Mangga Milenial, Mungkinkah untuk Petani Gurem ?

0
280

Banyak varietas yang telah dilepas pada komoditas hortikultura sering ditemukan tidak Peka Pasar (belum sesuai permintaan pasar atau bahkan tidak diminati pasar). Oleh karenanya rakitan varietas unggul baru harus berorientasi selera atau preferensi pasar dengan mengembangkan–dalam istilah kerennya–participatory breeding. Beruntung, adanya UU Hortikultura tentang aspek sumberdaya genetik (SDG) dan pengembangan perbenihan bisa menjadi payung hukum yang jelas dalam menciptakan rakitan varietas unggul baru.

Saat ini lalu lintas pertukaran SDG masih menjadi permasalahan yang pelik karena di satu sisi Indonesia memiliki ragam genetika yang banyak. Di sisi lain galur-galur murni belum banyak ditemukan. Galur hasil introdusir lebih cepat tersedia dan introduksi varietas unggul baru lebih praktis dari pada melakukan sendiri pemuliaan tanaman yang membutuhkan waktu panjang. Dalam arti kata, boleh jadi lebih efisien impor benih/bibit varietas baru yang peka pasar daripada melakukan perakitan sendiri yang ternyata lebih lama dan mahal.

Dalam dunia bisnis hal semacam ini, sah saja terjadi. Meski mungkin saja pilihan semacam ini bisa dituduh tidak nasionalis. Tapi itulah faktanya di era liberalisasi pertanian. Bagi negara yang tidak mau dan tidak mampu mempersiapkan diri cenderung pada akhirnya akan memberi tekanan yang tidak menguntungkan dan memarjinalkan petani-petani kecil/rakyatnya dikarenakan tidak memiliki kemampuan untuk menangkap dan memanfaatkan peluang yang tersedia.

Bertolak dari momentum “Gelar SDG Mangga” yang diselenggarakan di kebun percobaan Cukurgondang Pasuruan dibawah naungan Puslitbang Horti Kementan ini, melalui launching varietas baru Mangga “Agri Gardina46” sebagaimana deskripsi pada (gambar) diharapkan ke depan bisa membidik segmen dan memenuhi selera pasar masyarakat urban/perkotaan. Kendati pada faktanya, seringkali kita dalam beberapa langkah pengembangannya masih tertinggal jauh dibanding dengan negara lainnya seperti. China, Thailand, Taiwan dan India. Tak hanya keseriusan/political will negaranya tapi juga karakter kemandirian warga/petaninya dalam mengembangkan tanaman buah seperti hal-nya mangga ini kita masih lemah.

Banyak petani gurem/kecil yang dibantu bibit tanaman (misal, mangga) oleh pemerintah tetapi mereka tidak memiliki orientasi berkebun secara intensif. Kalaupun ada, mereka masih banyak yang tertinggal dari segi penerapan teknologi budidayanya sehingga komoditas yang dihasilkan tidak memiliki daya saing di pasar.

Baca juga ;

Pengusaha yang melalukan investasi di sektor hulu (dengan kepemilikan kebun intensif) keberadaannya juga sangat minim dibanding negara-negara tersebut. Lebih banyak pelaku dihilir (off farm) dari pada yang bermain hulu (on farm) pada skala kebun intensif/komersil. Wajar jika ada disparitas supply dan demand buah-buahan tak terkecuali mangga. Ini menjadikannya susah untuk bersaing baik kuantitas maupun kualitasnya dengan negara-negara lain yang memiliki banyak kebun-kebun intensif dalam skala besar, akibatnya kran impor terpaksa dibuka.

Lantas, bagaimana bentuk terobosannya?

Inilah yang saat ini sedang kita tunggu dan harus diupayakan secara bersama-sama dengan melibatkan stakeholder yang ada. Pihak Swasta, Pemerintah, Asosiasi dan Komunitas Petani dudah saatnya saling berkolaborasi untuk mendorong sektor pertanian khususnya hortikuktura agar menjadi lebih baik. Adapun kondisi ideal yang diinginkan sebenarnya sederhana saja. Setidaknya bisa dimulai dari hasil rakitan varietas yang dilepas di era milenial ini, seperti halnya Mangga Agri Gardina 46 ini (~sebut saja “Mangga Pisang” atau “Banana Mango”).

Senyampang belum terlambat, segeralah terobosan program pengembangannya dimulai dari sekarang dengan tetap melibatkan petani gurem sebagai sasaran. Sebab, jika tidak demikian, maka nantinya akan menjadi sebuah keniscayaan bahwa beragam varietas mangga milenial dari luar negeri (impor) akan memborbardir pasar domestik, tanpa ada perlawanan.

Bagi anda yang paham dan peduli dengan dunia pertanian khususnya “per-MANGGA-an, mari kita berkolaborasi dengan Komunitas #NgajiTani ! Cukurgondang, Pasuruan (4/11).

Abdus Salim. Founder Komunitas #NgajiTani, Inisiator dan Pembakti Kampung Cabe di Dusun Daleman, Kadur, Kabupaten Pamekasan. Selalu berusaha mengajak para petani untuk mandiri. Alumni Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here