Mengapa Usaha Tidak Linier dengan Hasil ?

0
170

BANYAK hal yang timpang dan tidak linier dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang bekerja keras belum tentu ia berhasil mencapai tujuannya, karena belum tentu orang berhasil karena kerja kerasnya, sebaliknya karena tahu betul bagaimana cara bekerja yang menghasilkan. Menjadi pintar bukan semata-mata karena ia belajar paling rajin, namun karena mereka tahu betul bagaimana cara belajar yang terbaik. Anak merasa dicintai bukan karena selalu bersama 24 jam sehari, namun tahu menempatkan kebersamaan secara tepat pada waktu yang sesuai.

Tulisan singkat ini berusaha memotret paradoks yang terjadi dalam linieritas hasil. Konteks kemajuan era revolusi industri 4.0 membawa revolusi besar-besaran pada cara kerja orang. Keterhubungan dengan internet dan interkoneksivitas antara creator dan customer, customer dengan customer dari berbagai belahan dunia telah memotong luasnya dunia. Semua orang dengan mudah menemukan informasi, peluang, dan momentum dari setiap perubahan.

Seorang teman dosen dari Univ. Negeri Padang – Mas Yanladilla, saya biasa memanggilnya – menceritakan sebuah kisah kepada saya dan cerita ini mirip dengan yang saya dengar Pak Tung Desem Waringin. Ada seorang pegawai yang sudah bekerja di sebuah kantor selama 20 tahun merasakan ketidakadilan karena tidak dipromosi naik jabatan, sementara pegawai baru yang bekerja selama 2 tahun berhasil naik jabatan dengan mudah. Ia protes kepada atasannya dan merasa tidak terima dengan perlakuan tersebut. Protes itu dijawab oleh atasannya dengan sangat baik. Si pekerja 20 tahun ini, sebenarnya tidak bekerja selama 20 tahun, namun ia bekerja selama setahun dan diulang selama 20 kali. Sementara pekerja 2 tahun berhasil melakukan perubahan dan kemajuan 20 kali dalam 2 tahun.

Hasil kinerja besar atau tidak bukan karena kerja kerasnya (meski ini tetap harus dilakukan) tetapi karena tahu cara kerja yang paling efektif dan efisien.

Saya nda tahu, apakah kisah di atas benar adanya atau tidak, namun kita dapat belajar tentang satu hal, yaitu hasil kinerja besar atau tidak bukan karena kerja kerasnya (meski ini tetap harus dilakukan) tetapi karena tahu cara kerja yang paling efektif dan efisien. Dengan kemajuan teknologi dan serba digitalisasi proses, seharusnya membuat banyak aktivitas menjadi lebih mudah terbantu diselesaikan tepat waktu. Output-nya menjadi lebih banyak pekerjaan yang diselesaikan dengan prioritas terutama.

Bagaimana Startegi Energi Minimal Hasil Maksimal?

Sambil menulis ini, saya mengevaluasi beberapa hal, seperti pekerjaan yang luput dari prioritas, projek yang belum selesai dikerjakan, dan jadwal-jadwal training yang harus ditata. Saya bertanya pada diri sendiri, bagaimana cara yang paling efektif untuk meng-arrange ini menjadi sangat jauh lebih efektif dan efisien. Saya yakin pasti ada suatu hal yang dapat memudahkan dan mempercepat semua pekerjaan ini. Saya sampai pada kesimpulan betapa banyak aktivitas yang menyibukkan namun tidak menghasilkan sehingga mengganggu produktivitas utama.

Berangkat dari pengalaman saya (mungkin ini tidak berlaku buat Anda) maka saya mencatat 3 poin penting sebagai langkah awal perubahan:

Strategi 1 : Fokus pada Tujuan Utama

Menemukan Tujuan Utama dalam hidup, perjalanan karir, bisnis, pendidikan, pekerjaan, dan lain sebagainya ternyata tidak mudah. Banyak hal yang menjadi kamuflase sehingga menutupi hal-hal yang paling penting dalam aspek utama kehidupan kita. Konsekuensinya kita tidak mampu menemukan orientasi yang jelas dan prioritas the most important.

Apa yang bisa dilakukan? Temukan cara yang paling sesuai dan cocok untuk diri Anda. Apakah ada contohnya? Tentu banyak, namun belum pasti pas dengan kebutuhan kita. Mungkin lain kali saya share tentang beberapa contoh yang dapat jadi acuan (bersambung).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here