Lebaran Tidak Harus Beli Pakaian Baru

0
341
Sumber gambar: Tokopedia.com

0Shares
0

Idul Fitri tidak harus selalu menggunakan pakaian baru. Akan tetapi disunnahkan untuk memilih pakaian terbaik. Artinya, kita mengenakan baju yang terbaik di antara semua baju yang kita miliki. Jika tidak ada yang baru, baju lama juga tidak masalah. Yang terpenting baju tersebut masih layak pakai, bersih dan bagus boleh dipakai saat momen lebaran. Tidak perlu malu dan gengsi apalagi menganggap kalau gak baru gak afdhol. Seolah-olah menjadi sebuah kewajiban.

Kampusdesa.or.id–Lebaran Idul Fitri tinggal empat hari lagi. Momen ini pun selain identik dengan ketupat, opor, dan makanan khas lainnya, tradisi hari lebaran identik dengan segala sesuatu yang baru. Semisal perabot rumah tangga baru, cat rumah baru, dan pakaian baru. Yang terakhir ini sepertinya sudah menjadi hal “wajib” di kalangan masyarakat Indonesia. Saya belum mengecek apakah di negara yang mayoritas muslim memiliki budaya yang sama, bahwa hari raya Idul Fitri. Nah, kira-kira perlukah ada tradisi baju baru saat lebaran? Berikut ulasannya.

Rasanya memang tidak lengkap jika hari lebaran kita tidak membeli paling tidak satu buah baju baru. Hal ini membuat pedagang pakaian memiliki omset yang melonjak setiap kali menjelang Idul Fitri. Umumnya, di Indonesia saat menjelang lebaran atau Hari Raya Idul Fitri pasar dan mall semakain ramai karena banyak diskonan. Orang-orang pada pergi untuk berbelanja baju baru untuk persiapan Hari Raya. Setelah satu bulan lamanya berpuasa di bulan Ramadan, mungkin wajar saja apabila semua orang ingin tampil beda dan rapi pada momen istimewa saat lebaran. Apalagi bagi yang baru saja dapat Tunjangan Hari Raya (THR), otomatis keinginan belanja semakin menggebu.

Belanja saat lebaran tidak perlu berlebihan hingga menyebabkan pemborosan uang. Boros merupakan perilaku yang tidak baik namun sulit dihindari.

 

Belanja saat lebaran tidak perlu berlebihan hingga menyebabkan pemborosan uang. Boros merupakan perilaku yang tidak baik namun sulit dihindari. Dalam Islam boros sendiri sudah dilarang dalam al-Qur’an Surah Al-Isra’ ayat 26-27 yang terjemahannya berbunyi “dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat kufur kepada Tuhannya.”

Perlu diingat juga, bahwa kita tidak boleh mengabaikan kriteria pakaian syar’i yang telah ditetapkan dalam al-Quran dan as-Sunnah sehingga mengakibatkan “aurat” kita tidak terjaga atau berpakaian terlalu ketat. Jangan juga berhias dan berlebihan dalam berpakaian atau berdandan terlalu mencolok yang akibatnya menarik perhatian banyak orang (baca: tabarruj). Sehingga dosa-dosa yang telah diampuni Allah selama beribadah di bulan Ramadhan kembali masuk dalam diri kita. Yang “baru” seharusnya hati kita karena telah suci bersih setelah penggemblengan hawa nafsu selama satu bulan penuh, bukan malah lembaran baru ini kembali dikotori dengan nafsu-nafsu duniawi.

Hadirnya Hari Raya Idul Fitri semestinya ditandai dengan ketaatan yang bertambah, ketekunan ibadah yang merangkak naik, kemaksiatan yang menurun drastis. Hakikat lebaran tentu bukanlah tentang pakaian atau baju baru. Melainkan lebaran sesungguhnya tentang iman dan taqwa kita yang seharusnya semakin bertambah. Seperti halnya nasehat dalam sebuah kata mutiara Arab yang sangat indah: Laisa al-‘id li man labisa al-jadid // wa lakinna al-‘id liman tha’atuhu tazid (hari raya bukanlah bagi orang yang mengenakan pakaian baru // melainkan, hari raya itu bagi orang yang ketaatannya bertambah).

Tidak Harus Beli Pakaian Baru

Tradisi membeli baju baru saat lebaran sudah ada sejak dulu. Dimulai sekitar tahun 1596 seperti dijelaskan dalam sebuah buku Sejarah Nasional Indonesia karya Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto bahwa mayoritas penduduk di bawah kerajaan Banten sibuk mempersiapkan baju baru jelang hari raya. Hal ini dikarenakan pada hari tersebut kita akan bertemu dengan banyak kerabat dan keluarga.

Saat lebaran kita bisa memakai baju yang masih bagus meskipun baju tersebut sudah kita beli setahun atau dua tahun yang lalu.  Pada hakikatnya, menyambut Hari Raya Idul Fitri kita dianjurkan untuk memakai pakaian terbaik, bukan pakaian terbaru. Baik tidak harus baru. Karena yang baru pun tidak mesti baik. Kedua frasa ini harus dibedakan maknanya.

 

Tapi sebenarnya saat lebaran kita bisa memakai baju yang masih bagus meskipun baju tersebut sudah kita beli setahun atau dua tahun yang lalu.  Pada hakikatnya, menyambut Hari Raya Idul Fitri kita dianjurkan untuk memakai pakaian terbaik, bukan pakaian terbaru. Baik tidak harus baru. Karena yang baru pun tidak mesti baik. Kedua frasa ini harus dibedakan maknanya.

Adapun hukum dan dalil yang dipakai untuk mendukung fenomena ini seperti dilansir oleh Islampos.com yakni Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah berkata, “Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari Nafi bahwa Ibnu Umar pada dua hari raya mengenakan bajunya yang paling bagus.” Di samping itu pendapat lain dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin Rahimahullah, ia berkata, “Termasuk amalan sunah pada hari raya adalah berhias, baik bagi orang yang i’tikaf maupun yang tidak.”

Baca juga: Dramaturgi dalam Fenomena Peringatan Idul Fitri

Namun, dari pernyataan di atas, menggambarkan pada Idul Fitri tidak harus selalu menggunakan pakaian baru. Akan tetapi disunnahkan untuk memilih pakaian terbaik. Artinya, kita mengenakan baju yang terbaik di antara semua baju yang kita miliki. Jadi tidak ada salahnya memilih untuk memakai pakaian lama tapi masih bagus untuk dikenakan dan mengalihkan biaya untuk membeli baju baru menjadi membeli makanan, mendekorasi rumah, atau bahkan menyimpannya sebagai tabungan.

Bagi mereka jika tidak ada yang baru, baju lama juga tidak masalah. Yang terpenting baju tersebut masih layak pakai, bersih dan bagus boleh dipakai saat momen lebaran. Tidak perlu malu dan gengsi apalagi menganggap kalau gak baru gak afdhol. Seolah-olah menjadi sebuah kewajiban. Terlebih bagi yang tidak mampu membeli malah jadi memaksakan diri. Kecuali, syukur-syukur ada yang membelikan.

Seingat saya pun beberapa kali pakai sandal, kopyah dan sarung maupun baju takwa tahun sebelumnya. Siapa yang mau tanya dan komentar? Kalaupun ada perasaan untuk dinilai orang, itu hanya nafsu sosialita saja. Lantas apa niat kita beribadah, bukahkah penilaian yang pantas itu hanya dari Allah SWT semata tidak dari manusia. Jadi mari tata niat kita baik-baik. Jangan sampai momen Idul Fitri malah menjadi ajang pamer (riya’) antar sesama. Na’udzubillah.

Untuk mengakhiri ulasan ini, saya ingin mengajak menyanyikan lagu “Baju Baru” yang dinyanyikan oleh mbak Dhea Ananda. Ada yang masih ingat? Liriknya begini “Baju baru Alhamdulillah. Tuk dipakai di hari raya. Tak punya pun tak apa-apa. Masih ada baju yang lama.” Lirik lainnya “Hari raya Idul Fitri. Bukan untuk berpesta-pesta. Yang penting maafnya lahir batinnya.”

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H. Minal ‘aidzin wal faizin, mohon maaf lahir & batin.