Menakar Ancaman Eksternal dan Kelemahan Internal PTAI

0
99

0Shares
0

Di era disrupsi sekarang ini PTAI dihadapkan dengan kenyataan bahwa mau tidak mau mereka harus mendayung di tengah derasnya arus perubahan. Kepekaan, kecermatan, dan kelincahan (agility) dibutuhkan tidak hanya untuk membaca peluang, tapi juga memetakan berbagai ancaman dan kelemahan di tubuh PTAI sendiri. Jika tidak demikian, PTAI akan terdisrupsi dan pada akhirnya mengalami obsolet, lalu tergilas oleh akselerasi perubahan yang tak mampu diantisipasinya.

Kampusdesa.or.id-Ancaman eksternal PTAI mengacu pada ekonomi, sosial, budaya, demograsi, lingkungan, politik, hukum, pemerintah, teknologi, serta tren kompetisi dan kejadian yang sangat signifikan dapat membahayakan dan mengancam eksistensi kampus desa di masa yang akan datang.

Saat ini di Bondowoso ada sembilan kampus baru, tentunya ini menambah kompetitor yang bersifat konstruktif bukan destruktif, menambah persaingan dari kampus baru yang didirikan di kabupaten Bondowoso, out put dan out put unggul yang diorbitkan oleh kampus pesaing yang membuat ribuan pasang mata untuk meliriknya sehingga mereka jatuh hati untuk menguliahkan putera-puterinya.

Semakin lemahnya hubungan deplomatik antara pihak kampus dengan pihak pembuat kebijakan sehingga manakala ada peluang pengembangan institusi, informasinya tersumbat tidak sampai kepada kampus tersebut, atau informasinya sampai namun tidak mendapatkan jatah.

“Terkadang otoritas pimpinan tersandera oleh pihak-pihak atau oknum-oknum yang berkepentingan dalam organisasi”

Sementara kelemahan internal PTAI adalah aktifitas kampus yang dikontrol dan dijalankan dengan sangat buruk, yakni terkadang otoritas pimpinan tersandera oleh pihak-pihak atau oknum-oknum yang berkepentingan dalam organisasi tersebut.

Kelemahan internal PTAI muncul dalam aktifitas manajemen, pasaran, keuangan, out put, out come, penelitian, pengembangan, sistem informasi manajemen dari sebuah bisnis pengembangan ekonomi PTAI.

“Seyogyanya pihak PTAI dapat mengukur kepemilikan atas sumber daya manusia atau reputasi historis atas kualitas civitas akademika”

Seyogyanya pihak PTAI dapat mengukur kepemilikan atas sumber daya manusia atau reputasi historis atas kualitas civitas akademika terutama SDM dosennya. Faktor kelemahan internal PTAI bisa ditentukan melalui berbagai cara: menghitung, rasio, mengukur kinerja, membandingkan kuantitas inputnya dengan periode sebelumnya.

“Rasio dosen yang mempunyai titel doktor di perguruan tinggi terutama di perguruan tinggi agama Islam sangat minim sekali”

Salah satu ketua perguruan tinggi menyampaikan dalam sambutannya, bahwa kedepan dosen yang mengajar pada perguruan tinggi harus memenuhi kualifikasi pendidik yang mempunyai ijasah doktor (S3). Sementara rasio dosen yang mempunyai titel doktor di perguruan tinggi terutama di perguruan tinggi agama Islam sangat minim sekali bahkan bisa dikatakan tidak ada sama sekali.

Oleh sebab itu, setelah selesai masa euforianya, maka selanjutnya perlu mengadakan survei untuk mengukur faktor ancaman eksternal dan kelemahan internal PTAI dengan cara moral karyawan, input, out put, out come, kesetian orang tua mahasiswa, kebanggaan mahasiswa terhadap almamaternya, kualitas skripsinya yang bebas dari plagiat dan pelacur akademik.