Melintasi Indonesia; Pengalaman Prestisius Menjadi Guru Madrasah di Perbatasan

0
186

Dipercaya oleh Kementerian Agama untuk menjadi trainer di perbatasan Indonesia akan terkesan sangat istimewa, apalagi amanat itu dipercayakan seorang guru Madrasah di Kabupaten Malang. Rasa gembira dan semangat inspirasi menjadi satu keajaiban bagi orang-orang yang terus berusaha menjadi terbaik, meskipun itu seorang guru sekalipun.


SAYA sangat berbangga hati ketika Bapak Kasubag TU Direktorat GTK Madrasah Kementerian Agama RI, Pak Haji Sidik Sisdiyanto menugaskan saya bersama rekan saya Bu Najmah untuk menjadi pemateri dalam Program Visiting Guru Madrasah daerah perbatasan. Seminggu sebelum kegiatan tersebut Pak Haji (sapaan akrab saya kepada Pak Sidik Sisdiyanto), menghubungi saya lewat pesan WA, agar menyiapkan materi bagi guru madrasah di Tarakan, Kalimantan Utara. Saya pun menyatakan siap dalam melaksanakan tugas yang diperintahkan. Agenda pada hari Selasa-Kamis, 26-27 Desember 2017 saya cancel semua, demi tugas yang diberikan Pak Haji.

Namun saya yakin, Pak Haji menunjuk saya pasti dengan pertimbangan yang sangat matang sesuai dengan kapasitas dan potensi saya, meskipun sebagai manusia biasa di dalam hati ada perasaan sedikit minder. Saya pun menyiapkan materi presentasi slide power point dengan semangat, sambil membayangkan saya mempresentasikannya di depan para guru madrasah di Tarakan, Kalimantan Utara. Tentunya juga dengan doa-doa khusus agar materi presentasi saya bisa bermakna dan berguna.

Dua hari melembur setiap malam, akhirnya materi dengan 48 slide powerpoint selesai. Saya sangat puas dengan materi yang saya buat kali ini, karena sangat lengkap. Mulai dari pembukaan, kuis untuk peserta, ice breaker, materi inti, video motivasi dan diakhiri dengan lagu Hymne Guru.

Senin pagi saya memesan travel dari Malang menuju Bandara Juanda Surabaya. Alhamdulillah, keesokan harinya Selasa, 26 Desember 2017 pukul 03.10, mobil travel saya menjemput. Meski agak terlambat menjemput saya, hingga membuat hati saya sedikit was-was, takut tidak dijemput dan pada akhirnya terlambat sampai Bandara Juanda. Untung itu semua tidak terjadi. Setelah berpamitan pada istri dan membelai ke-empat anak saya, saya pun naik mobil travel. Perjalanan sekitar 1,5 jam menuju Bandara Juanda tak terasa bagi saya, karena disambi dengan ngobrol bersama Pak Sopir travel yang baik.

Pukul 04.40 saya sampai Bandara Juanda dan bertemu Bu Najmah. Menyempatkan sholat Shubuh dan langsung chek-in. Penerbangan kami pukul 05.45 menuju Balikpapan. Kami sengaja transit di Balikpapan, untuk sekedar ingin melihat suasana di Balikpapan. Kami sempat mampir ke Pantai Kemala. Pada sore harinya kami pun terbang menuju Tarakan. Sesampai di Bandara Tarakan, kami sudah dijemput oleh Pak Kasi Pendidikan Madrasah, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara dan diantar menuju Hotel Royal Tarakan.

Pada Rabu, 27 Desember 2017 saya sudah bersiap rapi dan cakep, untuk menuju Kantor Kementerian Agama Kota Tarakan, tempat acara visiting guru madrasah di daerah perbatasan. Setelah dibuka oleh Bapak Kabid Pendidikan Islam Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara, saya pun mulai menyapa dan memberikan materi kepada peserta guru madrasah dengan penuh percaya diri dan semangat.

Di awal memberikan materi motivasi, saya mengajak para peserta untuk meluruskan niat bahwasanya, kegiatan hari ini jangan dijadikan sebagai sebuah beban, namun kita niatkan sebagai ibadah. Niat tholabul ‘ilmi, agar yang kita kerjakan hari ini bernilai manfaat, ibadah dan pahala di sisi Allah SWT. Selain itu saya juga menytakan pada peserta, bahwa kita ini adalah orang-orang yang beruntung dan terpilih, karena saat kebanyakan orang-orang atau guru-guru lain liburan, justru kita berada di sini untuk belajar. Setelah itu, saya memberikan kuis, dengan hadiah buku saya senilai 50 ribu, bagi peserta yang bisa menjawab dengan tujuan memberi stimulus agar para peserta lebih semangat dalam mengikuti kegiatan.

Namun sayangnya di sekitar 30 menit saya memberikan materi, tiba-tiba ada pemadaman listrik, padahal materi yang saya berikan belum selesai. Saya pun mempersilahkan rekan saya, Bu Najmah untuk melanjutkan memberikan motivasi tentang kepemimpinan efektif di madrasah sesuai kapasitas beliau, sambil menunggu listrik menyala kembali.

Alhamdulillah, listrik kembali menyala, setelah 1 jam padam. Saya mempersiapkan kembali materi presentasi dan melanjutkan menyampaikannya kepada para peserta. Saya melihat para peserta sangat antusias sekali. Waktu 3 jam tidak terasa telah kami lewati bersama peserta guru madrasah. Saya dikode panitia agar menyelesaikan materi karena Bapak Kakanwil Kemenag Kaltara sudah datang untuk menutup kegiatan, dan syukur bertepatan materi yang saya sampaikan selesai semua.

Di slide terakhir presentasi yang saya buat ada lagu Hymne Guru. Saya pun mempersilahkan para peserta berdiri dan menyanyikan bersama-sama, sekaligus menyambut kedatangan Bapak Kakanwil Kemenag Kaltara. Beliau masuk dan ikut menyanyikan lagu Hymne Guru. Setelah selesai bernyanyi bersama, saya mempersilahkan para peserta duduk kembali dan mengucapkan Assalamualaikum. Presentasi pun saya akhiri.

Bapak Kakanwil Kemenag Kaltara dalam sambutan penutupannya menyatakan bahwa guru harus seperti yang ada di dalam lirik lagu Hymne Guru. Yang pertama guru harus menjadi ‘pelita dalam kegelapan’, yang bermakna bahwa guru memberikan pencerahan ilmu bagi siapa saja, orang-orang di sekitarnya, tentu khususnya adalah para peserta didiknya. Yang kedua, guru harus menjadi ‘embun penyejuk’, yang bermakna guru bisa mendamaikan, merukunkan dan menginspirasi dengan perkataan dan perbuatannya. Yang ketiga adalah, guru harus menjadi ‘patriot pahlawan bangsa’, yang bermakna guru bertanggungjawab pada bangsa dan negara dalam bidang pendidikan, yaitu mencerdaskan generasi penerus bangsa ini.

Sungguh saya sangat bahagia dan berbangga hati, karena materi yang saya sampaikan di hadapan peserta diterima dengan baik, terlebih lagi di presentasi saya terakhir saya punya ide menyanyikan lagu Hymne Guru, membuat Bapak Kakanwil terinspirasi dalam sambutan penutupan beliau. Kegiatan visitasi pun ditutup beliau dengan pukulan meja tiga kali. Sesi terakhir kegiatan, kami pun melakukan foto bersama, karena hari gini tidak afdhol jika tidak melakukan dokumentasi berfoto bersama. Betul tidak? Hehehehe.


Saya berharap, ini bukanlah akhir namun justru adalah awal untuk saya bisa terus berbagi kepada guru-guru di daerah perbatasan yang lain atau di tempat-tempat yang lain. Karena this is my passion, saya melakukan tugas yang diberikan kepada saya ini bukanlah dengan keterpaksaan, namun justru dengan hati gembira, karena saya diberikan kesempatan berbagi, memberi inspirasi dan motivasi sebagai wadah aktualisasi dan kebahagiaan diri


Selanjutnya juga saya pun memberikan kesempatan tandatangan pada buku saya bagi peserta yang mendapatkan buku dari kuis-kuis selama sesi kegiatan.

Saya mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada Bapak Menteri Agama RI, melalui Direktorat GTK Madrasah yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk memberikan materi visiting guru madrasah di daerah perbatasan. Saya berharap, ini bukanlah akhir namun justru adalah awal untuk saya bisa terus berbagi kepada guru-guru di daerah perbatasan yang lain atau di tempat-tempat yang lain. Karena this is my passion, saya melakukan tugas yang diberikan kepada saya ini bukanlah dengan keterpaksaan, namun justru dengan hati gembira, karena saya diberikan kesempatan berbagi, memberi inspirasi dan motivasi sebagai wadah aktualisasi dan kebahagiaan diri, bukan sekedar mencari materi. Alhamdulillah, saya pun bisa menyatakan bahwa the mission is finish with happy ending.

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here