Lebaran Virtual: Sebuah Budaya Baru Unjung-Unjung

0
117
Gambar ilustrasi lebaran virtual

0Shares
0

Budaya unjung-unjung (silaturahmi) melalui komunikasi digital menjadi budaya baru menggantikan unjung-unjung dengan tatap muka langsung. Walaupun hanya bisa bertemu di dunia maya, insyaAllah semua ada hikmahnya. Karena tujuan semua ini adalah baik. Yakni untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19. Tidak kalah terpenting adalah, adanya pandemi jangan sampai memutus tali persaudaran dan mengurangi hangatnya silaturahmi baik dengan keluarga, saudara, kerabat, dan teman.

Kampusdesa.or.id–Jika menjelang bulan puasa Ramadhan ada tradisi megengan yang masih menjadi budaya di kalangan masyarakat Indonesia, momen akhir bulan Ramdhan juga ada yaitu “unjung-unjung”. Budaya ini sangat melekat di saat lebaran tiba. Beberapa kampung melakukan unjung-unjung ke sanak famili, tetangga, saudara, dari rumah ke rumah di saat malam lebaran, ada juga yang melakukannya selepas shalat idul fitri. Kegiatan ini pun biasanya masih akan berlangsung dalam bulan Syawal.

Namun, momen unjung-unjung tahun ini akan menjadi kenangan tersendiri. Ada kebahagian yang bercampur kesedihan menyelimuti lebaran 1441 Hijriyah. Kondisi pandemi virus corona menjadikan pemerintah memberlakukan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan melarang adanya aktivitas mudik. Meski sebagian tidak menghiraukan, tapi banyak yang memilih untuk tidak pulang. Mereka untuk melepas kangen kampung halaman cukup via virtual street view lewat google map dan melakukan lebaran via telepon atau video call.

Situasi pandemi ini memaksa kita memanfaatkan berbagai media untuk tetap bisa sambung silaturahmi ke orang tua, saudara, mertua, suami/istri, anak, rekan kerja, dan teman-teman di luar sana. “Tanpo sowan, tetep seduluran. Tanpo unjung, tetep nyambung. Tanpo salaman, tetep pangapuran

Situasi pandemi ini memaksa kita memanfaatkan berbagai media untuk tetap bisa sambung silaturahmi ke orang tua, saudara, mertua, suami/istri, anak, rekan kerja, dan teman-teman di luar sana. Sampai-sampai banyak meme dan pamflet bertebaran di media masa yang berisi kata-kata seperti ini “Tanpo sowan, tetep seduluran. Tanpo unjung, tetep nyambung. Tanpo salaman, tetep pangapuran“. Video parodi nerima tamu tidak ada orangnya, jajan lebaran masih utuh, dan lain sebagainya.

Selain mengharuskan kita tidak mudik. Momentum yang hilang saat hari raya pada tahun ini adalah acara kumpul “Bani-Banian”. Muncul istilah Bani sendiri sepertinya mengambil dari bahas Arab yang artinya keluarga. Setiap lebaran idul fitri biasanya digunakan untuk kumpul semua saudara dan kerabat di satu tempat yang sama. Pertemuan keluarga semacam ini dikemas dalm bentuk ramah tamah, makan bareng mulai dari kakek atau nenek atau buyut dan seluruh keluarga yang terkait dengan kakek atau nenek atau buyut tersebut.

Sayang sekali, tradisi unjung-unjung dan bani-banian pun semua berganti melalui media daring. Hadirnya teknologi informasi sesungguhnya cukup membantu masyarakat termasuk saya yang sedang di perantauan tidak bisa mudik lebaran tahun ini. Jadi untuk sementara ini maaf-maafannya dari tempat masing-masing, tidak perlu pulang ke rumah. Kita bisa memnnfaatkan banyak media mulai dari whatsaap, messenger, aplikasi zoom, dan lain-lain.

Maka, secara tidak langsung lebaran tahun ini berganti menjadi lebaran virtual atau riyayan online serentak di seluruh Indonesia. Budaya unjung-unjung (silaturahmi) melalui komunikasi digital menjadi budaya baru menggantikan unjung-unjung dengan tatap muka langsung. Walaupun hanya bisa bertemu di dunia maya, insyaAllah semua ada hikmahnya. Karena tujuan semua ini adalah baik. Yakni untuk memutus rantai penyebaran virus Covid-19.

Tidak kalah terpenting adalah, adanya pandemi jangan sampai memutus tali persaudaran dan mengurangi hangatnya silaturahmi baik dengan keluarga, saudara, kerabat, dan teman. Saya sendiri sejak malam lebaran idul fitri sampai hari ini masih menerima telpon dan melakukan video call bareng mulai dari teman SD sampai kuliah dan dosen-dosen di kampus serta beberapa keluarga jauh. Semoga pandemi ini lekas usai dan kita semua selalu dapat meningkatkan rasa sabar dan syukur dalam menghadapi ujian ini. []