Memanjakan Anak ; Sebuah Pengabaian dalam Kasih Sayang

0
182

TULISAN INI disusun karena terinspirasi oleh cerita-cerita yang saya dapat dari adik perempuan saya tentang bagaimana beberapa tetangga sebelah rumah menerapkan pola asuh untuk  anaknya. Cerita ini saya dapat beberapa bulan lalu di sela-sela saya menikmati waktu santai sepulang dari kampus dan ketika menikmati hari libur di rumah. Jika dirangkum dan disusun, maka berikut hasil cerita dari adik saya.

Pertama, tetangga sebelah rumah katakanlah bernama A. Suami si A adalah buruh bangunan di Surabaya. Ia pulang tidak pasti, kadang seminggu sekali, kadang dua minggu sekali. Setiap pulang, ia selalu membawakan snack dan mainan kesukaan anaknya dalam jumlah yang terbilang fantastis untuk ukuran orang desa.

Menurut penuturan adik saya, pola hidup keluarga kecil ini terbilang “hedonis” meski kondisi perekonomian mereka kembang kempis. Namun, bukan itu yang membuat adik saya prihatin dan bahkan agak jengkel, melainkan cara mereka dalam mendidik anak, yaitu terlalu memanjakan. Apapun yang diinginkan anak, baik si A maupun suaminya selalu menuruti. Meski kadang jatah jajan untuk si anak sudah habis, mereka tidak segan untuk berhutang demi menuruti keinginan si anak.

Selain itu, si A tidak membiasakan anaknya berbagi dengan temannya. Sebagai contoh, suatu ketika keponakan saya dan temannya bermain di rumah si A. Mereka bermain sambil makan snack, anak si A pengen juga makan snack tersebut. Adik saya kemudian menyuruh anaknya untuk memberikan sebagian snacknya kepada anak si A. Tapi si A melarang, ia kemudian buru-buru membelikan sendiri snack yang sama. Kejadian ini sering berulang, meskipun sudah diperingatkan oleh adik saya akan bahaya dan akibatnya. Namun tidak pernah digubris, ia berdalih bahwa hal itu dilakukan dalam rangka menyenangkan anaknya dan merupakan wujud kasi sayang mereka.

Tak lama berselang, apa yang dikhawatirkan adik saya terjadi. Si A mengadu kepada adik saya tentang sikap dan perilaku anaknya yang pelit dan ingin menang sendiri. Si anak tidak mau berbagi apapun dengan temannya.

Kedua, tetangga sebelah rumah satunya, katakanlah namanya B. Suami si B adalah karyawan sebuah toko roti di Surabaya. Ia pulang hanya sekali dalam beberapa bulan. Hampir sama dengan si A, si B dan suaminya juga selalu menuruti apapun yang diinginkan anak mereka. Hal ini mereka lakukan agar anaknya tetap rajin belajar. Selain itu, si B dan suaminya sangat menekankan kepada anaknya agar selalu mendapatkan nilai yang bagus di sekolah. Berbagai cara pun mereka tempuh, termasuk mencarikan guru les dan memberi iming-iming hadiah jika anaknya berhasil mendapatkan nilai yang bagus.

Namun, ternyata muncul persoalan baru yang tidak disadari si B dan suaminya. Anak mereka menjadi manja dan berani dengan orangtuanya. Bahkan—menurut yang disaksikan adik saya—anak si B berani membentak ibu dan ayahnya. Padahal masih kelas 4 SD.

Ketiga, tetangga yang agak jauh dari rumah, katakanlah si C. Menurut penuturan adik saya, si C tak beda jauh dengan si A dan si B. Namun, selain memnjakan si C juga agak over protektif terhadap anaknya. Kemana-mana anaknya selalu di antar dan ditunggui. Bahkan, guru TK anak si C pernah mengeluhkan bahwa anak si C tidak mau belajar jika tidak ditunggui orangtuanya. Anak si C sering takut dan bahkan menangis bila jauh dari orangtuanya.

Berdasarkan cerita yang saya dapat ini, dapat kita tarik satu benang merah. Benang merah tersebut adalah pola asuh yang terlalu memanjakan anak akan berdampak negatif pada kondisi kejiwaan, sikap, dan mental anak. Setidaknya terdapat beberapa kesimpulan yang dapat kita tarik dari sini.

Pertama, memanjakan anak akan mengondisikan anak menjadi pribadi egois. Semakin anak terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya untuk dirinya sendiri, maka akan terbentuk sikap dalam diri anak bahwa apa yang dia miliki adalah “hanya untuk dirinya sendiri.” Nah, sikap ini nantinya akan berdampak luas dalam hidup dan kehidupannya kelak. Misalnya saja dalam konteks pergaulan, ia akan sulit mendapatkan teman karena keengganannya untuk berbagi.

Kedua, memanjakan anak akan menjadikan anak tidak bisa mandiri. Kebiasaan segala kebutuhannya dipenuhi oleh orangtuanya tanpa ada usaha untuk mendapatkannya sendiri, akan melahirkan sebuah konsepsi pada diri anak bahwa ia tidak akan bisa melakukan apapun tanpa bantuan orang lain. Dampaknya, anak akan menjadi pribadi yang malas dan selalu bergantung pada orang lain.

Dan ketiga, ini yang menurut saya agak menakutkan, semakin kita memanjakan anak, ternyata sikap hormatnya kepada kita justru hilang dan tak berkembang. Sehingga tidak heran kasus kedua dialami oleh si B. Jika terus dibiarkan, sikap ini akan terus terbawa hingga anak dewasa nantinya. Dan tentu akan berdampak tidak baik bagi mereka.

Pemahaman dan wawasan tentang pola asuh yang benar ternyata masih belum banyak dimiliki para orangtua. Terlebih mereka yang semasa kecilnya sudah terbiasa dimanjakan oleh orangtuanya. Selain itu, persepsi yang salah tentang kasih sayang juga perlu untuk diluruskan. Jangan sampai kasih sayang yang diberikan justru merupakan jalan “menyesatkan” anak.

Biasakanlah anak mengusahakan sendiri apa yang mereka butuhkan dan inginkan. Biarlah mereka merasakan jerih payah usaha agar kemudian bisa merasakan manisnya keberhasilan. Memanjakan bukanlah wujud kasih sayang, melainkan wujud pengerdilan, pembelengguan, serta penguburan potensi dan kepribadian anak []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here