MEMBANGUN GERAKAN LITERASI DESA; Catatan dari Trenggalek

0
160

Ketika “kepala suku” Mojok.Co mengajak membangun—apa yang ia istilahkan—“Literasi Berbasis Kampung”, saat ia berdiskusi dengan kami di salah satu komunitas di Desa Gayam Kecamatan Panggul, ia mencontohkan bagaimana anak-anak sekarang tidak tahu nama-nama yang berbau lokal. Misal kita tanya saja anak-anak sekarang, termasuk kita sendiri, tentang nama-nama pisang dengan merujuk pada bentuk dan ukuran pisang. Atau nama-nama tanaman dan hal-hal yang bersifat lokal. Dijamin semakin banyak dari kita yang semakin tidak hafal nama-nama benda-benda apa saja yang ada di lingkungan kita sendiri.

Yang saya tangkap kemudian adalah bahwa Mas Puthut sedang mengajak kami untuk menulis hal-hal yang berbau lokal. Mari kita buat tulisan yang mengangkat tema-tema lokal, agar narasi kita yang kita sebarkan ke pembaca akan membuat nama-nama lokal itu akan terus terngiang di masyarakat. Tapi bukan itu saja. Juga harus dibuat kegiatan-kegiatan kebudayaan yang mengangkat dan membangkitkan kembali hal-hal yang bermuatan lokal.

Lalu diskusi yang memang tidak terstruktur malam itu banyak bercerita tentang konservasi air setelah beberapa orang menguraikan situasi kekinian di mana ancaman terhadap kelangkaan air ada di depan mata. Kami diskusi tentang hilangnya banyak ‘mason’. Tentang banyaknya pohon kelapa sawit yang mulai tumbuh di tanah-tanah desa Trenggalek terutama di wilayah pegunungan dan efek kerakusan tanaman itu terhadap air.

Diskusi tentang literasi dan seputar dunia tulis-menulispun semakin redup dan menghilang. Tapi tidak mengapa, karena inti literasi adalah membuat kita semua melek terhadap informasi dan tercerahkan, atau sekedar mengingat kembali info-info yang sudah pernah kami dengar dan diingatkan kembali oleh diskusi.

Sayapun tahu sejak awal bahwa gerakan literasi bukan hanya sekedar bisa membaca dan menulis, tetapi juga menggunakan kemampuan itu untuk meningkatkan wawasan dan mendorong kita berpartisipasi aktif untuk menyikapi persoalan-persoalan kita sendiri. Sebagaimana kalau kita membaca definisi UNESCO tentang literasi juga menyebutkan bahwa gerakan ini harus mendorong orang untuk “fully participate” atau berpartisipasi aktif.

Sebagaimana yang saya pahami dari definisi UNESCO, maka saya beranggapan bahwa gerakan literasi adalah sebuah proses juga, bukan sekedar tujuan akhir. Gerakan literasi adalah gerakan pemberdayaan melalui kemampuan berliterasi. Dalam bahasa sederhananya sebagaimana yang sering kami kampanyekan adalah soal budaya baca sebagai basis kegiatan menggapai pengetahuan, terciptanya nalar kritis, imajinasi kreatif. Asumsinya adalah bahwa dengan semakin terbuka imajinasi untuk memahami dunia dengan dialektikanya, dengan relasi-relasi antar bagian-bagiannya.

Berhadapan dengan hal-hal yang rumit dan tak terjelaskan, setelah banyak memiliki pengetahuan dan nalar imajinatif, orang bisa mengurai hubungan-hubungan yang ada dalam hidupnya. Dengan pemahaman tentang hubungan-hubungan antar suatu hal dengan pemahaman baru, orang yang terliterasikan akan menemukan dunianya yang baru. Dunia yang kian mudah untuk dihadapi dengan pikiran dan kemudian dengan sikap dan tindakan. Orang yang terliterasikan kemudian akan mudah untuk berperan mengatasi masalah-masalahnya sendiri dan membantu mengatasi masalah orang lain.

Di sini, pada awalnya gerakan literasi adalah gerakan membuat semakin banyak orang membaca dan menulis. Membaca sebagai budaya akan membantu imajinasi kreatif. Sedang ikutannya adalah budaya menulis dan bicara yang membuat orang bisa menyampaikan pesan, informasi, persuasi atau berkomunikasi untuk mengatasi masalahnya. Dari kemampuan memahami menjadi kemampuan berkomunikasi dan berpartisipasi aktif inilah sebenarnya jantung dari gerakan literasi itu.

Maka kemudian, saya menceritakan pada malam itu bahwa ajakan Mas Puthut untuk mengangkat narasi-narasi lokal sebenarnya sudah mulai berjalan di Trenggalek. Saya menceritakan apa yang sudah kami pikirkan dan diskusikan, sebagian juga sudah kami lakukan. Juga dilakukan oleh orang-orang Trenggalek lain. Pertama, baru saja kami menerbitkan buku kumpulan cerita pendek yang berbasis cerita lokal. Di dalamnya mengangkat kisah manusia di desa-desa Trenggalek. Tentang bencana alam, tentang manusia yang sulit menghadapi kehidupan. Juga tentang potensi-potensi budaya lokal. Nama-nama lokal seperti “balung kuwuk”, “gaplek”, “ramban”, dan seting tempat lokal juga menjadi latarbelakang narasi yang digarap para penulisnya.

Kedua, saya juga sering mendiskusikan dengan teman-teman literasi baik dalam bentuk tulisan maupun obrolan lisan tentang keharusan untuk mendata potensi lokal yang ada. Bahkan dari sisi seni-budaya kami bersama teman-teman literasi sudah mendata dan mendokumentasikan kekayaan seni-budaya Trenggalek di desa-desa dan kecamatan-kecamatan. Buku “Peta Budaya Trenggalek 2016” adalah bukti nyata tentang hal itu.

Saya juga pernah menulis tentang upaya melakukan ketahanan pangan dengan cara mendata tanaman apa saja yang sebenarnya enak di makan yang ada di Trenggalek, dan gagasan untuk mendokumentasikan kuliner dan olahan tradisional khas Trenggalek sebenarnya sudah saya lontarkan jauh-jauh hari. Bahkan ketika sebagai ketua Karangtaruna di Desa Margomulyo, Kecamatan Watulimo, kami juga mengadakan kegiatan Pesta Rakyat Desa yang salah satu acaranya adalah mendatangkan para pengolah kuliner lokal untuk menyajikan makanan tradisional seperti Kicak, Cenil, Sompil, Gethuk, Gatot, dan lain-lain. Seingat saya itu terjadi pada tahun 2009.

Waktu itu, para peserta dipersilahkan makan sajian kuliner gratis. Kami membiayai pembuatannya oleh ibu-ibu produsen dan penjual kuliner lokal. Selain sajian seni Tiban, Pencak Silat, Perform menganyam Jala dari desa kami. Meski acara waktu itu hanya berjalan sehari, setidaknya momentum bersejarah itu seingat saya adalah yang pertama yang saya lihat. Meskpun acara diinterupsi sebentar oleh seremonial, di mana waktu itu Ketua Karangtaruna Kabupaten dan seorang perwakilan dari Dinas Sosial Propinsi memberikan sambutan.

Gagasan untuk membuat buku “Peta Kuliner Trenggalek” juga sudah muncul sejak beberapa tahun lalu. Meski belum terealisasikan, tentunya hal ini akan terus berusaha diupayakan untuk digarap. Dan misal ide ini dieksekusi oleh orang atau komunitas lainpun, tidak menjadi masalah. Karena pada dasarnya gagasan kreatif itu harus disebarkan dan siapapun boleh mengeksekusinya karena pada dasarnya tujuan dan manfaatnya adalah untuk banyak orang.

Ketiga, pihak lain di luar komunitas masyarakat, khususnya pemerintah juga pernah mengadakan “Lomba Menulis Sejarah Desa” yang dilakukan dua tahun lalu. Dengan peserta ratusan mulai anak SD, SMP, dan SMA kegiatan ini juga cukup bermanfaat karena anak-anak selaku penulis diminta untuk mendapatkan data dari sumber-sumber sejarah, baik sejarah ilmiah maupun mitos. Setidaknya sudah ada ide untuk menyadari pentingnya sejarah lokal—yang juga disinggung oleh Mas Puthut tentang sejarah desa dan sudah dilakukan.

Ada lagi kegiatan literasi berbasis desa, yang digagas oleh Mas Bonari Nabonenar, yang dilakukan di Desa Cakul Kecamatan Dongko pada tahun 2009. Namanya adalah Festival Sastra Jawa dan Desa. Skala kegiatannya lebih luas karena mengundang banyak aktivis budaya dari berbagai kota, di antaranya adalah sastrawan yang namanya cukup populer, ada aktivis lingkungan dan pegiat pertanian organik dari Yogyakarta yang mengisi workshop dan diskusi.

Kegiatan dan ide-ide tentang literasi berbasis kampung, jika dilihat dari apa yang pernah ada, dan sedang digagas, bukan hal baru untuk Trenggalek. Ide-ide selalu muncul, meskipun pada tataran eksekusi kegiatan dan konsistensi gerakan bisa dikatakan naik turun, serta pengaruhnya belum maksimal.

Saya pikir, poin ini adalah terkait dengan diskusi tentang eksistensi dan pengaruh sebuah gerakan. Sejauh mana pengaruh sebuah gerakan bagi kesadaran massa (pengaruh keluar) dan bagi perubahan tingkahlaku berbagai jenis sasaran yang diharapkan berubah tingkahlakunya perlu dianalisa lebih jauh. Tetapi efek dari gerakan literasi yang lahir normal tanpa bedah cesar sejak tahun 2010, lewat arisan sastra-budaya, saya kira bisa dilacak jejak-jejaknya. Keberadaan komunitas literasi dengan berbagai varian model geraknya, di beberapa titik dan “kantong” di Trenggalek saya kira dengan mudah dilacak dari masa lalu.

Sejarah kadang berjalan tanpa kita sadari. Dialektikanya terus berjalan. Semua berkait-kaitan antara satu peristiwa budaya dengan efek penyadarannya yang bersemai di berbagai tempat yang kemudian tak kelihatan. Hingga kita tiba di era di mana Desa menjadi buah bibir karena dianggap berpotensi untuk menggerakkan literasi untuk mendorong pembangunan. Ada yang mulai menyadari pembangunan taman bacaan. Ada yang menyadari perlunya partisipasi aktif rakyat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan berbasis dana desa dan dana lainnya. Ada gerakan lingkungan hidup, dan berbagai gairah meliterasikan desa-desa dengan berbagai cara.

Saya pikir, kita tidak boleh puas. Kita justru harus merasa belum puas karena ide-ide yang kita gagas belum banyak yang terealiasikan. Gerakan intelektual untuk menyemaikan ide tak boleh berhenti, tapi yang terpenting adalah gerakan meliterasikan rakyat dan kaum muda untuk mau berpartisipasi aktif membangun desanya masing-masing.***