Mencegah ‘Depresi Kolektif’ dengan Menguatkan ‘Aspek Spiritual’ dalam Diri

0
569

Pandangan modern sudah memberikan pendapat baru tentang depresi sebagai suatu gejala mental yang terjadi karena ketidakstabilan kimia di otak, maka penyelesaiannya cukup berikan dia obat yang dapat menutupi ketidakstabilan itu. Hidup masyarakat modern tergangu karena adanya ketidakcocokan di tingkat evolusi antara lingkungan manusia di masa lalu dengan kehidupan modern. Lalu bagaimana solusinya?

Kampusdesa.or.id–Hari minggu kemarin, saya baru saja menamatkan buku berjudul “Staying sane In a crazy world” dari duo Lazarus, buku ini berisi 101 strategi untuk tetap waras di dunia yang ‘kata mereka gila’ yang kemudian  memunculkan ketertarikan saya untuk mengetahui apa maksud dari penggunaaan kata “dunia gila“ oleh dua ahli psikologis klinis itu untuk judul buku mereka.

Apakah benar dunia ini sudah gila?

Bukankah kita sudah modern dan modern identik dengan ketidakgilaan?

Dua pertanyaan itu menghantui pikiran saya sampai akhirnya saya menyadari ada gap antara harapan dan realitas abad modern yang sedang kita jalani saat ini, kita berharap abad modern mendorong masyarakat global ke arah kehidupan yang lebih positif, rasional, humanis, adil, dan bijaksana namun realitanya justru bergerak kearah yang semakin irrasional, aragon, egosentris, negatif, dan banal (dangkal dalam berpikir), bahkan ada teman saya yang berujar ada gejala dehumanisasi yang sedang terjadi.

Sebagai pembelajar di bidang psikologi, saya berpikir apakah ini ada hubungannya dengan depresi? Ya, depresi yang selama ini kita bicarakan sebagai gangguan mental di tingkat individual mungkinkah sudah bergerak hingga ke tingkat kolektif?

Kemudian saya sedikit menemukan jawaban pada buku kedua yang sedang saya baca, kali ini bukan dari seorang psikologis tetapi dari seorang antroplogis, Jared Diamonds, dalam bukunya berjudul “The world until yesterday” menceritakan pengalamannya di Papua Nugini yang dulunya dikenal sebagai negara dengan basis masyarakat paling tradisional di pasifik yang seketika berubah menjadi masyarakat modern. Dia menulis suatu quote yang menarik bagi  saya tentang sebuah fakta jika manusia pada dasarnya hidup dalam suasana tradisional yang lebih lama ketimbang modern.

Di sini kemudian saya bertanya kembali apakah modernitas yang menyebabkan semua kegilaan ini terjadi atau kegilaan ini yang menyebabkan modernitas terjadi?

Pencarian saya kemudian mengantarkan saya pada sebuah penelitian menarik sekaligus menguatkan apa yang ditulis oleh Jared Diamond, yakni Brandon H. Hidaka dari University of Kansas Medical center yang melakukan penelitian dengan judul “Depresi sebagai penyakit modern: sebuah penjelasan guna meningkatkan pravalensi“. Dia menjelaskan jika depresi adalah penyakit mental yang sering dialami masyarakat di era modern bahkan masyarakat sendiri pun terjebak pada penyakit depresi secara kolektif akibat tidak adanya keseimbangan antara kesejahteraan fisik dan psikis.

Menurut si peneliti, hidup masyarakat modern tergangu karena adanya ketidakcocokan di tingkat evolusi antara lingkungan manusia di masa lalu dengan kehidupan modern. Saat ini, akibatnya aspek sosial manusia mulai menurun sehingga mereka terjebak dalam lingkaran kesepian dan ketidaksetaraan. Di samping itu, jasmaniah mereka terjebak dalam pola hidup yang tidak sehat dan harus tinggal di lingkungan yang juga tidak sehat, akibat mulai terpisahnya manusia secara perlahan dari lingkungan alam.

Depresi bisa dirasakan secara kolektif dan banyak berkontribusi terhadap depresi di tingkat individual.

Dari penelitian itu, saya semakin yakin jika depresi bisa dirasakan secara kolektif dan banyak berkontribusi terhadap depresi di tingkat individual, kita harus menyadari bahwa tidak setiap depresi yang terjadi akibat dari internal manusia tetapi juga yang terjadi akibat dari faktor lingkungan, bayangkan kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang juga depresi maka besar kemungkinan kita pun akan terpengaruh oleh depresi kolektif dari masyarakat.

Modernitas memegang peranan kunci terhadap peningkatan epidemi depresi.

Lalu pertanyaan selanjutnya, kenapa itu bisa terjadi dan bagaimana upaya mengatasinya?

Pada dasarnya, pandangan modern sudah memberikan pendapat baru tentang depresi sebagai suatu gejala mental yang terjadi karena ketidakstabilan kimia di otak, maka penyelesaiannya cukup berikan dia obat yang dapat menutupi ketidakstabilan itu.

Namun jika kita bicara pada tingkatan makro, maka depresi tidak bisa diatasi dengan cara membagi-bagikan obat karena tidak lagi menyangkut ketidakstabilan kimia tetapi karena adanya parade horor tiada henti yang mencakup segala macam penderitaan yang kita lihat, dengar, bahkan rasakan baik oleh diri kita, masyarakat kita, maupun masyarakat global.

Berbagai parade horor akhirnya menciptakan keterancaman bagi kita semua baik itu sifatnya agresif, keterikatan, atau lain sebagainya. Bahkan yang negatif dan lebih jauh daripada itu parade horor ini membentuk keseragaman cara kita berpikir dan bertindak terhadap segala sesuatu yang kita terima dan inginkan dari kehidupan.

Depresi kolektif terjadi karena kita lupa terhadap aspek spiritual.

Jika kita ingin menghentikan depresi kolektif maka sudah selayaknya kita memutus mata rantai parade horor dengan melibatkan aspek spiritual yang menjadi ciri manusia. Menurut saya, depresi kolektif terjadi karena kita lupa terhadap aspek spiritual, akibatnya kita gagal berdamai dengan dunia sosial apalagi dunia ekologis, khususnya terhadap ekologis ini saya mendapatkan fakta betapa mudahnya manusia modern merusak alam, mereka sulit untuk berpikir dunia tempatnya berpijak adalah satu kesatuan dengan dirinya.

Di sini aspek spiritual bisa kita hidupkan dengan cara kembali menggali nilai-nilai kearifan lokal kita dan ajaran agama ataupun filosofi yang kita yakini. Di sini, spiritualitas tidak cukup hanya dengan mengidentifikasikan diri kita sebagai penganut agama atau aliran tertentu, tetapi harus mengimplementasikan apa yang diajarkan oleh agama dan aliran  yang kita anut, di sinilah letak tantangannya karena sudah menyangkut proses internalisasi nilai-nilai ke dalam diri untuk melekat dalam setiap tindakan.

Ketika aspek spiritual itu hidup maka kita akan mudah menerima apapun yang diberikan kehidupan sembari merawat kehidupan itu sendiri, dan yang lebih penting spiritualitas yang hidup menciptakan adanya kebahagiaan dan harmonisasi. Ini tentu tidak mudah, butuh tindakan dari lingkup terkecil, baik dalam bentuk dialog maupun dalam bentuk aksi dengan ekspresi yang beragam dari kita semua sebagai serpihan yang tak berarti di alam semesta.

Editor: Haniffa Aulia