Membaca Tantangan dan Peluang PTAI Baru

0
205

0Shares
0

Banyaknya PTAI baru yang tumbuh dari rahim pesantren menjadi prestasi yang membanggakan bagi pendidikan Islam. Hal ini menunjukkan adanya geliat pertumbuhan intelektualisme di dunia pesantren. Namun, perlu pula dipertimbangkan tantangan dan peluang new comers itu di era 4.0 ini dan 5.0 mendatang. Analisis mendalam diperlukan untuk membaca masa depan mereka agar mampu tumbuh dan berkembang serta mampu bersaing di kancah internasional.

Kampusdesa.or.id-Pelopor berdirinya PTAI pertama di Indonesia yaitu Dr. Satiman Wirjosandjojo. Beliau mengatakan bahwa didirikannya PTAI tersebut karena empat hal; pertama kesadaran diri bahwa umat Islam sangat tertinggal. Kedua, non muslim berkembang karena mengadopsi sistem pendidikan barat. Ketiga, urgensitas perlunya korelasi pendidikan dengan dunia Internasional. Keempat, dalam pendidikan Islam unsur lokal sangat penting untuk diperhatikan.

Di Bondowoso sedang menjamur PTAI baru yang bermula dari pesantren, mulai dari STIS, STITA, STAIAU dll. Berdasarkan fakta itu, penulis mencoba untuk menganalis dari ilmu manajemen pengembangan PTAI Bondowoso perspektif SWOT sebagai berikut:

Pertama, di era 4.0 dan 5.0 akan menimbulkan 5 kecenderungan, integrasi ekonomi, fragmentasi politik, IT, ketergantungan, dan penjajahan baru bidang budaya (new colonization in culture). 5 hal ini menjadi tantangan PTAI baru kedepan.

Kedua, munculnya tantangan baru bagi lulusannya. Artinya, PTAI tersebut agar dilirik masyarakat supaya mengorbitkan output dan outcome yang berkualitas.

Ketiga, tantangan lain perlunya menyesuaikan seluruh komponen pendidikan: visi, misi, tujuan, kurikulum, SDM dosen, mahasiswa, dan lain sebagainya.

Keempat, bagi mahasiswa yang menjadi tantangan adalah perlunya peningkatan penguasaan ilmu tertentu agar menjadi kepakaran yang layak dijual kepada masyarakat.

Kelima, lulusan PTAI berpeluang untuk bersaing dikancah global, sehingga perlu dilakukan usaha dan kerja keras yang lebih massif dan sistemik.

“Perlu adanya konsep entrepreneur university, yakni PTAI harus membangun wirausaha dalam mengembangkan dirinya”

Keenam, perlu adanya konsep entrepreneur university, yakni PTAI harus membangun wirausaha dalam mengembangkan dirinya agar dalam hal pembiayaan akademiknya tidak hanya mengandalkan SPP mahasiswa.

Terakhir, era 4.0 telah menimbulkan tantangan dan peluang bagi PTAI baru, oleh sebab itu tidak boleh terjebak sepenuhnya untuk mengikuti kecenderungan globalisasi yang berbasis pada ideologi kapitalisme dan materialisme.

Memang mendirikan lebih mudah daripada mempertahankan, karena regulasinya bersifat fluktuatif. Semoga PTAI baru di Bondowoso tidak hanya marak dan berbondong-bondong mendirikan namun yang paling penting mempertahankan dan mengembangkan kualitas pendidikannya kedepan. Semoga diberikan kemampuan oleh Allah. Amin