Mengenal Filosofi Ketupat Lebaran dari Si Mbah

0
124
lebaran ketupat
Gambar ketupan lebaran 2020 (Sumber gambar: jogja.tribunnews.com)

0Shares
0

Selain cerita dari Si Mbah, banyak referensi yang menyatakan filosofi dari “Ketupat”. Ada yang membeberkan ajaran-ajaran para wali, pesan moral dari masyarakat jawa, maupun menafsirkan simbol-simbol ini dari segi pendidikan. Apapun itu, yang terpenting di balik lezatnya sepotong ketupat ternyata tersimpan filosofi yang begitu indah yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan manusia, terutamanya umat muslim. Silakan disimak ulasan dalam tulisan berikut ini.

Kampusdesa.or.id–Lebaran selalu jadi momen istimewa. Setiap lebaran selain momen kumpul keluarga, ada salah satu momen yang paling ditunggu-tunggu adalah makan opor ayam. Tidak lengkap rasanya jika opor ayam tanpa ketupat. Berkumpul bersama keluarga besar sambil menikmati hidangan yang hanya ada satu kali dalam setahun ini rasanya memang berbeda. Bisa jadi makan ketupat saat momen lebaran sudah jadi tradisi turun-temurun di Indonesia. Maka tidak heran sebagian menyebut hari raya idul fitri dengan istilah lebaran ketupat (Jawa: rioyoyo kupat/kupatan). Sampai dengan memasuki bulan syawal tradisi makan ketupat ini masih menjadi semarak di Indonesia.

Sebagai anak rantau di negeri orang, tentu saya juga tidak mau ketinggalan. Seperti menjadi hal yang wajib bisa mencicipi makan ketupat di hari lebaran, karena sudah terpatri dalam budaya Indonesia bahwa ketupat adalah bukan makanan biasa. Pokoknya harus ada di antara hidangan lainnya. Untung di sini setiap hari raya idul fitri bisa makan ketupat di Kedutaan saat acara open house di wisma nusantara. Sayangnya di masa pandemi sekarang ini momen tersebut tidak dapat saya rasakan kembali. Tentu sedih karena kangen suasana kumpul-kumpul sembari makan ketupat sebagai “tombo kangen” keluarga di rumah.

Ada hal lain yang saya kangeni jika mengingat tentang “ketupat”, yaitu almarhum kakek. Dulu sewaktu kecil, kakek saya si mbah Marzuki pernah mengajari cara membuat ketupat, dengan janur kelapa yang biasa kami beli di pasar. Saat belajar membuat ketupat, beliau juga menceritakan sejarah ketupat dan filosofi di balik ketupat ini. Setelah saya baca-baca ulasan di berbagai artikel, ternyata kurang lebih sama meski ada sedikit perbedaan atau tambahan.

Ketupat itu berasal dari masa hidup Sunan Kalijaga (ada sumber lain yang mengatakan sejak pemerintahan Demak), tepatnya di masa syiar Islam di Indonesia pada abad ke-15 hingga 16. Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosofi Jawa yang berbaur dengan nilai ke-Islaman. Alkulturasi budaya jawa yang dibumbuhi ajaran Islam ini sebagai bentuk media dakwah bagi Sunan Drajat. Sehingga mudah dalam menyampaikan dan mengena, buktinya masih tetap dilestarikan hingga sekarang.

Sebelum saya paparkan mengenai filosofi ketupat bagi yang belum tahu, ketupat itu berasal dari masa hidup Sunan Kalijaga (ada sumber lain yang mengatakan sejak pemerintahan Demak), tepatnya di masa syiar Islam di Indonesia pada abad ke-15 hingga 16. Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosofi Jawa yang berbaur dengan nilai ke-Islaman. Alkulturasi budaya jawa yang dibumbuhi ajaran Islam ini sebagai bentuk media dakwah bagi Sunan Drajat. Sehingga mudah dalam menyampaikan dan mengena, buktinya masih tetap dilestarikan hingga sekarang. Walaupun saya yakin tidak banyak yang tahu apa makna di balik ketupat ini.

Banyak yang beranggapan kata “Kupat” juga berasal dari “Ngaku Lepat”. Kata yang berasal dari bahasa Jawa ini memiliki arti “mengaku bersalah”. Jadi ketka hari raya Idul Fitri biasanya dijadikan ajang mengakui kesalahan masing-masing dan saling bermaaf-maafan.

Si mbah saya mengatakan kalau karena umumnya ketupat disajikan beserta opor ayam yang bersantan, di mana dalam pantun Jawa dikatakan “kupa santen” artinya “kulo lepat nyuwun ngapunten”. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya “saya salah, saya minta maaf”. Banyak yang beranggapan kata “Kupat” juga berasal dari “Ngaku Lepat”. Kata yang berasal dari bahasa Jawa ini memiliki arti “mengaku bersalah”. Jadi ketka hari raya Idul Fitri biasanya dijadikan ajang mengakui kesalahan masing-masing dan saling bermaaf-maafan.

Ketupat dibungkus dengan janur (daun muda krambil atau kelapa) ini juga mengandung makna yang bagus. Dulu para wali berdakwah tidak hanya menyerap bahasa masyarakat setempat, tetapi juga mengenalkan bahasa arab sebagai bahasa leluhurnya. Janur diambil dari kata “jatining nur” yang dijadikan lambang cahaya hati nurani.

Bentuk ketupat yang balok segiempat ini juga mengandung pesan. Pada masa Islam, Sunan Kalijaga memberikan sentuhan makna lain. Empat sisi ketupat direpresentasikan dengan Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan. Semua ini berhubungan dengan sikap manusia. Lebaran berarti pintu ampun yang dibuka lebar terhadap kesalahan orang lain. Luberan berarti melimpahi, memberi sedekah pada orang yang membutuhkan. Leburan berarti melebur dosa yang dilalui selama satu tahun. Adapun, Laburan yakni menyucikan diri, bersih kembali layaknya bayi tanpa dosa.

Adapun versi lain menafsirkan bahwa anyaman janur melambangkan tali silaturahmi. Pola anyaman yang rapi melambangkan kesempurnaan. Beras menggambarkan nafsu duniawi dan yang terakhir isi ketupat berwarna putih mencerminkan kesucian hati. Rupanya selain lezat, di balik sepotong ketupat tersimpan filosofi yang begitu indah yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan manusia, terutamanya umat muslim.

Beda halnya menurut Idirs Apandi (2017), ketupat bukan hanya sekedar menu wajib lebaran, tetapi jika ditelaah dari konteks pendidikan, ada tujuh pesan moral  yang dapat dijadikan pelajaran di antaranya kebersihan, kebaikan, penuh perhitungan, proporsionalitas, persatuan, keindahan, dan sinergi. Berdasarkan kepada uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ketupat bukan hanya makanan yang enak dinikmati pada saat lebaran, tetapi memberikan sejumlah pesan moral untuk meningkatkan kualitas diri bagi manusia yang berpikir.

Apa daya saya yang jauh dari rumah, tidak bisa menikmati hidangan spesial ini. Hanya bisa memasang muka pengen sambil menyanyikan lagu “Ketupat Lebaran” sebagai berikut:
Nana nanan nana
Ketupat lebaran
Nana nanan nana
Ketupat lebaran
Ketupat lebaran dengan sayap opor ayam
Disantap sepulang dari shalat idul fitri
Untuk kakek dan nenek tetangga sahabat
Senangnya…
(Tasya, 2000)
Wallahua’lam.