Membangun Komunikasi Berkeadaban di Era Revolusi Industri 4.0

0
212

Wacana revolusi industri 4.0 atau revolusi  industri keempat pertama kali diperkenalkan di jerman pada tahun 2011 untuk menandai perkembangan terbaru yang cukup signifikan di dunia industri. Revolusi industri pertama ditandai dengan penggunaan energi air dan uap untuk mekanisasi produksi. Revolusi kedua ditandai dengan penggunaan teknologi informasi  dan perangkat elektronik untuk melakukan produksi  secara otomatis. Revolusi keempat dikembangkan dari revolusi ketiga, yaitu revolusi digital yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Revolusi  keempat ini ditandai dengan penggabungan teknologi yang semakin mengaburkan batas antara ruang fisik, digital dan biologis.

Kampusdesa- Secara lebih sederhana kaselir Jerman Angela Markel mengidentifikasi revolusi industri 4.0 sebagai transformasi komprehensif dari seluruh aspek produksi industri  dengan  menggabungkan teknologi digital dan internet dengan industri konvensional.

Revolusi ini membuat ketergantungan industri terhadap teknologi informasi dan komunikasi menjadi semakin tinggi. kemampuan untuk menciptakan inovasi teknologi informasi dan komunikasi yang terintegrasi dengan seluruh proses bisnis korporasi menjadi kunci keberhasilan di era industri 4.0.

Dalam industri komunikasi, transformasi ini ditandai dengan meleburnya batas antara  berbagai jenis media massa konvensional seperti koran, majalah, radio, televisi dan film, karena saat ini semuanya bisa hadir bersama-sama dalam satu ruang yang difasilitasi oleh teknologi internet. Fenomena ini mendorong lahirnya model baru dalam industri media yang dikenal dengan istilah era konvergensi media. Mendeskripsikan konvergensi media sebagai sebuah proses ketika teknologi mobile dan digital mendorong industri media menuju arah baru untuk melakukan integrasi, sinkronisasi dan konglomerasi.

Kehadiran internet juga melahirkan era komunikasi baru oleh manual Castells disebut sebagai era komunikasi massa individual. Penyampaian informasi di internet dapat dikategorikan sebagai kegiatan komunikasi massa karena kagiatan ini berpotensi untuk menjangkau audiens yang luas secara global seperti saat kita menggugah video di youtube, atau menyampaikan pesan melalui mailing list atau grup di media sosial. Pada saat yang sama pesan yang kita sampaikan melalui internet dapat disebut sebagai komunikasi individu karena pesan itu kita buat sendiri, kita juga memilih tipe audiens seperti apa yang hendak dituju dan sebagai audiens kita juga dapat secara selektif memilih pesan yang akan  kita akses. kelahiran era baru komunikasi massa individual ini menghadirkan beberapa tantangan yang harus diantisipasi untuk membangun budaya komunikasi yang berkeadaban.

Di negara yang demokratis, internet memiliki peran strategis karena kemampuannya untuk menyediakan outlet yang efisien sebagai pendukung media komunikasi yang lain.

Euforia budaya partisipasi: Salah satu harapan dari hadirnya teknologi internet adalah kemampuannya untuk menyediakan sarana demokratis dalam mengekspresikan identitas individuataupun identitas kolektif. Wajah demokratis internet dapat dilihat dari karakternya yang cenderung desentralistis, aninim dan memiliki daya tahan yang tinggi. Di negara yang demokratis, internet memiliki peran strategis karena kemampuannya untuk menyediakan outlet yang efisien sebagai pendukung media komunikasi yang lain. Di negara yang cenderung otoriter internet berperan menjadi media alternatif untuk melawan dominasi ruang publik oleh penguasa. internet secara umum memiliki kelebihan dibanding media konvensional dengan kemampuannya untuk menghadirkan pertukaran informasi  yang lebih interaktif, memfasilitasi komunikasi vertikal dan horizontal, proses komunikasi yang relatif tidak termediasi, biaya yang murah, kecepatan komunikasi yang tinggi, serta minimnya batas dan sensor.

Potensi kerahmatamahan yang dihadirkan oleh internet semakin terasa di saat teknologi yang dikembangkan semakin mengarah pada keleluasaan pengguna untuk berbagi konten informasi (User generated content) atau keleluasaan pengguna untuk menciptakan dan memodifikasi konten sesuai dengan selera masing-masing. Budaya partisipasi  dapat dimaknai sebagai budaya  yang memungkinkan hambatan yang kecil untuk ekspresi artistik dan keterlibatan sipil, dukungan yang kuat untuk mencipta dan berbagi karya cipta serta kesempatan mentorship bagi pendatang baru untuk belajar kepada yang lebih berpengalaman.

Pada awal berkembangnya internet potensi partisipasi ini belum banyak dirasakan. Pengguna internet generasi awal masih cenderung terbiasa dengan budaya penerimaan pasif di era media massa sehingga belum menyadari potensi untuk menjadi partisipan aktif di media baru ini. Pengenalan aplikasi seperti weblogs, micro blog dan bentuk media sosial yang lain yang semakin ramah bagi pengguna dan memungkinkan pengguna untuk lebih berperan dalam pembuatan konten sangat mendukung lahirnya budaya partisipasi dalam pemanfaatan internet. perkembangan teknologi internet melahirkan transisi dari budaya penerimaan pasif di era media massa pada akhir abad ke-20 menjadi budaya partisipasi aktif di awal abad ke-21.

Transisi budaya ini dalam prakteknya memunculkan euforia bagi pengguna internet sehingga banyak pengguna internet sehingga banyak pengguna internet yang terjebak pada konsep kebebasan yang tidak tepat. dimanfaatkan secara bertanggung jawab, seringkali berubah menjadi kebebasan untuk membenci dan kebebasan untuk mendistori informasi. Kebebsan untuk melakukan kritik dapat berubah menjadi ujaran kebencian atau penelitian kebencian.

Saat ini konsumen semakin dimanjakan dengan kesempatan untuk membeli produk secara Customized sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen.

Personalia dan Algoritmic Enclave: Salah satu ciri penting dari revolusi industri 4.0 adalah personalia atau penyesuaian spesifikasi produk barang dan jasa sesuai dengan kebutuhan konsumen secara individual. Berbagai produk barang dan jasa tidak lagi dikemas dan dijual  secara seragam. Saat ini konsumen semakin dimanjakan dengan kesempatan untuk membeli produk secara Customized sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen.

Pertumbuhan pengguna media sosial di Indonesia yang sangat tinggi telah berkontribusi secara  signifikan dalam pengembangan budaya partisipasi dalam penggunaan internet dan tumbuhnya suatu bentuk koneksi sosial baru di dunia virtual. Koneksi sosial ini ini terbangun melalui publik yang berjejaring sebagaimana didefinisikan oleh Danah Boyd (2011). Interaksi pengguna internet melalui akun media sosial masing-masing telah menciptakan publik yang berjejaring, terutama dengan adanya fitur seperti profil, daftar teman, ruang komentar dan update informasi terkini. Beberapa paltform media sosial populer seperti Facebook, Twitter dan Instagram menawarkan fitur-fitur yang dapat dimanfaatkan oleh pengguna untuk membangun koneksi sosial dan membangun komunitas imajiner baru melampaui batas-batas geografis.

Komunitas-komunitas imajiner baru ini tercipta secara sadar maupun tidak sadar melalui proses personalisasi yang diciptakan dan difasilitasi oleh pembuat platform media sosial. komunitas-komunitas ini sering kali dibangun dalam lingkaran pertemanan dan pengikut yang terbatas. Fenomena koneksi sosial terbatas yang dibangun oleh komunitas-komunitas ini memunculkan kekhawatiraan akan terjadinya alienasi sosial karena munculnya tendensi kuat dalam menyaring informasi secara selektif dan menciptakan gelembung penyaring (Filter bubble) atau daerah kantong algoritmic (algorithmic enclave) dalam suatu  jaringan tertentu yang membuat tidak memungkinkan masuknya informasi dan opini yang bertentangan dengan pandangan sebagian besar anggota jaringan.

Internet telah berkontribusi dalam membangun publik berjejaring yang menjadi tantangan baru bagi batas konvensional produsen dan konsumen media serta menjadi tantangan bagi batas negara bagsa sebagai komunitas politik imajiner.

Tantangan untuk komunikasi berkeadaban: Budaya partisipasi yang difasilitasi oleh teknologi internet telah membawa harapan pada kehadiran perangkat untuk keramahtamahan (tools for conviviality) yang dibayangkan oleh Ivan illich di awal tahun 70an. Sebagai perangkat yang menjanjikan dalam pengembangan masyarakat yang ramah dan demokratis, internet telah berkontribusi dalam membangun publik berjejaring yang menjadi tantangan baru bagi batas konvensional produsen dan konsumen media serta menjadi tantangan bagi batas negara bagsa sebagai komunitas politik imajiner. Ben Anderson menyatakan bahwa komunitas imajiner berkembang dari penggunaan media yang sama. Di era revolusi industri 4.0 sharing pengunaan media tidak lagi dibatasi oleh batas-batas geografis. Meskipun aspek lokalitas masih menjadi sesuatu yang penting dalam proses konstruksi identitas, suara-suara lokal dan moderat menghadapi tantangan yang berat karena globalisasi media.

Isu penyaringan seperti ini memiliki implikasi yang sangat penting dalam pembentukan komunitas imajiner baru. jika aspek paling esensial dari media digital adalah peer matching, maka ini berpeluang menciptakan gelembung penyaring yang membuat segmentasi komunitas dalam masyarakat karena perbedaan kepentingan dan pendapat. Mekanisme penyaringan informasi ini sangat potensial  untuk memperlebar jarak antara berbagai jaringan sosial di internet karena para anggota jaringan tersebut secara tidak sadar terjebak dalam perspektif sempin dalam melihat berbagai persoalan yang ada dalam masyarakat.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here