Melewati Penderitaan, Jangan Mengeluh Ketika Bercita-cita Mendapatkan Beasiswa LPDP

0
258

Tahukah kamu bahwa para pemburu beasiswa LPDP seperti apa mental juangnya ? Jika melihat mereka telah berbuah nikmat mendapat beasiswa baik S2 hingga S3, maka kita tentu tidak cukup melihat yang hasilnya saja. Bagaimana perjuangan mereka dan liku-liku menundukkan tantangan yang menghadang ? Modal mental yang seperti apa sebaiknya untuk dipupuk pada masing-masing pribadi agar lebih siap ?

Perhatian utama kesiapan mental pemburu beasiswa LPDP sepertinya ada di saat Anda sedang terpental. Saat di mana beasiswa itu tidak kunjung datang justru titik itulah batu sandung apakah takdir anda memang bukan rejeki atau itu sebatas kamu memang sedang diuji di awal, di tengah atau di detik-detik terakhir saat akan menyerah.

Pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan kisah nyata. Fajri, alumni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Studi S2 Language and Linguistics di Lancaster University, Inggris, yang juga mendapat penghargaan beasiswa LPDP membuka tulisan ini yang saya kutip ketika menjadi narasumber KulOnBe 3.

“Saya ingin menekankan kalau perjalanan untuk mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri adalah tentang “bertahan dan bersabar dalam berjuang.” Tidak banyak yang langsung “goal” dalam percobaan pertamanya. Bagi saya sendiri, setelah lulus S1 saya sudah mencoba mendaftar beasiswa S2 luar negeri, dan beasiswa LPDP ini sendiri adalah percobaan yang ke 13. Mungkin ada atau banyak juga yang melebihi angka 13 baru dipantaskan untuk mendapat beasiswa luar negeri. Jadi, bersabarlah dan terus berpikir positif.”

Anda heran tidak! Saya sendiri tidak pernah punya bayangan jika para pemburu beasiswa LPDP tersebut melampaui perjuangan panjang yang menurut saya sangat melelahkan.

Ternyata tidak sesepele yang saya bayangkan. Kenyataannya ada kunci pentingnya, bahwa perjuangan mereka sampai sedemikian panjang tersebut mampu dirawat dalam setiap pribadi pejuang dengan didasari niat yang benar-benar tulus, sambung Fajri yang hadir dalam interaksi chatting di group WA untuk kuliah online beasiswa (Kulonbe) ke-3.

Fajri tidak sendirian lo ternyata. Ketahanan untuk selalu berjuang itu ternyata juga dimiliki oleh Irham, seorang narasumber KulOnBe 1 yang lulus 2015 dari studi Master di Radboud University Nijmegen Belanda, di Bidang linguistics. Dia bertutur,

“Untuk LPDP ataupun beasiswa yang lain yang perlu kita persiapkan adalah keinginan yang kuat juga usaha yang besar. Sebelum saya menerima penghargaan LPDP saya sudah mendaftar puluhan beasiswa. Kita yang percaya bahwa ada Tuhan maka pasti kita akan berdoa dan meminta pertolongan agar apa yang kita inginkan bisa tercapai.”

Masih menurut orang yang sama, yang juga sosok dosen muda di jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Islam Negeri Malang ini perlunya seorang pemburu beasiswa LPDP harus juga memiliki mimpi yang besar dan selalu terus berdoa serta banyak mencari dukungan dari keluarga agar kita memiliki kekuatan fokus mengejar beasiswa sampai di genggaman kita.

Dasar inilah yang menjadikan seorang pemburu beasiswa LPDP memiliki kekuatan dan tahan banting terus melakukan percobaan sampai usaha kita diijabahi oleh Allah. Tidak masalah mencoba berkali-kali. Toh, seorang Fajri pada perxobaan yang ketigabelaslah beasiswa LPDP itu didapat.

Pertanyaannya, apakah Anda saat ini sedang berhenti karena menyerah tak kunjung mendapatkan beasiswa LPDP ? Yah, malulah dengan usaha Fajri.
Bukan hanya dia lo yang berkali-kali. Narasumber KulOnBe 1, Irham, pun berpuluh-puluh kali mencoba aplikasi, baru mendapatkan mimpinya bisa kuliah keluar negeri dengan beasiswa LPDP. So pasti, menyerah hanya karena tidak lolos di tahap tertentu tidak semestinya menjadi alasan anda untuk berhenti berusaha agar bisa mencari ilmu dengan tanpa mengeluarkan biaya sendiri.

Mental berusaha pantang menyerah adalah ujung tombak dari para pesohor yang telah melampaui studinya dengan dukungan beasiswa LPDP. Mereka tangguh dan bukan jiwa yang diliputi keluh kesah apalagi suka meratapi keterpurukan. Mereka orang yang bisa melejit dari situasi terpuruk.

Kembali mengutip kisah Fajri. Dia awalnya sudah diterima di Kairo untuk kuliah. Apa hendak dikata, peluang emas tersebut terbentur karena orang tua tidak mengizinkan sehingga dia pun mengurungkan berangkat ke Kairo. Baginya amat kecewa berat. Titik balik ini ternyata tidak menjadikannya cengeng dan meratapinya dengan berlarut-larut. Melalui peristiwa ini justru dia mendapat kesempatan untuk berhijrah menuju Amerika dengan beasiswa LPDP. Artinya, idaman ke luar negeri tetap dapat diraih meskipun orang tuanya melarang di kesempatan pertama kiliah di Kairo

Apakah kita harus pintar ?

Ukuran pintar yang seperti apa yang bisa lolos beasiswa LPDP. Bagi seorang pendidikan itu adalah hak. Jikalau orang bersungguh-sungguh maka mimpi untuk kuliah di luar negeri pun akan bisa kita dapatkan. Sebagaimana dikiatakan oleh Fajri,

“pendidikan yang baik itu adalah hak kita dan semua orang punya hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik. Tinggal pertanyaannya adalah apakah kita siap untuk belajar di kampus yang terbaik untuk kembali akhirnya memberikan kontribusi yang baik pula pada masyarakat kita dengan skema beasiswa seperti LPDP”?

Sebagaimana dituturkan kembali olehnya, “tidak sedikit teman-teman kita yang kita anggap sangat pintar mungkin atau bagus akademik, tapi belum diberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan di luar negeri.” Anda belum terlambat ketika punya mimpi ingin kuliah di luar negeri namun prestasi anda bukan prestasi yang sempurna. Senyampang IPK anda memenuhi standar minimal maka masih terbuka anda untuk terus menjaga semangat tersebut sembari melengkapi persyaratan lain yang dibutuhkan. Sebagaimana diungkapkan oleh Fajri,

“saat kita kuliah belum memberikan prestasi yang baik, tidak usah khawatir untuk merebut kesempatan kuliah keluar negeri dengan beasiswa. Masih terbuka lebar karena prestasi akademik ketika berkuliah bukan satu-satunya jaminan untuk mendapatkan beasiswa.”

Maka dari itu, jaga prestasi yang sudah anda miliki lalu belajarlah menambah wawasan dan ketrampilan lembut yang dibutuhkan sebagai penentu menopang syarat-syarat unggul lainnya.

Bagi para penjajal beasiswa LPDP, ada profil pribadi yang turut diperhatikan, seperti kemampuan mengelola emosi dan pengalaman baik di bidang kepemimpinan. Beasiswa LPDP mensyaratkan adanya keutamaan selain akademik karena memang yang diutamakan adalah sosok yang jiwanya mampu menyumbangkan ilmuny untuk perubaham negeri ini menjadi lebih baik.

Untuk itu, tidak ada salahnya misalnya anda aktif di organisasi, atau memiliki kegiatan-kegiatan yang dapat diukur perannya membantu kemajuan masyarakat. Apalagi peran itu tetap bisa Anda lanjutkan ketika sudah lulus kuliah dengan beasiswa LPDP.

Jangan lupa juga untuk ikut penelitian, bergabung dengan penelitian dosen dan belajar dengannya terlibat dalam tulis menulis. Khususnya menulis di jurnal ilmiah. Jadi pintar saja tidak cukup tanpa diperkuat oleh beberapa ketrampilan akademik yang berorientasi pengembangan keilmuan dan pengabdian masyarakat.

Kuncinya, jangan menyerah berjuang. Jika Anda sungguh-sungguh dan tidak putus asa maka pendidikan yang anda impikan adalah hak atasmu. Begitulah mindset yang perlu dibangun mengacu pada pengalaman Irham dan Fajri.

Tunggu catatan-catatn kecil lainnya dari dalam group Kuliah Online Beasiswa (KUL-ON-BE) yang diselenggarakan oleh para tim Sabilillah Enterpreneur Institute (SEI) Malang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here