Mengalahkan Setan dengan Iman

1
67

0Shares
0

Jika manusia yang hatinya dirasuki rasa gila harta dengan berbagai cara untuk mendapatkan kekayaannya termasuk berkolaborasi dengan kekuatan bangsa Jin dan Setan maka, sebagai implikasi dan tumbal ritualnya salah satunya dengan mengambil keberkahan rizkinya, kendatipun penghasilan besar tapi tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

Kampusdesa.or.id–Kemarin waktu tengah malam ada ketua RT dan ketua RW yaitu Bapak Tumo, M.Pd mengetuk rumah, setelah dibuka beliau menyampaikan maksud kedatangan dengan agak tergesa-tergesa:

Assalamualaikum ust, maaf tengah malam mengganggu istirahatnya!” kilahnya. “Ya, ada apa?” tanya penulis penasaran. “Ada warga kesurupan kena guna-guna pengasihan jaran goyang, minta tolong ust, untuk meruqyahnya.” pintanya penuh harap.

Ternyata betul, sesampainya di rumah itu ramai dengan kerumunan orang karena yang bersangkutan ngamuk dan berteriak histeris. Setelah diruqyah ia pinsan dan alhamdulillah sembuh dari pengaruh kekuatan ghaibnya.

Kemarin lusa Dr. ust. Khoirul Ulum, M.H.I memesan buku saya yang terbaru tanpa sengaja penulis melihat dan membaca tafsir al-Manar karya seorang ulama kontemporer Syaikh Muhammad Rasyid Ridho dan Syaikh Muhammad Abduh, yang mengatakan:

Kaunu al-syayaathini wa saairi al-jinni al-‘aaqilati takhaafu min al-basyari alladziina kholaqahumullahu arqoo minhum….

Artinya, ada setan dan jin-jin yang cerdas akan takut (gentar) terhadap manusia yang diciptakan oleh Allah yang senantiasa berdoa minta perlindungan-Nya dari tipu daya mereka.”

“Yang ditakuti oleh bangsa Setan dan Jin itu bukan bacaan yang ia lantunkan, namun kedalaman penghayatannya sehingga mampu mengeluarkan cahaya iman dalam dirinya”

Tafsir ini dengan jelas mengatakan, yang ditakuti oleh bangsa Setan dan Jin itu bukan bacaan yang ia lantunkan, namun kedalaman penghayatannya sehingga mampu mengeluarkan cahaya iman dalam dirinya.

Ada cerita unik, dimana ada seorang ustadz meruqyah salah satu santri kesurupan di pesantren Bondowoso justru bukan sembuh malah jinnya lebih hafal Al-Qur’an dibandingkan ustadz tersebut bahkan ia dikata-katain dengan bahasa kasar oleh jinnya.

Syahdan, di lain kesempatan paman yang terkena guna-guna itu, kembali silaturrahmi ke rumah namun topiknya berbeda dari sebelumnya. Ia sharing tentang kondisi ekonominya yang carut marut dan berantakan, padahal ia bukan pengangguran tapi seorang tukang bangunan yang gajinya lumayan besar, ia mengeluh:

“Ust, saya ini kesulitan ekonomi, padahal pekerjaan saya cukup mapan dalam memcukupi kebutuhan sehari-hari.” ucapnya sambil meratapi keadaannya. “Maaf, kalau boleh tahu apa pean selama ini pernah pergi ke dukun?” tanya saya agak bersifat introgatif. “Nah, itu dia ust….saya ini banyak sekali ilmu kekebalan dan jimat anti bacok, karena memang saya pernah menjadi ketua preman di Jakarta, bahkan saya sering membunuh orang.” Ceritanya panjang sekali.

“Nah itu mungkin akar masalahnya, sehingga keuangannya tidak barokah.” Jawab penulis sambil memberikan arahan dan wejangan hidup kepadanya. Penulis ingat dalam tafsir Manar disebutkan,

Wa laa hujjata fi syaiin minhaa Li haaulaai al-Dajjalin alladzinaa ya’kuluuna amwaala juhlati al-‘awaami bi al-basthili.”

Artinya, tidak ada hal yang perlu diperdebatkan mengenai mereka para Dajjal yang memakan (barokah) harta orang umum (biasa) yang bodoh dengan cara yang salah.

Jika manusia yang hatinya dirasuki rasa gila harta dengan berbagai cara untuk mendapatkan kekayaannya termasuk berkolaborasi dengan kekuatan bangsa Jin dan Setan maka, sebagai implikasi dan tumbal ritualnya salah satunya dengan mengambil keberkahan rizkinya, kendatipun penghasilan besar tapi tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

Oleh sebab itu, sedikit tapi berkah itu lebih baik daripada banyak tapi mencelakakan.

Better a bird in hand than ten in the air

Artinya, sedikit yang kita peroleh lebih baik daripada banyak namun sia-sia (tidak bermanfaat). Hal ini juga dipertegas oleh pepatah Arab:

Qalilun qarra Khairun min katsirin faraa

Artinya, sedikit (dengan cara baik) lebih baik daripada banyak namun sia-sia (tidak bermanfaat).”

1 KOMENTAR

Comments are closed.