Mengapa Saya Tidak Golput

0
86

Besuk sudah coblosan. Malam ini yakinkan bahwa hak Anda adalah jawaban memilih atau tidak. Tapi, kalau ada kriteria yang lebih cocok meski belum idealis, berarti sudah mulai naksir. Jika sudah ada yang ditaksir, hak seorang untuk mengungkapkan rasa cinta, atau ya setidaknya bersimpat untuk mendekatinya. Jika demikian, mengapa tidak sebaiknya menjoblos kalau sudah bisa naksir?

KampusDesa–Bagi saya, memilih dalam Pemilu seperti memilih perempuan untuk dinikahi (maaf, contohnya tentang perempuan karena saya laki-laki hetero).

Menikah dan dengan siapa kita menikah itu harus dengan kebebasan. Menikah atau tidak itu adalah hak. Dan yang lebih penting, tidak dipaksa untuk menikahi perempuan yang disodorkan secara paksa ke kita.

Ada org yang menikah karena dijodohkan paksa. Sekalipun tidak bebas menentukan, mungkin saja mereka hidup bahagia karena ternyata pasangannya adalah org baik. Namun, bisa saja mereka tidak bahagia karena pasangannya tidak sesuai harapan.

Bagi orang seperti saya, saya memerlukan kebebasan dalam menentukan pasangan. Mengapa kita perlu bebas dalam memilih? Jawabannya adalah karena setiap pilihan dituntut tanggung jawab. Tanggung jawab hanya ada jika kita bebas dalam mengambil keputusan.

Memilih dalam pemilu adalah hak, maka kita bebas untuk mengambilnya atau tidak. Kalau memilih itu kewajiban, maka itu berarti pemaksaan. Saya akan melawan

Memilih dalam pemilu adalah hak. Karena hak, maka kita bebas untuk mengambilnya atau tidak. Kalau memilih itu kewajiban, maka itu berarti pemaksaan. Saya akan melawan karena, seperti dalam urusan pernikahan, saya tidak mau dipaksa menikah.

Kandidat yang saya pilih haruslah orang yang saya kehendaki. Mereka bukan orang-orang yang dipaksakan oleh sistem politik yang tidak demokratis. Harus ada sistem yang memungkinkan siapa saja yang memenuhi syarat bisa mengajukan dirinya menjadi kandidat.

Jika dua syarat di atas terpenuhi, saya akan memilih. Seperti dalam keputusan menikah, saya memutuskan menikah karena saya memang membuat keputusan untuk menikah.

Bersiap mencoblos. Sudahkah dipertimbangkan secara rasional ?

Jika dua syarat di atas terpenuhi, saya akan memilih. Seperti dalam keputusan menikah, saya memutuskan menikah karena saya memang membuat keputusan untuk menikah. Tidak dipaksa.

Saya akan menentukan perempuan terbaik untuk menjadi pasangan hidup saya. Saya tak mencari bidadari. Saya tahu dia punya kelemahan, seperi saya juga.

Jika ada yang tidak mau menikah ketika situasi seperti di atas, mungkin dia memutuskan untuk selibat. Bagi yang memutuskan selibat, saya menghormatinya. Tak perlu lagi penjelasan, karena memang selibat kok.[]

Sidoarjo, 15 Aprl 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here