M. Irfan: Dari Meneropong Hingga Menyiapkan Peluang Petani di Masa Mendatang

0
74

KampusDesa News_Setelah resmi dibuka, agenda Sarasehan Tani dilanjutkan dengan  sesi pembahasan tentang pertanian. Kepentingan masa depan pertanian menjadi fokus utama pembahasan pada sesi pertama. Dalam sesi ini dibahas pula keterkaitannya dengan peluang-peluang petani akan datang.

Sesi yang bertajuk Sarasehan Nasional I ini dinarasumberi oleh M. Nuruddin selaku Sekretaris Jenderal API (Aliansi Petani Indonesia) dan M. Irfan selaku Asisten Bupati Bondowoso.

Di awal pembahasan, M. Irfan langsung menyampaikan tentang peluang dan ancaman pertanian akan datang. Kepintaran dalam membaca peluang produksi menjadi pokok pembahasannya. Ia mengambil contoh di daerahnya Bondowoso tentang keberhasilannya di sektor pertanian kopi.

“Kunci sukses untuk mencapai produksi yang maksimal harus pintar membaca peluang. Tahun 2011 Bondowoso mampu mengimpor kopi ke Negara Swis dengan nominal keuntungan 19 Milyar. Selain membaca peluang produksi, jaringan kerjasama dengan badan domestik atau badan non-pemerintah tak cukup, harus mulai berani keluar menjaring kerjasama berbasis Internasional,” Ujar Irfan.

Hal itu dikemukakan karena melihat kondisi pertanian beberapa tahun ke depan diprediksi akan mengalami kekrisisan, tentu menjadi sebuah ancaman tersendiri bagi sektor pertanian khususnya petani kopi.

“Data dari kementrian perdagangan, pada tahun 2023 nanti Indonesia akan berada dalam keadaan darurat kopi Nasional, ini merupakan ancaman nyata kita ke depan. Maka dari itu, perlu ada upaya-upaya produksi kopi untuk terus meningkat,” Pungkas pria yang membidangi Ekonomi Pembangunan Bondowoso ini.

Sementara itu, untuk membaca peluang sektor produksi, baik sebelum atau sesudahnya, petani harus serempak bersatu, harus terorganisir. Hal itu disampaikan oleh M. Nuruddin dikesempatannya waktu memaparkan materi. Ia mencoba menjelaskan hal itu melalui organisasi API yang sedang digelutinya.

“Aliansi Petani Indonesia adalah organisasi petani intenasional yang berdiri sejak tahun 2003. Organisasi ini mencoba untuk memberi penghargaan dan perlindungan terhadap petani. Organisasi ini juga mencoba mengatasi problematika petani hari ini,” Ungkap Gus Din, sapaan akrabnya.

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, Gus Din mengungkapkan langkah petani yang bergerak sendiri-sendiri sangat tidak efisien, terutama dalam segi produksi dan ekonomi. Untuk itu harus terorganisir agar mempunyai daya tawar yang apik terhadap aktor produksi. (HA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here