Menanti Lompatan Staf Khusus Milenial

0
87
Tujuh milenial staf khusus presiden (https://nasional.kompas.com.)

Pembangunan di etape ke-4 revolusi industri sekarang ini memerlukan lompatan-lompatan dan ide out of the box untuk mengejar ketertinggalan. Perkembangan akseleratif teknologi yang membawa dampak multidimensi harus disikapi dengan serius. Masuknya wajah milenial di lingkungan istana tak ayal menjadi tumpuan asa. Akankah ada perubahan siginifikan?

Kampusdesa.or.id—Setelah gonjang-ganjing lantaran masuknya Bos Gojek, Nadiem Makarim, dalam Kabinet Indonesia Maju sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), publik kembali dihebohkan dengan wajah-wajah milenial di jajaran Staf Khusus Presiden. Lagi-lagi, muncul pro dan kontra terhadap langkah berani Presiden kali ini.

Tujuh nama milenial yang didapuk menjadi staf khusus tersebut adalah Andi Taufan Garuda Putra (32), Ayu Kartika Dewi (36), Adamas Belva Syah Devara (29), Grasia Billy Mambrasar (30), Putri Indahsari Tanjung (23), Angkie Yudistia (32), Aminudin Ma’ruf (30). Tujuh nama ini melengkapi tujuh staf khusus yang ditunjuk sebelumnya. Semuanya bukanlah pemuda biasa. Mereka sarat dengan prestasi di bidang masing-masing.

Bagi yang pro, menyikapi hal ini sebagai langkah positif karena para pemuda harus diberi kesempatan berperan dalam roda pemerintahan. Hal ini sekaligus sebagai penyiapan penerus pemimpin bangsa ke depannya. Sementara yang kontra, meragukan kompetensi dan kapasitas para milenial ini. Terutama menghadapi isu-isu kebangsaan yang sedemikian pelik dan kompleks. Apalagi ditambah gaji mereka yang tergolong tinggi, 51 juta.

Jika selama ini, pos-pos strategis di lingkungan istana diisi oleh generasi-generasi senior, dengan gelar akademik mentereng. Presiden Jokowi di periode keduanya ini tak melanjutkan tradisi tersebut

Terlepas dari pro dan kontra di atas, apresiasi patut diberikan kepada Presiden atas langkah beraninya ini. Jika selama ini, pos-pos strategis di lingkungan istana diisi oleh generasi-generasi senior, dengan gelar akademik mentereng. Presiden Jokowi di periode keduanya ini tak melanjutkan tradisi tersebut. Ia menggandeng generasi milenial menjadi mitra diskusinya dalam mengambil kebijakan-kebijakan strategis.

Apa sesungguhnya tujuan Presiden Jokowi mengambil langkah ini? Lompatan, itulah tujuan Jokowi di periode keduanya ini. “Sehingga kita bisa mencari cara baru, cara-cara yang out of the box, yang melompat untuk kejar kemajuan negara kita,” ujarnya di Istana Kepresidenan 21 November lalu sebagaimana dilansir www.liputan6.com.

Di era disrupsi sekarang ini, lompatan dan ide-ide segar yang out of the box amat diperlukan untuk tampil dalam kontestasi global. Kecepatan, ketepatan, kemudahan, dan inovasi merupakan kata kunci sukses di era teknologi sekarang ini

Rupanya Jokowi menyadari sepenuhnya, bahwa di era disrupsi sekarang ini, lompatan dan ide-ide segar yang out of the box amat diperlukan untuk tampil dalam kontestasi global. Kecepatan, ketepatan, kemudahan, dan inovasi merupakan kata kunci sukses di era teknologi sekarang ini. Setidaknya kata kunci-kata kunci tersebut sudah ditunjukkan para milenial melalui tumbuh suburnya industri kreatif berbasis e-commerce yang mereka inisiasi dan kelola sendiri. Tentu ini menunjukkan bahwa mereka layak untuk diberi peran di pemerintahan. Terutama dalam rangka mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Patut kita nantikan lompatan-lompatan dan ide-ide out of the box dari para milenial ini.