Lorong Gelap Itu Bernama Autis (Bagian 3)

0
187

Memiliki anugerah anak istimewa memang merupakan kenikmatan hidup tersendiri. Banyak hikmah hidup yang Allah ajarkan kepada kami. Kini buah hati kami telah tumbuh dewasa, ia telah keluar dari lorong gelap yang bernama autis itu. Proses panjang nan pahit yang kami lalui untuk merawat dan mendidiknya, kini telah berbuah manis.

Kampusdesa.or.idBagaimana dengan program terapi perilaku dan biomedis? Program terapi perilaku dilakukan sebanyak dua kali seminggu dengan durasi 2 jam persesi. Karena hanya itulah kemampuanku membayar biaya terapi. Sebagai gantinya aku memperhatikan bagaimana Bu Erna memberikan terapi ke Wildan, bagaimana caranya berkomunikasi, bagaimana cara mengajarinya keterampilan semacam menggunting, mencocok dan bantu diri, serta bagaimana cara mengajarinya calistung (membaca, menulis, dan berhitung). Untuk terapi biomedis ke dokter Sasanti tidak begitu lancar karena faktor biaya dan tenaga. Untuk faktor biaya dan suplemen yang diberikan sebenarnya masih terjangkau, tapi karena saraf rasa sakit Wildan tidak bekerja sebagaimana mestinya maka dia seringkali baru ketahuan kalau sakit saat penyakitnya sudah parah. Ke luar masuk rumah sakit sudah menjadi hal biasa.

“Di sekolah aku beberapa kali dilabrak oleh ibu-ibu wali siswa karena anakku dianggap tidak sopan dan mengganggu. Padahal Wildan tidak agresif asal tidak diganggu atau digoda”

Alhamdulillah perkembangan Wildan cukup bagus. Pada saat masuk ke RA, Wildan baru menjalani terapi selama 6 minggu. Di dalam kelas, dia tidak bisa duduk lama dan selalu bergerak ke sana kemari. Gurunya yang kebetulan adik kelas dan teman sekamar waktu sekolah di Kediri sangat sabar. Aku sering bertanya dan memberi masukan bila gurunya mengalami kesulitan. Aku betul-betul memantau perkembangannya: seberapa lama durasi konsentrasinya dan seberapa banyak perkembangan perbendaharaan kosa katanya. Di sekolah aku beberapa kali dilabrak oleh ibu-ibu wali siswa karena anakku dianggap tidak sopan dan mengganggu. Padahal Wildan tidak agresif asal tidak diganggu atau digoda.

Tahun 2005 Wildan masuk Madrasah Ibtidaiyah pada saat aku baru melahirkan anak ketiga. Aku tidak bisa mendampinginya di hari pertama masuk. Untungnya RA dan MI berada dalam satu lokasi sehingga guru-guru MI pun sudah tahu keadaan Wildan. Wildan digabungkan dengan teman-temannya di kelas yang jumlah muridnya sedikit sehingga sangat membantunya berkembang. Karena waktu itu terapisnya sudah membuka tempat terapi di Gogorante, Kediri maka Wildan harus ke sana untuk terapi. Terapi tetap dilakukan dua kali seminggu pada hari minggu dan hari lain menyesuaikan keadaan, maka dalam seminggu selalu ada bolos satu hari untuk menjalani terapi.

Puji syukur, semakin bertambah usia kemandiriannya juga semakin meningkat. Kelas dua Wildan sudah mampu sekolah sendiri dengan naik mobil jemputan sekolah. Suatu hari saat kelas 4 dia menyerahkan sebuah surat pemberitahuan,”Buk, jemputannya naik, aku sekarang naik sepeda saja biar irit”. Meski aku sangat kuatir karena jarak rumah dan sekolah yang cukup jauh sekitar 3 KM, aku meluluskan keinginannya. Beruntungnya Wildan memdapatkan perlakuan yang baik dari teman-temannya. Guru-gurunya juga komunikatif, bila ada masalah aku selalu diberitahu. Wildan juga beberapa kali diikutkan kegiatan memperingati kemerdekaan atau dipilih mengikuti upacara memperingati Hari Pramuka di tingkat kecamatan.

Tahun 2011, saat Wildan duduk di MTs, aku mengirimkan rambutnya ke sebuah laboratorium di California untuk mengetahui kadar toksin dalam tubuhnya. Kenapa baru tahun 2011 tes toksinnya? Karena saat awal terapi biaya tes toksin sangat mahal. Sebenarnya yang mahal bukan biaya labnya tapi lebih ke biaya kirim sebab tidak ada barengannya. Pada tahun tersebut biayanya cuma $ 100 karena biaya kirim ditanggung banyak orang.  Ternyata hasil lab yang kami terima cocok dengan perkiraan dokter, Wildan keracunan lead (timbal hitam). Dan kadarnya sangat tinggi yaitu tiga kali lipat dari ambang batas maksimal yang diperbolehkan. Darimana lead itu bisa masuk ke dalam tubuhnya? Entahlah aku tidak tahu, bahkan dokter pun tidak bisa memprediksi apakah racun itu memapari tubuhnya saat masih di dalam kandungan atau ketika sudah lahir.

“Setelah melalui berbagai terapi, berbagai peristiwa yang mengharu biru, kami bisa sampai pada keadaan ini. Dan Wildan mulai mewujudkan cita-citanya yang lain daripada yang lain, menjadi supir truk”

Kini Wildan sudah berusia 21 tahun, sudah lulus aliyah dan sedang belajar bekerja. Dia sudah bisa menyetir truk meski belum berani di jalan raya yang lalu lintasnya sibuk. Dia sangat tertarik dengan mesin mobil. Jenis truk merupakan kendaraan yang disukainya untuk diutik-utik. Puji syukur, setelah melalui berbagai terapi, berbagai peristiwa yang mengharu biru, kami bisa sampai pada keadaan ini. Dan Wildan mulai mewujudkan cita-citanya yang lain daripada yang lain, menjadi supir truk. Sebuah cita-cita yang mungkin tidak pernah ada di benak siapapun karena supir truk itu bukanlah cita-cita yang bergengsi.

“Intervensi sedini mungkin sangat dibutuhkan agar anak bisa berkembang dengan baik. Aku juga berencana mendirikan tempat terapi yang dapat membantu anak kebutuhan khusus berkembang”

Setelah melalui lorong gelap penuh perjuangan baik fisik maupun psikis rasanya seperti sebuah mukjizat yang kami terima dari Allah SWT, yang selalu memberi kekuatan dan jalan di setiap halangan yang kami hadapi. Sebagai rasa syukur, aku selalu berusaha mensosialisasikan kepedulian terhadap tumbuh kembang anak agar bisa segera didiagnosa bila ada gejala-gejala yang mengindikasikan anak mengalami gangguan perkembangan. Intervensi sedini mungkin sangat dibutuhkan agar anak bisa berkembang dengan baik. Aku juga berencana mendirikan tempat terapi yang dapat membantu anak kebutuhan khusus berkembang. Syukur-syukur bisa bersekolah di sekolah reguler dan menjalani kehidupan seperti kehidupan orang-orang pada umumnya. Semoga aku mampu melewati lorong kedua ini. Aamiin.