Memaknai Harta dan Uang Bukan Segalanya

0
363
Ilustrasi diambil dari pastiseru.com dari film 3 idiot

0Shares
0

Sudah nonton 3 idiot? Film India yang lucu tetapi penuh dengan kritik. Film itu menggambarkan antara kemerdekaan dan obsesi orang-orang kaya yang dipenuhi oleh prestise untuk memenuhi gaya hidup. Sementara itu, peran tokoh 3 idiot menjadi simbol perlawanan gaya hidup. Di era media online, figur publik telah menyeruak menjadi model bagi gaya hidup, termasuk menjadi kaya. Sementara kekayaan otentik, sebagaimana kelaziman perjuangan menjadi kaya ada daya juang yang butuh proses, bukan instan. Apakah kekayaan yang otentik sekarang tidak lagi berakar pada itu semua? Atau orang kaya yang berjibun dengan gaya hidup sejatinya mereka miskin otentisitas?

Kampusdesa.or.id–Kamu pernah melihat film “3 Idiots” di mana di dalamnya ada adegan bagaimana Racho (diperankan Amir Khan) menebak dengan jitu bagaimana reaksi yang akan terjadi setelah ia menyiram minuman pada sepatu seorang laki-laki kaya dalam sebuah pesta? Rancho ingin menunjukkan itu pada Pia (diperankan Kareena Kapoor) bahwa tebakannya akan benar. Bahwa bahwa laki-laki itu akan menyebut harga sepatu itu yang dipakai dalam pesta itu!

Dan ternyata benar. Laki-laki yang akan menjadi suami kakak Pia itu teriak-teriak marah dan menyebut harga sepatu yang mahal itu. Dari situ Rancho ingin mengingatkan bahwa suami kakak Pia adalah tipe laki-laki yang membanggakan harta dan kekayannya. Dan kita melihat dalam film itu bahwa Rancho dan teman-teman akrabnya adalah mahasiswa ‘miskin’ yang punya nyali untuk datang ke pesta dosennya (ayah Pia) agar bisa dapat makan malam gratis. Mereka adalah anak-anak muda yang suka ‘mengerjai’ para dosen di kampusnya yang bangga menggunakan otoritas, juga temannya yang ingin mengejar nilai tinggi dengan cara manipulasi. Rancho adalah sosok anak muda yang penuh solidaritas dan punya empati, tapi memang punya naluri iseng untuk mempecundangi orang-orang ambisius, gila harta, gila gelar, dan gila otoritas itu tadi!

Di akhir film kita melihat bagaimana ternyata Rancho menjadi sosok ilmuwan yang melakukan banyak riset dan penemuan. Dengan gaya personalitas yang masih sederhana dan tampaknya juga masih “gokil”, baik hati, dan tidak sombong. Ia bikin yayasan di mana ia bisa bermain layang-layang dengan anak-anak untuk menyemaikan motivasi dan pengetahuannya.

***

Ada yang mengatakan bahwa pada dasarnya tiap orang ingin nyaman dan enak. Bahasa awamnya, siapa yang tak ingin kaya. Tapi harus kita akui bahwa memang tak sedikit orang yang menilai kekayaan adalah dari sisi materi (uang dan harta kepemilikan, aset, dan tabungan, dan lain-lain). Keinginan kaya membuat mereka membayangkan enaknya bisa memenuhi keinginan apa saja.

Lalu kita lihat orang-orang kaya yang tak didukung tingkat wawasan dan pendidikan itu kadang amat lucu. Seperti banyak di sekitar kita orang kaya baru (OKB) yang karena wawasan dan pergaulannya kurang, lantas bertingkah laku aneh ketika punya banyak harta. Akhirnya ia menganggap kekayaan materinya itu saja yang menjadi bahan untuk bereksistensi.

Mungkin Si perempuannya beli berlaksa emas yang ditaruh di tangannya, di lehernya, di kupingnya, dan bahkan di kakinya. Mobilnya mewah. Beli ini dan itu. Anaknya juga dibelikan ini dan itu. Kamu pasti mudah menduga orang kaya baru ini (OKB) ini dulunya terlalu lapar dan miskin, sehingga ketika menjadi kaya mendadak, menjadi kalap.

Tapi memang tak semua begitu lho. Ada juga yang tidak. Hal itu tergantung dari beberapa faktor. Yang jelas manusia itu hidup dari kondisi yang dialami dan dihadapi, juga dari sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai. Dengan siapa ia bergaul. Bagaimana tingkat kesusahan dan kebahagiaan hidup yang dialami dari kondisi nyata yang ia hadapi. Semuanya membentuk jalinan keadaan dan berpengaruh pada kejiwaan, pemikiran, dan perilaku. Persepsi dibangun oleh pengalaman dan komunikasi diri yang mempengaruhi cara melihat sisi luar diri (keadaan, lingkungan, kehidupan).

Kadang kita temui di antara orang-orang miskin itu yang cerdas dan bijak. Tak sedikit juga orang-orang banyak harta yang tak bijak. Banyak juga dari mereka lahir generasi tidak cerdas dan tidak bijak.

Memang rata-rata kemiskinan mengakibatkan minimnya pendidikan dan juga membawa tingkat kesadaran tersendiri. Tapi kadang kita temui di antara orang-orang miskin itu yang cerdas dan bijak. Tak sedikit juga orang-orang banyak harta yang tak bijak. Banyak juga dari mereka lahir generasi tidak cerdas dan tidak bijak. Artinya jika kita bicara keumuman dari fenomena, tentu masih ada kondisi khusus dari fenomena itu.

Memang, secara umum kemiskinan membuat orang serba kekurangan. Tapi kekurangan juga membuat orang bisa berjuang keras, dan kadang melahirkan kesadaran baru dan kecerdasan yang tinggi. Tapi memang sedikit, tapi selalu ada yang seperti itu. Demikian juga, ketercukupan materi memang memungkinkan orang berada bisa memenuhi kebutuhan apa saja. Tapi di satu sisi keadaan itu juga membuat mereka terlena dan menumpulkan otak mereka alias meminimalisir kesadaran.

Seperti yang saya jumpai di beberapa keluarga berkecukupan yang ternyata anaknya justru tak terkontrol, liar, nakal, yang akhirnya justru merepotkan si orangtua itu sendiri. Mengonsumsi narkoba dan pergaulan bebas. Kita jadi bertanya, sebenarnya apakah kaya dan berkecukupan harta itu adalah tujuan utama dari orang yang sudah berkeinginan membangun ekonomi keluarga dan kemudian melahirkan anak?

Bagi orang yang berada dalam kehidupan miskin susah, memang ada di antara mereka yang dengan ambisi besarnya kerja keras dan ketika menemukan jalan untuk kaya mereka telah berada dalam proses perjuangan keras mencari harta. Orang obsesif-kompulsif pengejar harta ini mungkin lupa diri dan akhirnya ketika tujuan mencari harta tercapai ia menganggap memang itulah tujuan hidupnya sehingga itulah yang dianggap bisa “dipamerkan” pada orang lain. Tapi ternyata mereka lupa bahwa harta adalah sarana eksistensi dan bukan tujuan untuk bisa eksis. Harta adalah alat untuk hidup yang baik dan bermanfaat.

Tapi kalau ambisi memang kuat dan dibangun terus dalam jangka waktu yang lama, hingga lupa makna hidup yang lain selain mengejar harta karena memang awalnya amat lapar dan takut tidak kaya, maka ambisi itu akan jadi afirmasi diri yang membentuk cara pandang dan perilaku. Anak jadi tidak diperhatikan, dan mungkin memberikan perhatian hanya lewat materi. Dan perhatian manipulatif ini ternyata mengganggu perkembangannya menuju pribadi yang otentik. Celaka bagi keluarga kaya yang memberikan perhatian dan kasih sayang ini melalui materi dan kurang berkomunikasi dengan anaknya.

Demikian juga bagi kaum miskin yang tingkat kemiskinannya ekstrim. Kemiskinan akut membuat orang yang mengalaminya tertekan, dunia menyempit dalam jiwa, karena hal yang paling mendesak untuk dipikirkan adalah bagaimana caranya bisa makan. Bahkan fenomena kemiskinan di daerah perkotaan, ada kalanya mereka hanya berjuang untuk makan dan kemudian baru berteduh. Dari mereka lahir pribadi yang keras dan liar, dunia hidup dan mati. Bahkan ada di antara mereka yang pilihannya hanya mencuri atau tidak makan! Meminta atau tidak makan! Kesehatan yang buruk, lingkungan tempat hidup yang mengenaskan, membuat mereka tak mampu mengembangkan diri.

Mereka pun sering tak diakui keberadaannya oleh pemerintah kota. Disebut sebagai gelandangan dan pengemis. Dan disembunyikan di belakang gedung-gedeng mewah dan tinggi menjulang.

Saya sering bilang, kemiskinan ekstrim dan dan kekayaan ‘over’ (berlebih) itu sama-sama membuat orang jadi miskin eksistensi. Tapi itulah yang terjadi di negara ini. Orang kaya hidup mewah di gedung-gedung menara, di bawah dan di belakangnya hidup dalam kemiskina yang buruk. Ini adalah ketimpangan nyata. ‘Gap’ ini menjadi basis bagi permasalahan eksistensi inividu-individu di dalamnya.

Gaya hidup orang kaya yang sering dimunculkan di media kemudian dianggap sebagai patokan gaya hidup yang paling sahih. Sedangkan ambisi untuk menjadi kaya raya muncul juga dari kalangan kaum miskin, pas-pasan, atau kelas menengahnya.

Yang kata raya memamerkan gaya hidupnya yang sebenarnya miskin eksistensi lewat medianya. Mayoritas rakyat miskin dirayu dengan tayangan iklan dan tayangan gaya hidup mereka. Gaya hidup orang kaya yang sering dimunculkan di media kemudian dianggap sebagai patokan gaya hidup yang paling sahih. Sedangkan ambisi untuk menjadi kaya raya muncul juga dari kalangan kaum miskin, pas-pasan, atau kelas menengahnya. Media borjuis memfasilitasi ambisi dan keinginan naik kelas dengan ilusi pendidikan agar bisa mobilitas sosial ke atas (naik kelas). Di bidang budaya mereka juga diilusi dengan audisi-audisi menjadi artis yang selalu dijadikan acara televisi.

Pada masyarakat beginilah kita hidup. Ketimpangan dilanggengkan. Ambisi-ambisi menjadi kaya banyak muncul dari orang miskin, terutama pemuda-pemudanya yang berjuang keras untuk menjadi kaya. Dan ketika mereka merasa menggapai ambisinya, belum tentu mereka menjadi manusia-manusia yang berkualitas dan otentik. Dalam masyarakat yang timpang ini, kaum muda banyak dihipnotis juga dengan tata cara menjadi kaya dengan cara instan. Seperti pernah saya jumpai dalam seminar motivasi MLM, yang diomongkan pembicaranya adalah: Ayo menjadi kaya! Ayo menjadi kaya! Dan mereka menunjukkan caranya, ya salah satunya tentunya agar gabung dengan MLM yang sedang ditawarkan.

Dan saya meyakini, dengan intervensi akal sehat dan kekuatan tertentu dari manusia yang berjuang bersama, bisa saja kita menciptakan kondisi di mana manusia kaya semua atau setidaknya ketimpangannya tidak separah ini.

Mohon maaf, saya bukanlah manusia yang anti menjadi kebercukupan atau kaya. Tapi, melalui tulisan ini, saya ingin mengatakan soal bagaimana hubungan kekayaan dan kemiskinan, ketimpangan, dan jejalin ideologisnya mewarnai masyarakat. Kalau toh tiba-tiba nanti saya ditakdirkan punya rejeki lebih baik, saya hanya ingin bahwa saya bukan tipe orang yang lupa pada masyarakat jenis apa saya hidup. Dan saya meyakini, dengan intervensi akal sehat dan kekuatan tertentu dari manusia yang berjuang bersama, bisa saja kita menciptakan kondisi di mana manusia kaya semua atau setidaknya ketimpangannya tidak separah ini. Semisal, seperti di negara-negara Kesejahteraan Eropa sana, setidaknya kebutuhan pokok masyarakat terjamin dan tiap orang bisa ber-eksistensi bukan dengan cara lucu dan bodoh! []

Trenggalek, 08/04/2016