Lorong Gelap Itu Bernama Autis (Bagian 2)

0
152

Perjalanan panjang itu pun dimulai. Detik demi detik kami lalui dengan selalu menengadahkan harapan kepada Sang Kuasa. Aku meyakini Tuhan tak mungkin memberikan cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya. Meskipun tidak mudah, aku berusaha untuk tetap sabar, tegar, dan juga tangguh menghadapi kerikil yang terkadang membuatku terjatuh ini.

KampusDesa–Dan petualangan kami pun dimulai. Aku mulai menjalankan arahan-arahan dokter Sasanti satu persatu. Pertama-tama aku mencari alamat tempat terapi yang diberikan dokter Sasanti. Ternyata tempatnya lumayan jauh dari tempat tinggalku bahkan untuk ke sana harus nambang (menyeberangi sungai Brantas menggunakan perahu yang dikaitkan pada seling). Aku pun mencari informasi ke pengelola tentang persyaratan mendaftar dan apa saja yang akan dilakukan untuk menangani Wildan. Wow, ternyata pendaftarannya cukup mahal untuk ukuranku, belum uang bulanannya, sedangkan aku harus rutin ke Surabaya untuk terapi biomedis. Aku berkata kepada pengelolanya bahwa aku akan berpikir terlebih dahulu mengingat kondisiku yang akan melahirkan dan tempat yang lumayan jauh sedang suami tidak bisa mengantar karena harus bekerja. Tak lupa, aku mengamati bagaimana proses menerapi yang ada di tempat tersebut. Aku juga bertanya ke beberapa orang tua yang sedang menunggui putra putrinya diterapi. Dari situ aku mendapat info kalau terapisnya ternyata bukan orang yang sabar. Dia tahu anak-anak yang ditunggui orang tuanya dan tidak. Anak yang tidak ditunggui orang tuanya sering mendapat perlakuan yang tidak sepantasnya, misal dikatai dengan kata-kata kasar bahkan diumpat. Berkata kasar? Mengumpat? Oh itu tentu tidak terjadi bila si terapis itu tulus dalam menerapi anak autis. Akhirnya tempat terapi aku masukkan blacklist meski aku belum tahu harus mencari terapis ke mana.

Kadang aku meneteskan air mata tiap kali melihatnya harus menelan kekecewaan karena tidak bisa makan sebebas teman-temannya. Tapi itulah perjuangan, semua butuh usaha keras dan pengorbanan, termasuk korban perasaan.

Langkah berikutnya adalah melakukan diet Casein Free-Gluten Free seperti yang disarankan. Semua makanan yang mengandung terigu dan susu harus dihindari. Wildan yang hobby berat makan mi goreng harus distop, mengurangi konsumsi gula, menyingkirkan jauh-jauh susu dan roti, menghentikan makan di luar rumah dan menghilangkan MSG dalam daftar bumbu masakan serta menyediakan air minum yang sehat yang tidak mengandung banyak logam berat. Aku pun memilih salah satu merk air kemasan dalam botol ukuran 1500 ml. Aku tidak memilih air isi ulang galon dengan merk yang sama karena rawan dipalsukan, dan tidak memilih yang dikemas dalam gelas plastik karena ditakutkan mengandung mikroplastik. Nampaknya mudah ya tinggal mengganti makanan yang dilarang dengan jenis yang lain? Wah tidak semudah itu. Wildan sering menangis setiap kali makanan yang dimauinya tidak dituruti. Mau dijelaskan juga percuma dia tidak akan mengerti penjelasanku. Kadang aku meneteskan air mata tiap kali melihatnya harus menelan kekecewaan karena tidak bisa makan sebebas teman-temannya. Tapi itulah perjuangan, semua butuh usaha keras dan pengorbanan, termasuk korban perasaan.

Anjuran dokter selanjutnya yang aku lakukan adalah mengganti alat-alat masak yang terbuat dari aluminium ke stainlees. Hal ini sangat penting dilakukan untuk menghindari masuknya logam berat ke dalam tubuh. Alat masak aluminium saat dipanaskan dalam suhu tertentu akan melepaskan logamnya sehingga dapat menambah jumlah logam berat dalam tubuh ketika kita mengkonsumsi masakan yang menggunakan alat masak dari bahan aluminium. Tentu ini juga butuh biaya. Apalagi tabungan kami untuk persiapan melahirkan habis untuk biaya ke rumah sakit dan dokter. Akhirnya kulakukan secara bertahap.

Ada satu hal esensial dalam menangani anak autis yaitu terapi perilaku (behaviour therapy). Alhamdulillah sebulan setelah aku membatalkan bergabung ke sebuah tempat terapi yang pernah aku kunjungi, ada kabar gembira dari kakak perempuanku. Dia memberi tahu ada terapis dari Surabaya yang pindah ke Pare karena melahirkan. Aku diberi nomor telponnya dan diminta segera menghubungi. Benar saja, sang terapis segera menyatakan kesediaannya setelah aku hubungi. Ah senangnya hatiku. Aku tidak peduli berapa biaya yang harus aku keluarkan untuk terapi yang cukup mahal pada waktu itu. Hal ini disebabkan karena rumah beliau lumayan jauh dan rute perjalanannya harus memutar akibat belum ada akses jembatan sungai Brantas yang dapat menghubungkan Nganjuk dengan Kediri.

Wildan Fuadi

Banyak berdoa membuatku lebih tenang dan lebih optimis dalam menghadapi tantangan yang kami temui selama menangani Wildan.

Satu usaha lain yang aku lakukan adalah banyak berdoa. Setiap malam berusaha mendekatkan diri kepada Yang Maha Hidup, memohon diberi rizki, diberi kemudahan dalam menangani Wildan, dan tentu juga memohon agar Wildan kelak menjadi anak yang normal seperti teman-teman seusianya dan menjadi anak yang sholih. Tiap kali ada kyai yang memberikan doa untuk aku amalkan pasti aku lakukan. Banyak berdoa membuatku lebih tenang dan lebih optimis dalam menghadapi tantangan yang kami temui selama menangani Wildan.

Ternyata menangani anak autis seperti Wildan cukup menguras energi, biaya, waktu, dan perasaan atau mental. Kalau hanya soal biaya kita bisa meminta pada Yang Maha Kuasa, Yang Maha Kaya yaitu Allah SWT, menurutku. Tekanan mental dari keluarga dan lingkungan sangatlah berat. Alih-alih memberi semangat, banyak di antara mereka justru membuat down. Segala yang kulakukan dianggap hal yang aneh, tidak masuk akal, dan buang-buang uang. “Anak sehat kok dibawa ke dokter, buang-buang uang”. “Anak kecil lama-lama juga bisa bicara sendiri, gak perlu bingung”. Bahkan ada yang secara terang terangan mengatakan, ”Anakmu itu bukan autis. Itu karena kamu kurang memperhatikan dan tidak pernah mengajaknya berkomunikasi sehingga tidak bisa bicara. Kalau kamu tidak berhenti maka ekonomimu tidak akan berkembang karena uangmu habis untuk ke dokter, beli obat dan terapi”. Tidak heran jika aku punya banyak julukan: Ibu aneh, ibu yang tidak bisa mendidik anak (karena anakku hiperaktif dan seperti anak yang tidak punya sopan santun), istri yang tidak bisa diajak maju, orang gila, dan lain-lain. Hanya satu yang membuatku bertahan, yaitu sebuah pemikiran yang realistis: mereka tahu apa? Bukankah mereka tidak pernah kuliah di kedokteran apalagi memahami tentang psikologi anak? Maka yang harus aku ikuti adalah anjuran dokter yang mempunyai keilmuan tentang autis.

Rasa sungkan menolak makanan menjadi tantangan tersendiri.

Menjalankan program diet dan menghindari terpaparnya logam berat sebagai bagian penting dari menangani anak autis pun tak kalah susahnya. Lihatlah di toko-toko yang menjual makanan kecil. Bisa dibilang 99,9 % terbuat dari tepung terigu dan mengandung susu. Makanan olahan yang ada pun umumnya dimasak menggunakan alat masak yang terbuat dari aluminium. Itu artinya bila kita keluar rumah harus membawa makanan sendiri. Bagaiman kalau pas hari raya idul fitri? Nah itu dia. Rasa sungkan menolak makanan menjadi tantangan tersendiri. Namun aku tetap kukuh menjalankannya meski sering kali dikomentari “Ah ora po-po, anggep ae dadi tombo” (Ah, tidak apa-apa, anggap saja sebagai obat). Padahal sedikit atau banyak makanan tersebut mempunyai pengaruh yang sama. Bahkan kadang aku berselisih dengan ibu mertua karena diet ketat yang aku terapkan pada Wildan. Aku bisa mengerti, sebagai seorang nenek tentu beliau ingin menyenangkan cucunya dengan memberi makanan. Untungnya tetangga sekitar mengerti dengan program diet Wildan sehingga mereka tidak pernah memberi makanan kecuali buah.

Bersambung>>>

Editor : Faatihatul Ghaybiyyah