Mendesaknya Pendidikan Seksual Sejak Dini

0
154
Potret Sosialisasi Pentingnya Kesehatan di MI Sunan Ampel, Pocokusumo, Malang

Di era media sosial sekarang ini, pergaulan semakin terbuka dan bebas. Peluang terjadinya kekerasan dan pelecehan seksual juga kian meningkat. Orangtua dan pendidik tidak bisa setiap saat mengawasi anaknya. Alhasil, maraknya fenomena seks bebas atau seks pra nikah jamak kita saksikan akhir-akhir ini. Bagaimanakah langkah untuk mencegahnya?

KampusDesaSore beberapa hari yang lalu, rumah saya kedatangan Pak Lek dari pihak Abah mertua. Di tengah gayengnya obrolan, topik pembicaraan tiba-tiba berganti membahas seorang gadis yang tak lain merupakan putri dari tetangga Pak Lek. Gadis ini melahirkan tanpa sepengetahuan orangtuanya. Mirisnya, bayi itu adalah hasil hubungan “gelap” antara si gadis dengan pacarnya. Lebih mengelus dada lagi, ternyata orangtua dari gadis itu adalah ustadz yang menjadi panutan masyarakat sekitar.

Bisa dibayangkan, betapa hancurnya hati orangtua gadis tersebut. Betapa malunya mereka. Dan juga tak mungkin bisa dihindari, mereka sekeluarga akan menjadi “makanan” bagi majelis gosip para tetangganya. Sampai kapan? Entah, mungkin seumur hidup. Padahal, gadis itu juga merupakan mahasiswa di perguruan tinggi keagamaan Islam negeri ternama di Jawa Timur.

Hal lain yang juga tak kalah membuat heran adalah bagaimana mungkin kedua orangtua gadis ini tidak tahu-menahu bahwa putrinya sedang mengandung.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Apa sesungguhnya faktor yang mendasari gadis tersebut melakukan perbuatan amoral tersebut? Bagaimanakah seharusnya menyikapi fenomena ini?

Kasus di atas hanya secuil cuplikan dari fenomena yang melanda generasi muda negeri ini. Banyak kasus-kasus lain yang lebih miris, lebih tragis, dan lebih memprihatinkan lagi. Tak jarang kasus-kasus seperti ini berakhir mengenaskan, tak sedikit gadis yang lebih memilih untuk mengakhiri hidup karena tidak kuat menanggung malu.

Tidak hanya belum maksimal,  pendidikan seksual juga belum populer di kalangan lembaga pendidikan kita. Bahkan menjadi bahan perdebatan. Padahal pendidikan seksual memainkan peran penting dalam membentengi generasi muda kita dari seks bebas dan bahaya kejahatan seksual.

Jika ditelisik, ada banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya kasus-kasus seperti ini. Satu di antaranya adalah belum maksimalnya pendidikan seksual untuk anak. Tidak hanya belum maksimal, pendidikan seksual juga belum populer di kalangan lembaga pendidikan kita. Bahkan menjadi bahan perdebatan. Padahal pendidikan seksual memainkan peran penting dalam membentengi generasi muda kita dari seks bebas dan bahaya kejahatan seksual.

Alih-alih menjelaskan, tak sedikit orangtua justru mengalihkan topik pembicaraan jika mendapatkan pertanyaan tentang seks dari anak.

Pendidikan seksual belum mendapat perhatian serius dari lembaga pendidikan kita, satu di antaranya disebabkan oleh masih adanya perasaan “tabu” membicarakan seks dengan anak. Alih-alih menjelaskan, tak sedikit orangtua justru mengalihkan topik pembicaraan jika mendapatkan pertanyaan tentang seks dari anak. Padahal kesadaran dan pemahaman mengenai fungsi-fungsi alat reproduksi sejak dini akan membuat anak nantinya lebih waspada dalam bergaul.

Perlu dipahami, pendidikan seksual bukan mengajarkan anak berhubungan seksual. Melainkan menjelaskan fungsi-fungsi alat vital sebagai alat reproduksi yang harus dijaga dan bagaimana menjaga kesehatannya. Tujuannya adalah untuk menyadarkan pentingnya kesehatan reproduksi sehingga kejahatan seksual dan penyakit menular dapat dicegah.

sudah saatnya pendidikan seksual menjadi perhatian dunia pendidikan kita. Bahkan sejak dini, anak harus sudah mulai diberi pemahaman tentang fungsi alat reproduksi.

Ketidakpahaman akan fungsi alat reproduksi tidak hanya berdampak pada terjadinya seks bebas, tapi juga kekerasan seksual dan penyimpangan orientasi seksual. Oleh karena itu, sudah saatnya pendidikan seksual menjadi perhatian dunia pendidikan kita. Bahkan sejak dini, anak harus sudah mulai diberi pemahaman tentang fungsi alat reproduksi.

Menyikapi fenomena memprihatinkan ini, lembaga-lembaga dunia seperti UNICEF, WHO, dan UNAIDS memberikan panduan bagi orangtua agar dapat melaksanakan pendidikan seksual kepada anak mereka. Secara garis besar, pendidikan seksual untuk anak dibagi menjadi 4 (empat) level; usia 5-8 tahun, 9-12 tahun, 12-15 tahun, dan 15-18 tahun ke atas. Dikutip dari www.theasianparent.com, berikut adalah rincian dari masing-masing level tersebut.

Pada usia 5-8 tahun, pendidikan seksual dapat dimulai dari;  (1) hal dasar; menjelaskan fungsi dan peran anggota keluarga. Menjelaskan bahwa setiap anggota keluarga harus saling menjaga. Menjaga keharmonisan komunikasi keluarga. Orangtua dan guru dapat membiasakan anak untuk bersikap terbuka dan bersedia menceritakan dan bertanya apa saja kepada orangtua.

(2) Mengajarkan anak berteman dengan siapapun. (3) Membiasakan anak mengekspresikan perasaan cinta dan kasih. Sederhana saja, misalnya “Aku sayang Ibu,” atau “aku sayang Ayah.” Membiasakan saling berbagi dengan saudara dan teman. (4) Kenalkan anak dengan perbedaan. Pahamkan kepada anak bahwa setiap orang punya keunikan masing-masing. Namun jangan sampai perbedaan menjadi halangan untuk berteman dan saling mengenal. (5) kenalkan anak dengan arti pernikahan. Ceritakan bahwa setiap orang bisa memilih pasangan atau dijodohkan. Jelaskan pula bahwa mereka lahir dari adanya buah cinta di antara orangtua.

Usia 9-12 tahun, anak mulai dijelaskan; (1) peran dan tanggungjawab anggota keluarga. (2) mulai melibatkan anak dalam pengambilan keputusan. Langkah ini akan membuat anak merasa dihargai dan mengajarkan mereka tanggungjawab. (3) Pahamkan mereka bagaimana berteman yang sehat. Jelaskan bahwa perkelahian, bullying, menghina dan sebagainya adalah bentuk-bentuk akhlak tercela yang wajib dihindari. (4) mulai jelaskan bagaiman alur terbentuknya keluarga dan tanggungjawab pernikahan.

Memasuki usia 12-15 tahun, anak sudah memasuki masa pubertas. Maka orangtua harus memahamkan pada anaknya; (1) pertemanan dapat menimbulkan dampak positif dan negatif. Oleh karena itu mereka harus berhati-hati dalam memilih teman. Jelaskan pula bahwa pertemanan yang terlalu dekat dapat berpotensi terjadinya hubungan seksual. Hubungan seksual yang terlalu dini akan berakibat buruk pada masa depan dan kesehatan mereka.

(2) ajak mereka waspada terhadap tindak pelecehan dan kekerasan. (3) pernikahan akan membawa bahagia jika dilandasi cinta, toleransi, penghargaan, dan tanggungjawab. Pada usia ini, orangtua juga dapat menjelaskan fungsi alat vital atau organ reproduksi manusia. Jelaskan secara detail dengan kata-kata yang jelas. Bahaya HIV/AIDS juga penting dijelaskan pada usia ini.

Adapun pada usia 15-18 tahun ke atas, orangtua dapat menjelaskan bahwa; (1) peran keluarga dapat mengalami perubahan jika ada anggota keluarga ada yang hamil, menolak menikah, atau menunjukkan penyimpangan orientasi seksual. Orangtua dapat menjelaskan apa itu LGBT, bagaimana dampaknya dan bagaimana respon masyarakat terhadapnya. Hindari stigmatisasi, tapi tunjukkan dan jelaskan mengapa Anda khawatir.

(2) aturan dan hukum terkait kekerasan dan pelecehan seksual. Jelaskan bahwa pelaku kejahatan seksual tidak mengenal usia, jenis kelamin, dan orientasi seksual. Bahaya kejahatan seksual bisa terjadi di mana saja. Jelaskan juga bahwa ada banyak organisasi dan institusi yang bisa membantu pendampingan korban kejahatan seksual.

(3) pernikahan tidak sesederhana kelihatannya. Jelaskan bahwa pernikahan sangat berharga dan akan membuat mereka menghadapi berbagai tantangan dan masalah hidup. Pernikahan tidak hanya soal cinta, tapi juga nafkah lahir dan batin. Jelaskan pula tujuan dan hakikat dari pernikahan.

Semakin hari, pergaulan anak akan semakin terbuka. Orangtua apalagi guru tidak setiap saat bisa mengawasi mereka. Kasus sebagaimana diuraikan di awal tulisan ini adalah satu di antara bukti bahwa lemahnya pengawasan dan kesadaran akan fungsi seksual dapat mengantarkan anak pada tindakan amoral seperti seks pra nikah. Karenanya, pendidikan seksual sejak dini mendesak untuk dilaksanakan.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here