Memahami penyebab Konflik Wali Murid dan Guru

0
386

Konflik batin diantara keduanya akan berdampak pada efisiensi   belajar mengajar di sekolah. Terlebih konflik fisik, dapat meruntuhkan citra pendidikan bangsa ini. Demi meningkatkan motivasi belajar siswa, sangat diharapkan Guru dan wali murid bergandeng tangan saling menyempurnakan.

Kampusdesa.or.id-Kesalah pahaman fatal dalam dunia pendidikan hari ini ditandai ketika wali murid merasa dia lah yang menggaji guru dan guru berikir bukan wali murid lah yang memberi bayaran tehadap mereka. Gede rasa atau terlalu menjunjung harga diri menjadikan alot bagi kedua pihak untuk saling memahami. Maka tensi harga diri perlu diturunkan sedikit supaya sekat antara guru dan wali murid bisa sejalan demi kebaikan putra putri di sekolah.

Gede rasa atau terlalu menjunjung harga diri menjadikan alot bagi kedua pihak untuk saling memahami.

Orangtua siswa pasti berfikir seribu kali untuk memilihkan sekolah yang tepat untuk anak. Survey harga, survey qualitas, survey lulusan merupakan sorotan orangtua dalam menilai sekolah. Expektasi tinggi orangtua terhadap keberhasilan sekolah dalam mendidik anak membuat mereka memperhitungkan segala sesuatu dengan rinci. Masalahnya memperhitungkan itu sangat dekat sekali dengan hitung hitungan yang berkonotasi apa yang sudah sekolah berikan untuk anak. Sehingga sekolah tak ubahnya seperti bengkel motor. Maka perlu digaris bawahi bahwa sekolah tidak menjamin anak menjadi kaya dan juara namun sekolah merupakan fasilitator supaya anak mendapat pendidikan yang layak sesuai tahap perkembangannya.

Sekolah tidak menjamin anak menjadi kaya dan juara namun sekolah merupakan fasilitator supaya anak mendapat pendidikan yang layak sesuai tahap perkembangannya.

Perbedaan latar belakang wali murid mempengaruhi karakteristik pola pikir mereka terhadap guru. Gelagat orang tua dapat dilihat dari segi ekonomi, tingkat pendidikan, budaya dan status sosial. Dalam hal ini status sosial memiliki pengaruh besar terhadap perilaku orangtua. Paradigma bahwa guru berada dalam posisi standar bawah dibanding jabatan pemerintahan, aparat negara, dan pengusaha sehingga wali murid bisa semena  mena terhadap guru merupakan pandangan yang salah. Inilah yang disebut krisis identitas wali murid. Efeknya kita dapati berita berita penganiayaan terhadap guru bahkan hingga berakhir dalam delik pidana.

Paradigma bahwa guru berada dalam posisi standar bawah dibanding jabatan pemerintahan, aparat negara, dan pengusaha sehingga wali murid bisa semene mena terhadap guru merupakan pandangan yang salah. Inilah yang disebut krisis identitas wali murid.

Apa itu krisis identitas? Krisis identitas merupakan kebingungan individu dalam menemukan perannya sehingga kerap kali mencoba memenuhi perannya dalam ranah sosial namun jalannya salah. Misalnya, seorang wali murid ingin menjadi orangtua yang berani menegur kekurangan guru namun dengan cara tidak sopan dan aniaya, itulah krisis identitas menggunakan cara yang salah.

Beberapa hal yang kerap kali diributkan wali murid terhadap sekolah diantaranya adalah kelayakan fasilitas, Jadwal pelajaran, keamanan sekolah, kenakalan diantara murid dan tata tertib siswa.  Sebenarnya sekolah itu sudah by design, sudah dirancang oleh internal sekolah supaya proses belajar mengajar berjalan tertib, rancangan itu disebut tata tertib guru, tata tertib siswa dan tata tertib wali murid. Jika tata tertib dijalankan dengan penuh kooperatif maka bisa dibilang problem akan mencapai nol persen. Meskipun hal tersebut tidak mungkin terjadi karena ke khilafan manusia, alangkah baiknya jika wali murid tidak menuntut perfect pihak sekolah sebagaimana manusia yang memiliki keterbatasan.

Sebenarnya sekolah itu sudah by design, sudah dirancang oleh internal sekolah supaya proses belajar mengajar berjalan tertib, rancangan itu disebut tata tertib guru, tata tertib siswa dan tata tertib wali murid.

Kemudian, kemajuan teknologi informasi juga perlu diawasi.  Hampir semua wali murid memiliki smartphone dimana kehadirannya memicu efek negatif pola asuh orangtua terhadap anak.  Dampak buruk lain yang ditimbulkan oleh screen teknologi  ialah perasaan “ tidak butuh guru” sebab semua jenis ilmu sudah bisa diakses melalui kotak kecil bernama smartphone.

Merasa lebih pintar dan mengetahui segalanya berkat smartphone  dapat mengurangi sikap respect wali murid terhadap Guru. Sebab melalui telepon pintar, orangtua bisa membanding banding sekolah A dengan sekolah B, Kebijakan Guru C dan Guru D. Masalahnya generasi orangtua saat ini berfikir kritisnya masih kurang, sehingga beragam informasi profokatif  ditelan mentah-mentah dan melabilkan emosi mereka.

Evaluasi bagi guru tidak kalah penting, karena bagaimanapun beliau merupakan penanggung jawab pendidikan di sekolah. Dua hal yang perlu diperhatikan pihak sekolah, yaitu SDM guru yang belum mencapai kriteria kompeten dan Kecerdasan komunikasi guru yang lemah. Sejak di Universitas seharusnya para calon guru sudah disadarkan bahwa “ mengajar itu adalah seni ”. Sehingga sudah sepantasnya guru guru di abad ini memainkan peran otak kiri dan otak kanan. Otak kiri berisi pengetahuan untuk diajarkan dan otak kanan bertugas menjalin hubungan yang komunikatif nan kreatif  antara guru, murid dan wali murid. Untuk guru, silahkan anda sebutkan nama nama wali murid dan profesinya di kelas anda mengajar, hafalkah? Jika tidak bisa, bisa diasumsikan ada sekat diantara anda dan wali murid!.

Dua hal yang perlu diperhatikan pihak sekolah, yaitu SDM guru yang belum mencapai kriteria kompeten dan Kecerdasan komunikasi guru yang lemah.

Kesimpulannya, guru sebagai pilar bangsa juga memiliki keterbatasan. Sementara orangtua siswa sangat menginginkan anaknya sukses melalui tangan tangan emas sang guru. Alangkah  damainya kedua belah pihak dapat duduk bersama, saling mendukung penuh kepercayaan.  Tidak ada guru yang sengaja membiarkan muridnya lemah tanpa ilmu dan tidak ada orangtua yang sanggup melihat buah hatinya terpelosok dalam kubangan kebodohan. Untuk masa depan anak, mari saling mengerti.