Literasi, Taufiq Ismail dan Musik Sebagai Produk Kebudayaan

0
61
Literasi musik merupakan rangkaian praktik kebudayaan. Sumber : kompasiana.com

Literasi masyarakat menunjukkan semangat berbudaya. Jika Taufiq Ismail menemukan masyarakat Indonesia nol buku, seperti apa budaya kita. Bahkan apakah juga budaya kita bisa dilihat dari pangggung musik yang mampu merangkai sebuah keunggulan ? Budaya akan berada dalam dinamika literasi, buku dan musik.

Pada setiap seksi workshop literasi yang dihadiri anak-anak muda dan remaja, saya selalu tanya: Sudah baca buku? Sudah baca novel? Sudah berapa novel yang dibaca? Apa judulnya?

Bukan hanya di acara literasi seperti workshop menulis. Bahkan di acara-acara LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) dan Jambore Pemuda yang beberapa tahun ini saya selalu dimintai jadi pemantik diskusi, juga acara Forum Anak di mana pesertanya ada anak-anak SD/MI, SLTP, dan SLTA, saya juga bertanya hal yang sama pada mereka.

Saya ingin menguji lagi apa yang pernah dilakukan Taufiq Ismail untuk mengetahui budaya baca anak SMA, terutama budaya membaca novel. Pada tahun 1996, majalah sastra “Horison” (yang sudah gulung tikar) menerbitkan penelitian tentang budaya baca. Melalui sebuah esai yang ditulis Taufiq Ismail, dipaparkan perbandingan budaya baca antara remaja di Barat dengan remaja di Indonesia.

Penelitian Taufiq Ismail berangkat dari pertanyaan berapa novel yang dibaca siswa SMU di Negara-negara luar dan bagaimana dengan Indonesia? Hasilnya adalah, ternyata pada setiap SMU di negara luar, pelajaran sastra mewajibkan siswa membaca sejumlah buku sastra, untuk selanjutnya dibicarakan dan didiskusikan di kelas dengan bimbingan guru secara intensif.

Dibandingkan dengan tradisi membaca negara-negara Barat itu, remaja Indonesia membaca “NOL BUKU.” Inilah yang disebut oleh Taufiq Ismail sebagai “kerabunan membaca dan kelumpuhan menulis”

SMU Amerika Serikat 32 judul. Kanada 13 judul. Jerman 22 judul; Swiss 15 judul; Rusia 12 judul; Perancis 20-30 judul; Belanda 20 judul. Bagaimana budaya baca novel di Indonesia? Dibandingkan dengan tradisi membaca negara-negara Barat itu, remaja Indonesia membaca “NOL BUKU.” Inilah yang disebut oleh Taufiq Ismail sebagai “kerabunan membaca dan kelumpuhan menulis.”

Dan hasil dari pertanyaan-pertanyaan saya pada para remaja itu juga sama. Ada beberapa remaja yang sudah membaca novel, ada yang satu, ada yang dua, dan ada yang beberapa. Saya mendapatkan fakta bahwa yang sudah baca beberapa novel ini ternyata berasal dari sekolah yang berpusat di kota. Di mana sekolahnya memang membangun tradisi membaca dan sekolah ini juga dekat dengan perpustakaan daerah dan satu persewaan buku yang terletak di timur Perpus daerah Trenggalek itu. Secara umum, budaya baca kita memprihatinkan.

Membandingkan negara-negara maju (Barat) dengan Indonesia harus kita lakukan pada majunya kebudayaan yang lain. Makanya, saya sering membicarakan musik dan lagu juga. Budaya baca dan budaya menonton atau mendengarkan adalah bagian dari budaya masyarakat. Saya sering menunjukkan bagaimana lagu-lagu yang tercipta dan tersebar di Indonesia, terutama masyarakat kita yang terletak di pedesaan seperti Trenggalek.

Majunya masyarakat memang berhubungan dengan produk-produk seni-budayanya. Budaya maju melahirkan tradisi mencipta yang lebih baik, sebaliknya karya cipta juga ikut membantu memajukan cara berpikir dan merasa pada masyarakatnya. Masyarakat yang decekoki dengan produksi ideologis yang memundurkan cara berpikirnya akan beda dengan masyarakat yang menyerap karya-karya yang berkualitas.

Saya sudah sering menunjukkan bagaimana acara TV yang “nyampah” dan lirik lagu yang “berkualitas rendah” mencerminkan cara berpikir dan budaya masyarakat yang rendah—masyarakat yang jauh tertinggal dari masyarakat lainnya yang maju. Produksi budaya yang membuat orang berkarakter tidak produktif, yang bahkan melenakan diri mereka sehingga kondisinya tetap mandeg atau mundur. Yang bahkan kalau dilihat dari kacamata moralis juga jauh amat tertinggal. Musik berlirik seksis dan bertema ‘cinta-cinta melulu”—begitu band Indie ERK menyebutnya. Ya, itulah salah satu ciri musik kita.

Selanjutnya adalah cara menikmati suatu karya dan produksi budaya. Tawuran, perkelahian antar kelompok perguruan ketika ada konser musik, dan efek menonton suatu produksi atau tampilan budaya, juga semakin menunjukkan budaya masyarakat yang tak beradab (terbelakang). Setiap peristiwa budaya, termasuk suatu konser musik, pasti membawa dampak emosi dan eksistensi bagi penikmatnya. Tapi emosi yang bagaimana yang didapat, yang memajukan eksistensi yang mendukung tradisi pembudayaan masyarakat—atau malah tradisi yang memundurkan kemanusiaannya.

Berikutnya adalah soal daya tarik masyarakat terhadap seni itu sendiri. Minat pada seni, misalnya. Kita jelas jauh tertinggal. Karena menikmati seni-budaya itu butuh waktu luang. Dan waktu luang itu juga muncul ketika orang masih sibuk dengan hal-hal yang lainnya. Mungkin waktu luang masyarakat kita, terutama kalangan yang sudah berusia tua, seperti ibu-ibu rumahtangga, hanya akan banyak dimanfaatkan untuk menikmati seni berupa tayangan di “prime-time” yang acaranya seperti audisi dangdut, sinetron, atau waktu siangnya gosip selebritis. Sebuah menikmati budaya secara pasif.

Bagaimana dengan langsung menonton konser musik. Tentu jarang sekali. Adanya juga hanya musik elekton, kebanyakan di acara kondangan ketika “tetabuhan” yang hanya memerlukan kemampuan bermusik minimal itu “ditanggap” oleh yang punya hajat. Orang yang terbiasa main musik dengan lagu-lagu yang rumit dan berlirik puitis tentu bisa memahami sejauh mana kerumitan elekton. Yang lagu-lagunya, sekali lagi (maaf), berisi “cinta-cinta melulu”, ratapan, pujaan terhadap kekasih, dan sebagian besar adalah reproduksi lagu-lagu lama—bahkan lagu pop dan rock juga dijadikan musik koplo.

Lalu bandingkan konser musik di masyarakat kita dengan di Barat. Pertama kita akan tahu bahwa di Barat pentas musik dihadiri oleh penonton yang jumlahnya tak akan tertandingi jika kita membandingkannya di Indonesia. Dalam sejarah, kehidupan budaya dalam bentuk musik konser jauh sekali melampaui yang ada di Indonesia.

Ditonton oleh 3,5 juta, tentu ini adalah konser musik yang tak pernah terjadi di Indonesia. Tapi itulah konser Rod Stewart pada malam tahun baru, 31 Desember 1993. Konser Monsters of Rock di Moscow 1991 jumlah penontonnya 1,6 Juta. Ini adalah konser tahunan di mana musisi dan grup rock tampil, di antaranya Guns n Roses, Bon Jovy, Metallica, AC/DC, dan lain-lain. Sudah lama musik menjadi wujud budaya yang menunjukkan bagaimana masyarakat barat memang bergerak dengan denyut budayanya yang jauh meninggalkan kita.

Di kita, pentas musik yang jamak kini adalah lagu koplo dengan penyanyi seksi dan penontonnya tak seberapa banyak. Agak banyak saja aparat kepolisian sudah “ketar-ketir” dan selalu saja ketakutan akan tawuran terjadi, hingga beberapa kali aparat kepolisian mencegah (menggagalkan) akan diadakannya pentas musik. Hanya karena tidak percaya bahwa penonton akan tertib, acara konser gagal.

Psikologi penonton konser musik di Barat dan di Indonesia amat jauh berbeda. Ini adalah suatu fakta yang penting yang membedakan antara kedua peradaban ini, peradaban maju dan peradaban yang masih “nyungsep”. Konser musik di kita adalah monoton, di mana yang nonton adalah anak-anak muda yang berdiri di depan panggung dan bergerak-gerak, yang ditakutkan akan tawuran. Dan nyatanya tawuran selalu terjadi.

Di barat sebenarnya juga ada gerak penonton di depan panggung. Gerak-geraknya, bahkan menggerakkan rambut gondrong pada konser musik metal (headbang), atau gerak dan tarian lain (pogo, moshing, dll). Atau kostum penonton yang aneh-aneh dan jauh dari kesan “menjaga aurat”—penonton laki-laki perempuan yang campur. Tapi jarang sekali tawuran terjadi. Memang pernah terjadi tawuran di beberapa konser musik, sejak pertengahan abah ke 20 hingga abad 21 sekarang. Tapi jumlahnya bisa dihitung.

Lagian, konsernya terlalu banyak, tidak monoton. Dan kalau kita ingin melihat bagaimana penonton bisa begitu mengkhidmati sebuah konser musik, di mana penonton bukanlah selalu anak-anak muda, tetapi juga banyak orang tua, sepasang suami istri yang sudah berusia. Maka nontonlah konser Adele, di Youtube. Di situ kita bisa melihat bagaimana sebuah lagu puitis berkualitas tinggi dinikmati oleh penonton konser dengan begitu berwibawanya. Khidmat dan menjiwai sekali mereka menikmati konser musik. Sebuah konser seperti itu di Barat banyak sekali.

Di kita ada juga sich. Tapi tak banyak. Lihatlah di Youtube konser musiknya “Payung Teduh”, di mana lagu-lagu puitiknya, yang jauh dari kesan lirik norak disajikan dalam alunan musik berkualitas tinggi, dan di mana penontonnya menikmati sajian dengan suasana yang membuat kita yang menonton (lewat Youtube) bisa melihat bagaimana keberadaban sebuah kebudayaan tinggi. Sayang, peristiwa budaya seperti ini tak banyak di kita.***