wabah ke orang lain itu hal yang lain. Jangan sampai menjalani takdir, tapi takdir yang dia pilih takdir menularkan Corona ke orang lain seperti kasus 31 di Korea Selatan.[]

Disadur dari transkrip diskusi online Jaringan Gusdurian bersama Alissa Wahid, 18 Maret 2020

Ayo bantu masyarakat kecil yang terjangkit Corona dengan melakukan donasi melalui https://kitabisa.com/