Malam Takbiran, Damai Sejahtera dari Allah Bapa

0
92

Agama itu sebagai budaya bisa menjangkau yang lain dan penikmatan agama bisa lintas batas meski tak mengganggu iman. Disitulah sebenarnya agama menyapa kemanusiaan. Iman boleh beda tetapi perjumpaan manusia tidak terhalang untuk saling menyapa. Begitulah ketika takbiran dimaknai dari orang yang berbeda iman.

Bengkulu-KampusDesa – Dulu, setiap pagi menjelang malam takbiran Pak Etek selalu mengantar obor ke rumah untuk saya, Barmen dan Kak Ulik. Bapak dengan sigap mengisi obor dengan minyak tanah dan memperbaiki sumbu obor dengan sabut kelapa yang lebih padat.

Nanti, di malam takbiran, anak-anak akan berkumpul di halaman masjid yang tidak jauh dari rumah. Pak Etek akan memanggil kami dari pagar bonsai, mengajak kumpul.

Pendidikan yang Memanusiakan Bukanlah Mitos

Kami mendengarkan instruksi dari Pak Etek. Berbaris rapi, tidak mengganggu kawan di kanan kiri depan belakang, tidak memainkan obor sembarangan, dan tentu saja mengikuti Pak Etek mengucapkan takbir.

Kami dengan fasih mengucapkan “Allaahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar” sepanjang pawai obor, dari halaman masjid menuju blok 1, blok 2, hingga melewati tiap-tiap blok, saya lupa hingga blok berapa, yang pasti banyak sekali. Hingga kembali ke arah rumah kami masing-masing.

Nanti, saat menuju rumah kami, Pak Etek akan menyalam bapak yang sudah menunggu di teras rumah. Dan bapak akan mengucapkan selamat hari raya. Pak Etek yang seorang ustad itu tidak pernah lupa menyalami bapak yang seorang penatua. Tidak hanya itu, esok saat lebaran tiba, Tante Sugeng akan mengantarkan banyak sekali makanan, begitu juga tetangga-tetangga kami yang lain.

Tadi pagi, saat sarapan bapak mengingatkan mamak,” nanti jangan lupa beli ketupat di pasar ya mam.”

Selamat merayakan hari kemenangan, untukmu. Damai sejahtera dari Allah Bapa, yang melampaui segala akal, itulah yang memelihara hati dan pikiranmu.

Salam,
Grasia Renata Lingga 💜

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here