Membawa Lamongan Kemanapun Saya Pergi

0
69

0Shares
0

Sepanjang usia ini dan untuk seterusnya, masih ada lebih banyak tempat yang ingin dikunjungi, masih ada peran-peran besar yang akan turut diambil, masih ada lebih banyak momen-momen bersejarah lain untuk ikut berpartisipasi bersama Lamongan di dalamnya. Eropa, Amerika, Australia, maupun Asia Timur, tidak ada yang tahu. Deklarasi kebijakan luar negeri, perjanjian antar negara, momen olahraga bersejarah, atau sidang tingkat tinggi PBB, sekali lagi tidak ada yang tau. Kemanapun itu, dimanapun itu “Aku adalah Lamongan” dan “Lamongan adalah Aku”.

Kampusdesa.or.id–Setiap orang menanamkan mindset “Saya Ingin Sukses”, mungkin itu terlalu mainstream. Mengapa tidak mengubahnya menjadi “Saya Ingin Menjadi Pemuda Lamongan yang Sukses”, akan lebih menarik jika seperti itu. Bicara lebih banyak, sebenarnya bukan hanya soal menarik dan tidak menarik saja yang perlu dijadikan alasan. Melainkan, soal jati diri. Kemanapun kita pergi, tentu pertanyaan yang kerap ditanyakan pertama kali adalah asal dan nama. Di sini kita coba refleksikan, bagaimana membawa Lamongan kemanapun kita pergi.

Pertanyaan sederhana dengan jawaban yang pasti. Namun jarang orang memikirkan bagaimana hal tersebut menjadi tidak sesederhana itu. Mengambil poin-poin penting yang hampir selalu nyelip dalam perjalanan menjelajahi banyak tempat dan bergabung bersama banyak momen-momen besar memberikan dorongan untuk berfikir secara lebih struktural agar hal ini tidak menjadi sesederhana pertanyaan dan jawaban yang umumnya dijumpai.

Masa-masa awal menetap di regional Ibu Kota menyumbang banyak pemikiran bagaimana pergi ke suatu tempat dengan tidak sekedar membawa identitas diri sendiri melainkan juga identitas kota kelahiran. Lebih jauh, pada acara yang menamai dirinya AYIMUN 2018 yang diselenggarakan di Bangkok, dengan pertanyaan yang sama dan jawaban yang sama pula, bentuk pelajaran lain hadir.

Masa-masa awal menetap di regional Ibu Kota menyumbang banyak pemikiran bagaimana pergi ke suatu tempat dengan tidak sekedar membawa identitas diri sendiri melainkan juga identitas kota kelahiran. Lebih jauh, pada acara yang menamai dirinya AYIMUN 2018 yang diselenggarakan di Bangkok, dengan pertanyaan yang sama dan jawaban yang sama pula, bentuk pelajaran lain hadir. Pemuda Lamongan usia 18 tahun turut serta dalam salah satu agenda Model UN yang dihadiri ribuan delegasi dari kurang lebih tujuh puluh negara di dunia. Menakjubkan, mari coba untuk yang lain lagi!

Konotasi “mencoba yang lain lagi” adalah mencoba untuk partisipasi yang bersifat lebih dominan. Bagaimana itu? ketika Model UN bersifat bebas diikuti siapa saja dan bentuknya adalah simulasi sidang PBB dengan council-council dan topik-topik tertentu, berbeda dengan APFSD Youth 2019 yang serupa diselenggarakan di Bangkok. Proses pemilihan peserta lebih ketat sebab tidak semua pengisi pendaftaran akan terpilih. Hanya enam puluh peserta dari kurang lebih lima belas negara seluruh Asia Pasifik saja yang akan lolos mengikuti Asian Pasific Forum for Sustainable Development (APFSD) Youth 2019 ini.

Sedikit rincian mengenai deskripsi APFSD Youth 2019, acara ini diselenggarakan pada tanggal 21-23 Maret 2019. Acara ini didukung oleh banyak organisasi sosial seperti ARROW, Right Here Right Now, Youth Lead, YPEER, dan AP-RCEM serta difasilitasi oleh UNESCAP. Dengan tema yaitu “Empowering Young People and Ensuring Inclusivity and Equality in Asia Pacific”. Acara ini diselenggarakan guna melakukan peninjauan terhadap terlaksanakannya SDG-2030 pada poin-poin tertentu. Yaitu poin nomor 4, 8, 10, 13, 16, dan 17 pada regional masing-masing. Dengan konsep metodologi yang melibatkan Panel Discussion dan sesi dialog serta Group Work on Recommendation, maka peserta juga akan ikut menganalisis permasalahan implementasi SDG’s, memberikan usulan untuk memperbaiki, dan mengawal pelaksanaannya di regional Asia Pasifik. Dengan masing-masing perwakilan dari negara Asia Pasifik dan pertanyaan yang sama serta jawaban yang sama pula:

Where do you come from?

Lamongan, Indonesia

Akan memberikan hasil pemikiran berbeda. Orang-orang diluar sana akan penasaran dimana persisnya Lamongan dan bagaimana Lamongan itu misalnya. Dari sini bisa diketahui apa yang dimaksud membawa Lamongan kemanapun saya pergi, pun tentang bagaimana saya membawa Lamongan turut berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan besar. Cara sederhana dengan efek yang tidak sederhana, melalui pertanyaan dan jawaban.

Kemudian, sepanjang usia ini dan untuk seterusnya, masih ada lebih banyak tempat yang ingin dikunjungi, masih ada peran-peran besar yang akan turut diambil, masih ada lebih banyak momen-momen bersejarah lain untuk ikut berpartisipasi bersama Lamongan di dalamnya. Eropa, Amerika, Australia, maupun Asia Timur, tidak ada yang tahu. Deklarasi kebijakan luar negeri, perjanjian antar negara, momen olahraga bersejarah, atau sidang tingkat tinggi PBB, sekali lagi tidak ada yang tau. Kemanapun itu, dimanapun itu…

Aku adalah Lamongan dan Lamongan adalah Aku.

Berita sebelumyaKorelasi Problema Masyarakat Non Produktif dalam Bidang Pendidikan dengan Kampus Desa
Berita berikutnyaMerajut Asa Di Tanah Cendrawasih (Part 2)
Cukup panggil Aisy dari tiga suku kata nama saya. Begitu mendarat di Bandar Udara Sam Ratulangi Manado, kalimat besar Sitou Timou Tumou Tou yang memiliki arti manusia hidup, untuk memanusiakan orang lain akan menyambut para pendatang. Bagi saya, ada beberapa pegangan yang perlu hadir untuk terus menjadi pengingat. Lebih dari sekedar hidup seorang diri sebagai individu, manusia hadir untuk memanusiakan sesamanya. Fastabiqul Khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan adalah ‘pegangan’ lainnya. Terlebih, terciptanya manusia di bumi ini adalah sebagai khalifah yang akan merawat dan mensejahterakan bumi, karena saya lahir sebagai Orang Jawa, maka tidak akan lepas dengan kiasan “Lakon, Dudu Penonton” yang artinya menjadi penonton saja tidak cukup, namun harus menjadi lakon atau terlibat langsung sebagai bagian dari bagian perubahan. Tiga kutipan tersebut tidak begitu saja dipilih sebagai pegangan, tetapi lahir dari semacam akulturasi. Ibu dan ayah saya tinggal di Manado selama kurang lebih tujuh belas tahun. Budaya minahasa menjadi sebagian kecil dari diri saya. Sedangkan sebagian besar waktu saya tumbuh dihabiskan di Jawa. Saat ini saya menempuh pendidikan S1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prodi Hubungan Internasional. Sedang menjadi abdi di beberapa komunitas yaitu GA4P Lamongan, Diaspora Muda Lamongan, DYPLO, dan YIPC Jakarta. Sapa saya melalui sosial media, saya ramah kok! hehe