Mencegah Kerusakan Moral Bangsa Indonesia

0
106

Menarik membaca blog-blog di internet yang mengulas rencana Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) meminimalisasi masyarakat mengakses konten internet yang tidak layak. Dari sisi kebijakan, hampir semuanya setuju dengan Menkominfo, yang hendak menangkal akses ke berbagai situs internet yang dinilai berdampak negative bagi perkembangan psikologis masyarakat. “Internet tidak hanya berdampak positif untuk dijadikan bahan menambah pengetahuan, tetapi di sisi lain berdampak negative dan anti produktif ketika pengguna memanfaatkan internet untuk mengunduh (download) situs yang tidak bermanfaat,” kata Menkominfo di sela rapat dengan pendapat dengan komisi 1 DPR, di gedung MPR/DPR Jakarta.

Kampusdesa.or.id- Menurut Menteri, ada tiga hal yang disiapkan Depkominfo untuk melakukan hal tersebut. Pertama, pada level grass root, dengan meningkatkan dan menumbuhkan kesadaran tentang self censoring ataupun self filtering, yaitu kemampuan mandiri dalam memilah situs yang baik dan layak.

Kedua, pada tingkat jaringan terbatas (limited network), seperti struktur jaringan teknologi informasi di lingkungan kampus, lembaga pendidikan, departemen, “Struktur jaringan pemanfaatan atau penggunaan internetnya dapat diawasi dan situs-situs negative dibloking,” katanya. Ketiga, di tingkat tertinggi, pemerintah akan bekerjasama dengan perusahaan penyelenggara jasa internet (ISP) untuk memblok trafik terhadap situs-situs negative. “Pemblokiran ini bukan pada konten, karena ini akan lebih sulit, tetapi dilakukan pemblokiran pada semua situs yang ditengarai bermuatan negative,” ujarnya.

Memang memblokir konten yang tidak bermanfaat lebih sulit dibandingkan memblokir situsnya. Jalur masuk konten ini tidak hanya melalui situs-situs yang ditengarai negative. Konten ini bisa terkirim melalui situs resmi atau email dengan file yang terkompres. Seorang blogger menulis perumpamaan “bagaikan petani membasmi hama di sawah”. Mampukah membasmi “hama”, berupa materi yang punya banyak jalan menuju sawah? Sulit memang, tetapi tetap bisa, asalkan sang pembasmi benar-benar serius dan harus lebih lihai dari sang “hama”.

Terlepas sulit atau mudah, langkah yang diambil tersebut merupakan langkah yang sangat baik, di tengah kekisruhan dan makin tingginya peredaran kenegatifan dan kekerasan melalui situs internet. Kemudahan memperoleh hosting gratis untuk menyimpan file dan membuat situs sendiri untuk menyebarkan konten yang tidak pantas, membuat situs-situs amatir bermunculan untuk menyebarkan konten-konten negative.

Ada beberapa hal yang perlu diwaspadai sebelum menerapkan filter tersebut. Aliran data internet sebelumnya harus melalui NAP (Internet Sevice Provider) baru mengalir ke penguna (termasuk warung Internet).

Dari  mana memulai? Seorang blogger menulis, ada beberapa hal yang perlu diwaspadai sebelum menerapkan filter tersebut. Aliran data internet sebelumnya harus melalui NAP (Internet Sevice Provider) baru mengalir ke penguna (termasuk warung Internet). Jumlah ISP di Indonesia kurang lebih 250-an, sementara jumlah warnet lebih 6.000 an, dan jumlah pengguna perorangan bisa mencapai puluhan juta. Melihat hal ini, ia mengusulkan agar filter dilakukan pada sisi ISP atau NAP, mengawasi 250 ISP lebih mudah dari pada mengawasi 6.000-an warnet atau puluhan juta pengguna perorangan.

Meski  begitu, secanggih apa pun filter tersebut, tidak menjamin konten pornografi tidak mucul di layar, konten  ini tumbuh 10x lipat tiap tiga tahunnya, berapa sumber daya yang harus dikerahkan untuk melakukan filter tersebut? Ia mengusulkan adanya badan yang bertugas melakukan update, database situs yang perlu difilter, komunitas internet (NAP, IPS, warnet, pengguna perorangan) bisa dilibatkan dengan memberikan masukan situs mana saja yang perlu difilter.

Industry internet yang baru tumbuh dan berkembang di Indonesia. Internet yang memiliki akses tidak terbatas akan sulit dibatasi, kata Veven Sp. Wardhana, pengamat budaya massa (Tempo interaktif, 25 Maret 2008).

Ia berharap, agar pemerintah bijaksana dan berhati-hati dalam menentukan pada titik mana filter tersebut harus dilakuakan, karena akan sangat berpengaruh pada industry internet yang baru tumbuh dan berkembang di Indonesia. Internet yang memiliki akses tidak terbatas akan sulit dibatasi, kata Veven Sp. Wardhana, pengamat budaya massa (Tempo interaktif, 25 Maret 2008). “Begitu membatasi pornografi, misalnya, content lain pasti akan terbatasi,” ujarnya. Jika pembatasan dilakukan di tingkat provider, katanya, akan terjadi pembatasan arus informasi.

Ia menuturkan, yang paling mudah adalah membentengi moral masyarakat. Publik yang harus menilai mana informasi yang lebih dibutuhkkan. Yang diiyakan Ainul Hakim dalam coment-nya di blogger iWin Notes, tulisnya, “Jika memang kita memandang, bahwa pornografi harus dicegah, maka sikap  yang harus saya ambil adalah saya akan memfilter dan intitusi yang bisa saya filter, misal warnet saya…” Ia mengajak untuk memberantas sisi negatif internet dimulai dari diri sendiri, dari yang kecil dan dimulai dari sekarang.”