Mahasiswa Baru FK Unismuh Bersemangat Pelajari Literasi Digital

0
152
Foto bersama mahasiswa Baru FK Unismuh usai Kegiatan Literasi Digital

Makassar, kampusdesa.or.id ”Wahai mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah (FK Unismuh) Makassar. Jadilah pembelajar tangguh dengan visi kebangsaan yang kuat dan penguasaan literasi digital yang hebat memasuki revolusi industri 4.0 untuk kemandirian dan kedaulatan bangsa Indonesia yang kita cintai.” Untaian nasihat ini disampaikan oleh Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., PhD. melalui jejaring media sosial, kepada Dito Anurogo untuk disampaikan kepada mahasiswa baru FK Unismuh Makassar pada kegiatan literasi digital calon dokter pada 21 September 2018

Senada dengan Rektor UGM, Prof. Dr. Suyanto Pawiroharsono, DEA., profesor riset di lingkungan BPPT, berpesan kepada mahasiswa baru FK Unismuh Makassar bahwa sebagai kader pengemban program pembangunan perekonomian, khususnya dalam Making Indonesia 4.0 dengan aspirasi Indonesia menjadi Top 10 Ekonomi Dunia tahun 2030, mahasiswa baru dituntut menjadi agen perubahan yang selalu kreatif dan mampu secara konsisten melaksanakan tugas riset untuk menghasilkan penemuan atau invensi dan produk inovatif berbasis sumber daya lokal yang berdaya saing tinggi.

Dokter Literasi Digital

Salah seorang pemateri yang juga merangkap panitia divisi orientasi, dr. Dito Anurogo, M.Sc., menyampaikan presentasi tentang Dokter Literasi Digital, Jumat, 21/09/2018. Presentasi tersebut meliputi speed reading, dokter cahaya, optogenetik, kiat meresensi buku, dan jurus pamungkas taklukkan media. Semua softcopy materi telah diberikan dalam satu folder sehari sebelumnya untuk dibaca dan dipahami oleh mahasiswa baru.

Dalam presentasi dan diskusi sekitar seratus menit bertajuk ”Dokter Literasi Digital”, penulis lebih dari 20 buku ini mengemukakan istilah dokter 4.0 sebagai dokter yang berkarakteristik futuristik, berpikir komprehensif, dapat diterima oleh siapapun, memiliki jiwa kepemimpinan yang diterima baik oleh multi/lintassektoral. Dokter literasi digital juga perlu melakukan upaya sinergis dan kolaboratif dengan semua pihak, terutama di dalam upaya menghadapi era digital yang dipenuhi perang bintang, dimana tsunami informasi berpotensi menjadi perang berita, perang opini, perang wacana, yang berujung pada perang pemikiran. Semua tipe ”perang” ini berpotensi memecah belah bangsa, sehingga perlu dilakukan langkah preventif dan antisipatif.

“Medan perang digital inilah awal mulanya muncul berita hoaks, kabar yang masih dipertanyakan kebenarannya,” ujar Dito dihadapan sekitar 60an mahasiswa baru. Untuk mengantisipasi berita hoaks, pria berkacamata minus ini mengemukakan berbagai strategi efektif menilai berita. Literasi digital perlu berpedoman kepada kebenaran, sehingga menyehatkan netizen. Inilah konsep awal dari internet sehat dan literasi sehat.

Prinsip Internet Sehat

Berbicara internet sehat, dokter yang penyuka filateli, sastra, numismatik, dan jelajah alam ini mengemukakan lima prinsip dasar. “Pertama, bertanya pada ahlinya. Kedua, membaca secara kritis. Ketiga, waspada. Keempat, perbanyak sahabat. Kelima, perkaya informasi.” Hal lain sebagai pondasi dasar atau fundamental literasi digital adalah paremioliterasi. Paremioliterasi merupakan literasi yang bersumber dari peribahasa daerah sebagai sumber kearifan lokal.

Hal lain yang menarik dibahas adalah konsep ”Dokter Cahaya” yang berbasis prinsip ABC, yakni Agama-Akal, Budaya-Bisnis, dan Cinta. Adapun tentang membaca cepat atau speed reading, dokter penulis The Art of Medicine ini mengajarkan sekilas kiat membaca cepat berpedomankan Speed Reading for Beginners karya Muhammad Noer dan The Complete Idiot’s Guide to Speed Reading karya Abby Marks Beale dan Pam Mullan.

Dokter literasi digital juga perlu melek teknologi terkini. Oleh karena itulah, konsep optogenetik juga diperkenalkan. Dengan teknik optogenetik, peneliti dapat memodulasi aktivitas sistem persarafan tertarget menggunakan cahaya gelombang tertentu.

Seputar LS-IT

Kegiatan bertajuk Ta’aruf, Learning Skill, and Information Technology (LS-IT) 2018 ini diselenggarakan di FK Unismuh Makassar dari tanggal 14-22 September 2018. Panitia terdiri dari 30 orang. Dokter Muh. Ihsan Kitta, M.Kes., SpOT., sebagai ketua, dr. M. Akbar Yunus (sekretaris), Rosdiana, St, MM (wakil sekretaris), Nurlina, S.E., M.M. (bendahara), Eka Muftihaturrahma, S.E. (wakil bendahara), delapan orang sebagai divisi orientasi, enam orang sebagai divisi learning skill/IT, tiga orang sebagai divisi administrasi dan persuratan, empat orang sebagai divisi konsumsi, empat orang sebagai divisi dan perlengkapan.

Kegiatan LS-IT berlangsung dengan lancar. Para pemateri dan moderator datang tepat waktu. Para mahasiswa baru sangat kooperatif dan menikmati rangkaian kegiatan dengan bersemangat dan antusias.

“Alhamdulillah, kegiatan LS-IT berjalan dengan baik. Semoga acara ini dapat memberikan gambaran tentang bagaimana proses pembelajaran di FK Unismuh Makassar,” tutur dr. Ami Febriza Achmad, M.Kes. selaku kaprodi FK Unismuh.

Komentar Konstruktif

Beragam komentar dan saran datang dari mahasiswa baru. ‘’Secara keseluruhan semuanya sudah sangat bagus, dok. Sangat inspiratif. Kalau boleh saran dok, penjelasannya bisa lebih rinci lagi dan sedikit lebih pelan agar lebih mudah dipahami,’’ tulis Sagena Nurul Carisma di lembar evaluasi.

Mahasiswa F Kedokteran tekun mengikuti bimbingan dokter Dito Anurogo (Batik) dalam kegiatan literasi digital di Unismuh Makassar

Sedikit berbeda, Annisa Jusuf berpesan, ‘’Ke depannya saya sangat mengharapkan dokter bisa menjelaskan tentang tips belajar nyaman di Fakultas Kedokteran dengan waktu yang singkat dan tidak mengantuk pada saat belajar.’’

Saran konstruktif datang dari Nur Fitriani. Ia menuliskan, ‘’Jika bisa dok memberikan materi tentang globalisasi dunia. Peran dokter menghadapi globalisasi.’’ Khairil Arif Rahman rupanya tertarik membuat buku. Ia berpesan, ‘’… Jika membawakan materi lagi, ada bagusnya untuk menceritakan lagi lebih spesifik tentang buku yang Anda buat, dok, dan juga bisa mengajari kami sebagai maba FK untuk membuat buku.’’

Dukungan inspiratif datang dari Wardatul Jannah Yunus. Ia menuliskan, ‘’Ditunggu buku-buku, penelitian yang luar biasa Dokter. Semoga semakin sukses dan tetap menjadi inspiratif Dokter.’’ Hal ini senada dengan Ainy Salshabilla Gella. Ia menuliskan saran konstruktif, ‘’Tetap berkarya di masa yang akan datang yaa dok..’’. Ainy termasuk mahasiswa baru yang paling rajin di antara semua temannya, karena hanya ia yang mengerjakan tugas membaca cepat secara mandiri. Skor yang diperolehnya 315.

Dalam lembar evaluasi, beberapa mahasiswa menyarankan agar presentasi disampaikan secara perlahan, jangan terlalu cepat. Dari survei tingkat kepuasan, dari rentang skor 20-100, mahasiswa baru memberi skor berkisar 86 hingga 100 untuk pemateri.

Apresiasi positif datang dari Prof. Dr. H. Achmad Syahrani, Apt., MS, dari Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga (FF UNAIR). Dalam komunikasi melalui jejaring media sosial, pemateri menyampaikan salam sinergis-kolaboratif dari mahasiswa baru FK Unismuh Makassar. Beliau menjawab, ‘’Semoga mereka terinspirasi Dr. Dito, sehingga bisa sukses seperti Dr Dito.’’

Mahasiswa baru begitu antusias terhadap semua materi yang disampaikan secara interaktif dan inovatif, terutama saat menyanyi Anging Mamiri di awal materi dan Kokoro no Tomo di akhir presentasi. Beberapa mahasiswi ada yang melambai-lambaikan tangan. Sebagian mahasiswa ada yang bertepuk tangan sambil bernyanyi. Suasana begitu hidup dan meriah, hingga saat terakhir saat foto bersama, semua mahasiswa baru bersemangat berpose di depan kamera.

Antusiasme mahasiswa di dalam mengerjakan tugas yang diberikan pemateri juga patut diapresiasi. M Abiyudo Nugroho, sampai berkirim pesan melalui salah satu media sosial. Ia menuliskan,

‘’…Tabe’ dok. Pertama-tama saya mewakili kelompok saya meminta maaf atas keterlambatan kami mengirim tugas kami dok. Tabe’ dok saya mau konfirmasi bahwa tugasnya sudah saya kirim saat jam 00.21 dok. Tabe’ dok terimakasih sebelumnya dok. Maaf sudah mengganggu dok.’’

Benar-benar mahasiswa era digital yang bersemangat mencari ilmu pengetahuan dan memperjuangkan kebenaran. Semoga idealisme ini selamanya ada, bukan sementara saja.  (dr. Dito Anurogo, MSc, dosen FK Unimuh Makassar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here