Mencintai Air (Tresno Banyu) Kampung Macari dalam Semangat 1 Muharram

0
157
Tari Saman di Pinggir Kali

KampusDesa [Batu]. Kemarin (20/09/2017), Dusun Macari membuat gebrakan baru dalam menyambut datangnya pergantian tahun baru Hijriyah. MI Darul Ulum bersama masyarakat sekitar dusun Macari selaku penyelenggara membuat sebuah acara yang jarang diadakan oleh masyarakat lainnya. Mereka mengambil kata ‘Tresno Banyu’ sebagai tema besarnya.

Sebelumnya, kata  Tresno Banyu bagj masyarakat yang tinggal dan lahir di Jawa tentu mudah mengartikannya. Namun bagi yang luar Jawa, atau tak pernah mengenyam Bahasa Jawa tentu asing baginya. Pendek kata, Tresno Banyu dari segi Bahasa Indonesia berarti ‘Cinta Air’.

Dalam hal ini, pengambilan kata tersebut bukan tanpa maksud. Diketahui bahwa sejak era lampau dahulu dusun Macari memiliki sebuah danau kecil, yang kemudian masyarakat setempat menyebutnya ‘Blumbang Macari’, blumbang jni dialiri oleh sumber mata air, dan terletak di tengah pemukiman hidup masyarakat setempat.

Konon dahulu, anak kecil era 90.an pasti area mainnya ke blumbang Macari, dan sudah terkenal di kalangan masyarakat Kota Batu. Bahkan tak jarang jika perluasan jaringan pertemenan anak dahulu bermuara dari pertemuannya di blumbang Macari.

Selain itu, dengan seringnya anak kecil berkunjung ke blumbang Macari, dapat mendukung percepatan anak untuk sadar akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Sebab, di blumbang ini, melalui keanekaragaman hayati yang ada dapat bernilai edukasi lingkungan hidup yang sangat tinggi.

Sementara itu, melihat perkembangan zaman saat ini, khususnya di Kota Batu yang sudah mulai rimbun dengan bangunan-bangunan, apalagi didukung dengan mudahnya pemangku kebijakan memberikan izin terhadap aliansi atau group investor wisata, seperti contoh Penting Oleh Duek Group, Jawa Setengah Timur Group, dan group-group lainnya yang sebenarnya sudah banyak memiliki wisata tapi masih belum merasa puas juga. Hanya contoh loh ya, hehe…

Bagi masyarakat pribumi pasti tahu, hal demikian menjadikan blumbang Macari sudah mulai tersisihkan kepopulerannya. Anak kecil sudah jarang yang mengenal apa dan dimana itu blumbang Macari, bagaimana proses kealamiannya dapat bermanfaat bagi rantai makanan yang hidup disekitarnya. Bukan hanya blumbang Macari sebenarnya, kawasan lain yang memiliki potensi alam dan memiliki banyak nilai edukasi, juga hampir bernasib sama dengan blumbang Macari.

Contoh kawasan Griya Wisata Herbal, sebuah tempat yang keseluruhan sajianya memanfaatkan potensi alam daun-daunan herbal, konsep nuansa tradisional, dan tempat yang amat ramah lingkungan. Tempat yang beberapa kali mendapatkan penghargaan ini bagi beberapa masyarakat luar sudah ternama, namun bagi warga sekitar sendiri belum banyak yang tau jika di Batu ternyata memiliki sebuah tempat yang penuh akan nilai edukasinya.

Barangkali karena sebab itu, masyarakat Macari mengambil kata ‘Tresno Banyu’ sebagai wujud kegelisahannya melihat situasi yang terdapat di Kota Batu saat ini. Bahwa kecintaannya terhadap lingkungan hidup kian tak mendapatkan perhatian.

Contoh kecil dahulu di Batu memiliki ratusan sumber mata air, kini hanya tinggal puluhan mata air, dan tidak menutup kemungkinan akan menjadi satuan mata air jika kesadaran seluruh elemen masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan hidup tak kunjung mereda.

Untuk menjadi jawaban atas kegelisahan itu, jika menengok konten acara yang diadakan dalam kegiatan menyambut datangnya bulan Muharram 1439 H, konten acara yang dirancang menampakkan bahwa masih ada kesempatan untuk berjuang menyelamatkan kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati yang dimiliki.

Konten acara terdapat diantaranya; sebar benih ikan wader ke beberapa titik aliran sungai di Kota Batu, tari tradisi jawa, ritual ujub selamatan banyu, tari Samanan, sarasehan lingkungan hidup oleh beberapa kelompok masyarakat dan aktivis pegiat lingkungan, pertunjukan seni hadrah ISHARI dan ngaji lingkungan.

Tebar Ikan Wader | Edukasi pada anak-anak sekolah

Hal menarik dari acara yang dihelat dari pagi hingga malam ini adalah komitmennya dalam berjuang soal lingkungan hidup. Apalagi dengan dilibatkannya murid-murid dari perwakilan madrasah ibtidaiyah dan sekolah dasar negeri, menjadi simbol bahwa anak-anak kecil era sekarang perlu dikenalkan secara langsung terhadap lingkungan hidup yang ada disekitarnya.

Sempat pula disampaikan dalam forum sarasehan lingkungan hidup, bahwa hari ini pelajaran lingkungan hidup (PLH) yang terdapat di madrasah, kurikulum materinya tidak sesuai sama sekali dengan kondisi real yang terdapat di lapangan. Miris bukan? Sudah lahan kelestarian alam semakin sempit akibat bangunan-bangunan wisata dan ‘tetek bengeknya, malah edukasi formal yang didapatkan tidak sesuai dengan lingkungan yang ada.

Pada akhirnya, penting kiranya acara-acara seperti ini diadakan berkelanjutan, terlebih jika setiap kampung yang memiliki potensi alam. Sebab, melalui perjuangan yang seperti ini sedikit banyak akan berpengaruh terhadap pola maindset yang berkembang di masyarakat, agar lebih mencintai dan menjaga alam yang notebene tercipta dari tanah dan air.

Sebagai tambahan informasi, agenda ‘Tresno Banyu’ kali ini dihadiri berbagai elemen kelompok masyarakat yang turut berperanserta mensukseskan acara. Diantaranya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) se-Kota Batu, Karang Taruna se-Kota Batu, Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kota Batu, Batu Creative Hub, Pusaka Foundation dan berbagai kelompok masyarakat lainnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here