Lorong Gelap Itu Bernama Autis (Bagian 1)

0
240

Semula, aku tak terlalu pandai memahami kode dari Tuhan perihal keistimewaan anakku. Sedikit demi sedikit aku berusaha menerjemahkan kode itu dengan lebih banyak belajar. Belajar bersabar, belajar ikhtiar, serta belajar mencintai putraku lebih dan lebih banyak lagi. Dalam setiap sujudku, aku merayu Tuhan agar mengabulkan segala do’aku.

KampusDesa–Ada sebuah perumpamaan “Life is like one big crazy roller coaster, starts slowly, takes you up, then sends you down quickly only to raise you up higher”. Memang begitulah hidup, bagai sebuah roller coaster raksasa yang berawal dengan pelan, lalu mengangkat kita tinggi, kemudian meluncur ke bawah dengan cepat hanya untuk menganggkat kita lebih tinggi dari sebelumnya.

Setelah mencapai usia satu tahun mulai ada hal-hal yang menurutku agak ganjil.

Kehidupanku dan suami di awal pernikahan memang penuh harapan akan masa depan yang cerah. Apalagi ketika kami dikaruniai seorang putra yang tampan di pertengan tahun 1998. Kami memberinya nama Wildan Fuadi. Dia tumbuh dengan sehat dan berkembang sesuai usianya di awal tahun kehidupannya. Namun setelah mencapai usia satu tahun mulai ada hal-hal yang menurutku agak ganjil. Wildan yang sudah bisa berdiri mulai tidak sabaran untuk belajar berjalan. Dia lebih suka merangkak karena dengan begitu dia bisa berjalan dengan cepat. Hal aneh berikutnya adalah kebiasaan dia menggigit saat merasa senang. Di usia dua tahun dia belum mau belajar berbicara, babling saja tidak mau. Selanjutnya dia tidak mau menoleh bila dipanggil, tidak ada kontak mata, suka berlari tak tentu arah, tak kenal bahaya, durasi tidur yang sangat pendek dibanding anak seusianya, suka barang-barang yang berputar dan tak mengenal rasa sakit.

Aku bisa membandingkannya dengan perkembangan keponakan-keponakanku dan anak-anak tetanggaku.

Meski aku baru pertama kali mempunyai anak tapi aku bisa merasakan ada masalah dengan tumbuh kembangan anakku. Aku bisa membandingkannya dengan perkembangan keponakan-keponakanku dan anak-anak tetanggaku. Aku mulai gelisah. Mengapa anakku begitu cuek? Mengapa dia tidak bisa bermain dengan temannya di usia yang mestinya sudah mulai bisa bersosialisasi? Tak ada orang yang sanggup menjaganya walau sebentar. Dia begitu banyak gerak dan kuat.

Ada berbagai upaya yang aku lakukan agar dia tidak banyak bergerak tanpa kendali dan mau bersosialisasi. Karena dia suka main mobil-mobilan terutama yang berjenis truk, maka aku membelikan mobil-mobilan yang ukurannya kecil sehingga tidak bisa dipasangi tali untuk ditarik sambil berjalan. Aku juga membelikan raket mainan agar dia mau bermain dengan temannya. Aku sering mengajak anak-anak tetangga yang seusia untuk bermain ke rumah. Aku belikan buku cerita bergambar dan majalah anak-anak. Aku sering membacakan cerita dan mereka biasanya mendengarkan dengan seksama dan sesekali bertanya tentang gamabar dan cerita yang aku bacakan. Tapi, Hai di mana Wildan? Oh dia jalan-jalan sendiri tak tentu arah, manjat kursi, meja, bahkan televisi pun dia panjat.

Wildan dan Kedua Adiknya (2013)

Hatiku sangat gusar karena si sulung tak jua bisa berbicara apalagi berkomunikasi. Namun orang-orang sekitar selalu bilang suatu saat dia akan bisa bicara. “Anak orang bisa ngomong pasti nanti juga bisa ngomong”, begitu selalu kata-kata mereka untuk meredam kekuatiranku. Tapi aku tidak puas. Aku mulai hunting tabloid-tabloid yang membahas tentang tumbuh kembang anak ke toko buku terdekat. Ke toko buku besar di kota macam Gramedia? Hmmm, aku tidak bisa membayangkan mengajak Wildan ke toko buku di kota. Bisa-bisa dia hilang mengikuti orang yang sedang berjalan yang tidak dikenalnya atau mungkin juga mengacak-acak buku-buku yang ada.

Mengapa anakku mempunyai ciri-ciri seperti anak autis?

Setiap kali aku membaca tabloid yang membahas tentang autis, aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Mengapa anakku mempunyai ciri-ciri seperti anak autis? Benarkah anakku autis? Di mana aku bisa berkonsultasi dengan ahlinya? Oh tenyata ke dokter Melly Budiman ya. Halloow, dokter Melly itu tinggal di Jakarta lo.

Awal 2003 Wildan terserang muntaber dan harus opname delapan hari di Rumah Sakit Bhayangkara Kediri. Saat itu aku sedang hamil anak kedua. Setiap kali dokter datang untuk mengecek penyakitnya, dia tak pernah menjawab bila ditanya Pak Dokter, padahal usianya sudah 4 tahun. Aku semakin gelisah apalagi anak yang sekamar dengannya usia satu setengah tahun sudah bisa mengungkapkan keinginannya. Tiga hari setelah pulang aku membawanya kontrol ke dokter spesialis anak yang biasa menanganinya. Aku ceritakan semua tentang Wildan yang berbeda dari anak-anak seusianya. Beliau menyarankan untuk membawanya ke seorang dokter di Surabaya. Aku disarankan untuk menelpon terlebih dahulu karena waiting list dokter tersebut bejibun. Dan benar ternyata, aku menelpon pada 15 Maret 2003 tapi diminta datang 15 April 2003.

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Meski sedang hamil besar dan ada gangguan lutut tak membuatku surut untuk datang ke Surabaya naik bis. Dilanjutkan naik angkot menuju perumahan di jalan Ketintang Selatan. Hal yang sangat menyiksa adalah banyaknya polisi tidur disepanjang jalan yang kami lalui ketika naik angkot karena aku sedang hamil besar.

Beliau mengatakan agar aku tidak kuatir, secepatnya dilakukan intervensi agar Wildan bisa berkembang dengan baik seperti anak seusianya.

Cukup lama kami menunggu antrian. Begitu banyak anak-anak yang akan dikonsultasikan ke dokter Sasanti Juniar, ada yang dari dalam kota Surabaya, Sidoarjo, Bondowoso, bahkan dari Banyuwangi. Ketika menunggu giliran, aku diberi beberapa lembar kertas untuk mengisi biodata dan menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar perkembangan Wildan sejak masih di dalam kandungan sampai usianya saat itu. Saat sesi konsultasi, Bu Dokter memeriksa hasil jawaban yang aku berikan dengan seksama, mengamati Wildan ketika diberi mainan dan segala tingkahnya. Lalu beliau memberi tahu kami bahwa ananda menderita autis. Aku melongo, tak tahu harus bertanya apa, antara shock dan begitu penuhnya otakku dengan berbagai pertanyaan yang justru malah membuat mulutku seperti terkunci. Rupanya Bu Dokter sudah biasa menghadapi reaksi orang tua saat pertama kali anaknya divonis menderita autis. Beliau mengatakan agar aku tidak kuatir, secepatnya dilakukan intervensi agar Wildan bisa berkembang dengan baik seperti anak seusianya. Beliau menjelaskan secara detail tentang terapi biomedis dan terapi perilaku, dan tak lupa memberi alamat tempat terapi terdekat dengan tempat tinggalku.

Bersambung>>>

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah