Mengapa Jadi Sales Marketing Lebih Menarik daripada Jadi Guru?

0
238

Sungguhpun menjadi guru merupakan status sosial yang prestige di masyarakat, namun pada kenyataannya banyak guru yang ‘banting setir’ ke profesi lain karena ‘tanda jasa’ yang diterima tak mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Lagi-lagi kesejahteraan menjadi faktor utamanya. Persoalan laten ini ternyata belum juga terselesaikan di dunia pendidikan kita. Kisah menarik di bawah ini kiranya dapat kita jadikan bahan muhasabah.

Membaca buku yang berjudul  “Tak Asal Jadi Guru,  Jadi Guru yang Tak Asal” karya Sigit Priatmoko mengingatkan saya pada status di media sosial yang saya tulis dua tahun lalu. Status tersebut mendapatkan apresiasi like sebanyak 72 dan komentar sebanyak 19. Isi status tersebut adalah tentang pilihan hidup seseorang, antara jadi guru dan bukan guru. Cerita ini “klik” dengan penuturan Pak Sigit Priatmoko di awal-awal tulisan yang ada di bukunya itu. Seperti biasanya, saya tulis status tersebut dengan bahasa media sosial. Berikut saya tuturkan dengan gaya percakapan agar tidak merusak makna dari apa yang disampaikan lawan bicara saya.

***

Mejadi apa atau siapa adalah pilihan hidup. Pilihan dan jalan yang diambil mungkin memang lebih baik dan menyenangkan pribadi yang bersangkutan dan orang-orang terdekatnya. Pilihan-pilihan hidup itupun pasti tak jauh dari mind set yang sudah terbangun dalam diri masing-masing. Saya memiliki cerita dari apa yang saya dengar sendiri tentang pilihan profesi seorang anak yang dituturkan ibunya secara tak sengaja kepada saya .

Siang itu (31 Oktober 2017), saya ngobrol ringan dengan para pasien fisioterapi. Ruang tunggu pelayanan publik manapun pasti memunculkan interaksi sosial, termasuk ruang tunggu pelayanan fisioterapi di rumah sakit Kristen Mojowarno Jombang ini. Salah satu dari mereka, seorang ibu usia 60an tahun lebih, bertanya kepada saya.

“Mucal dateng pundi? ” (Memgajar di mana?) Hemm… penampilan saya menampakkan wajah pendidik rupanya. Padahal ini tidak sedang berbusana formal dan saya tidak sempat mengenalkan diri sebagai “guru” kepada ibu ini. Tanpa banyak pikir saya jawab pertanyaannya tersebut, singkat sesuai pertanyaannya. Lalu ia bercerita jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia begini.

“Anak saya juga dulu ingin jadi guru, tapi mboten keturutan (tidak tercapai). Lulusan UNESA…”

Ahai, rasanya saya bakal dapat calon guru baru ini! Hati saya bersorak suka cita mendengar ceritanya. Saat itu lembaga yang saya kelola membutuhkan guru, kalau putrinya mau mengajar di PAUD saya, kekosongan guru PAUD segera teratasi. Saya bersiap menawari ibu ini agar putrinya berkenan mengajar di PAUD yang saya kelola. Namun sebelumnya, tentu saya perlu mengetahui dulu penyebab tidak terpenuhinya cita-cita anak ibu tersebut.

“Kenging nopo mboten keturutan?” (mengapa tidak tercapai?) tanya saya memacing informasi selanjutnya.

“Lha guru sukwan, gajinya Rp 400.000-Rp 500.000, tigang tahun dados guru, lajeng pindah dados sales…” (Jadi guru sukwan, gajinya  Rp 400.000- Rp 500.000. Tiga tahun jadi guru, kemudian pindah menjadi sales)

Ups! Langsung ciut nyali saya berharap mengajak putri ibu tersebut jadi guru PAUD. Tapi saya tidak selesai bertanya sampai di situ.

“Kerjanya di kantor ya, Bu?” Tiba- tiba saja saya ingin tahu apakah pekerjaan yang dipilih anaknya ini selain pertimbangan gaji mungkin ada pertimbangan kenyamanan di tempat kerjanya, dan jawabanya di luar dugaan saya.

“Orang tua pasti memiliki kebanggaan tersendiri atas capaian anak-anaknya untuk diceritakan kepada orang lain”

”Tidak di kantor. Tapi jalan-jalan, sebagai sales marketing…” Jawabnya. Ia kemudian melanjutkan cerita pekerjaan anaknya yang lain, juga bukan guru. Saya mengira saja, mungkin gajinya juga besar atau lebih besar dari guru. Saya maklumi orang tua pasti memiliki kebanggaan tersendiri atas capaian anak-anaknya untuk diceritakan kepada orang lain. Saya jadi teringat pesan dan harapan almarhumah ibu saya, agar saya menjadi guru.

“Guru tidak dianggap sebagai aktivitas ekonomi karena saya disuruh ibu saya membuka toko pada siang harinya”

“Kalau kamu jadi guru, paginya mengamalkan ilmu di sekolah, pulang mengajar kamu bisa buka toko di rumah.” Saya pahami dari pesan ibu saya ini, bahwa guru tidak dianggap sebagai aktivitas ekonomi karena saya disuruh ibu saya membuka toko pada siang harinya.

Semoga rezeki para pendidik Indonesia barokah, ada aktivitas lain selain menjadi guru agar tidak menggagu niat baik menjadi guru sebagaimana pesan Mbah Kyai Maimoen Zubair yang diviralkan sepanjang waktu.

“Nak, kamu kalau jadi guru, dosen atau jadi kiyai kamu harus tetep usaha, harus punya usaha sampingan biar hati kamu nggak selalu mengharap pemberian ataupun bayaran orang lain, karena usaha yang dari hasil keringatmu sendiri itu barokah”.

Untuk mengingatkan saya sendiri, saya cuplik pesan sarat hikmah dari Ali Bin Abi Thalib  berikut ini. “Mencari rezeki jangan mencari banyaknya, tapi carilah barokahnya.”