Ladang Amal Di Akhirat, Sebuah Keistimewaan Seorang Guru

0
278
Dok. Kampus Desa Indonesia

Diakui atau tidak, sejak tahun 1980, terhitung hampir tiga dekade, profesi guru dicap sebagai profesi kampungan. Waktu itu, SMA dikategorikan sebagai sekolah elit yang dapat menghasilkan orang-orang elit. SMA lebih favorit dibandingkan dengan SPG (Sekolah Pendidikan Guru). Bagaimana guru masa kini menggeluti profesi dan kreasinya ? Apakah profesi guru masih seksi ? ___________________

BANYAK orang yang menyebutkan bahwa orang yang hebat dapat menghasilkan banyak karya yang bermutu, demikian juga orang yang hebat dicetak oleh guru yang hebat pula. Maka tidak heran jika cendekia-cendekia yang luar biasa juga ditempa oleh seorang guru yang luar biasa pula. Bukan hanya luar biasa, lebih tepatnya adalah nilai sebuah keberkahan yang menjadikan seorang guru mempunyai ladang amal di akhirat.

Adanya keragaman budaya dan tingginya peradaban manusia tidak terlepas dari bagaimana seorang guru memberikan motivasi dan memfasilitasi siswa untuk menggelorakan kreasinya yang didasari oleh minat dan bakat yang dimiliki. Secara kodrati manusia telah dilengkapi oleh Allah SWT dengan daya kreatif. Nah, di tangan gurulah kreativitas itu akan tumbuh dan berkembang menjadi sebuah sayap-sayap yang mampu melambungkan mimpi-mimpi sang murid ke angkasa raya.

Diakui atau tidak, sejak tahun 1980, terhitung hampir tiga dekade, profesi guru dicap sebagai profesi kampungan. Terbukti dengan banyaknya siswa lulusan SLTP tidak siap atau enggan untuk melanjutkan ke SPG (Sekolah Pendidikan Guru) kala itu. Mereka lebih memilih masuk SMA. SMA dikategorikan sebagai sekolah elit yang dapat menghasilkan orang-orang elit. SMA lebih favorit dibandingkan dengan SPG. Ketika siswa ditanya oleh guru tentang cita-cita, maka siswa pun akan menjawabnya, jadi presiden, atau paling tidak jadi insinyur atau dokter. Sangat jarang sekali ditemukan siswa yang menjawabnya menjadi guru. Ada pula yang menjawab secara umum, mau jadi orang yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama.

Namun sebaliknya, pada tahuan 2000-an, sekolah pendidikan guru tidak setara lagi dengan SMA, seseorang yang akan mencalonkan diri sebagai guru hendaknya lulusan diploma dua (D2) pendidikan guru. Gayung bersambut, lembaga pendidikan tinggi baik negeri maupun swasta bertumbuh bagai jamur dalam mengelola pendidikan guru setingkat diploma dua. Pertumbuhan ini seiring dengan tumbuhnya lembaga pendidikan kesehatan yang mengelola jurusan kebidanan dan keperawatan. Kedua lembaga ini menjadi ‘dagangan laris’ bagi siapa pun dan di mana pun.

Output yang lebih menjanjikan pada lowongan kerja membuat lembaga tersebut berkembang dengan pesat. Peminatanya pun tidak kalah banyak. Untuk dunia pendidikan sendiri dimulai dari tingkat PAUD hingga tingkat SLTA. Namun belakangan seiring dengan banyaknya pencari kerja dari lulusan kependidikan yang hampir semuanya berkeinginan untuk menjadi seorang PNS guru atau PNS tenaga kependidikan, maka seolah-olah pencari kerja menumpuk dengan menjadi tenaga honorer di setiap jenjang pendidikan. Pada periode berikutnya, mereka menuntut agar secepatnya diangkat sebagai seorang PNS semisal GTT kategori 2. Ribuan GTT K2 di Indonesia sudah mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan per-Januari 2005 atau 13 tahun di tahun 2018 ini namun belum jelas nasibnya.

Hal demikian membuat banyak orang tua menginginkan putrinya mendapatkan jodoh seorang guru. Sungguh seorang guru kini menjadi trend dan keren bagi banyak kalangan masyarakat kita.

Terlebih sejak diberlakukannya UU tentang guru dan dosen No.14/ 2005, maka dunia kependidikan menjadi lebih diminati. Bahkan ada sebuah penelitian tentang “Dampak Tunjangan Profesi Guru terhadap Tingginya Angka Perceraian Seorang PNS Guru.” Hal demikian membuat banyak orang tua menginginkan putrinya mendapatkan jodoh seorang guru. Sungguh seorang guru kini menjadi trend dan keren bagi banyak kalangan masyarakat kita.

Demikian juga sejak diberlakukannya implementasi kurikulum 2013 yang sekaligus secara finansial dapat mengangkat perolehan tambahan mata pencaharian guru dari mengikuti diklat atau menjadi seorang narasumber diklat, baik tingkat kabupaten hingga tingkat pusat. Pendidikan dan pelatihan juga menjadi bagian penting dalam pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi guru di samping kegiatan lainnya.

Guru yang memiliki kompetensi lebih dibandingkan dengan guru lainnya bisa meng-upgrade kompetensinya menjadi sumber finansial.

Guru yang memiliki kompetensi lebih dibandingkan dengan guru lainnya bisa meng-upgrade kompetensinya menjadi sumber finansial. Ada diantara mereka yang bergabung dalam lembaga pendidikan dan pelatihan sebagai fasilitator, sebagai narasumber atau bahkan sebagai motivator. Dari tugas tambahan tersebut, selain mendapatkan dana finansial diklat, mereka juga dapat memperoleh banyak pengalaman sekaligus rekreatif yang bisa me-refresh kembali ide-ide luar biasa mereka.

Selain itu, ada pula guru yang menggiatkan diri bahkan menjadi seorang penulis. Walaupun kompetensi ini tidak sepenuhnya dimiliki oleh semua guru, namun sejatinya belajar menulis dapat dimulai ketika seorang guru bertutur di depan kelas. Nah, apabila seorang guru mampu menjadikan dirinya kreatif dan profesional dalam menulis tentu akan dapat mendulang dana finansial/ royalti dari hasil kreativitas menulisnya tersebut. Kebermanfaatan bisa dalam berbagai cara. Baik dikirim maupun dimuat di media cetak, atau bahkan dicetak menjadi sebuah buku yang bermanfaat untuk para pembacanya. Dengan bakat kreatif menulis, tentunya seorang guru dapat menularkan bakatnya kepada siswa. Artinya seorang guru dapat menciptakan iklim menulis yang menjadi bagian kegiatan literasi yang dapat dilakukan secara efektif.

Dengan bakat kreatif menulis, tentunya seorang guru dapat menularkan bakatnya kepada siswa. Artinya seorang guru dapat menciptakan iklim menulis yang menjadi bagian kegiatan literasi yang dapat dilakukan secara efektif.

Hakikatnya, seorang guru mempunyai ladang amal yang begitu besar di akhirat kelak.  Selain menyebarkan ajaran kebaikan yang dapat dipetik hasilnya, tentunya seorang guru juga memberikan nilai keselamatan dalam kehidupan yang kekal di akhirat, sebagaimana hadits Rasulullah Muhammad saw., bahwa di antara amalan manusia yang tidak akan pernah putus di dunia hingga di akhirat kelak adalah berasal dari ilmu yang ditransformasikan kepada orang lain dan memberikan manfaat yang besar, baik kepada dirinya ataupun orang lain. Ilmu yang demikian dikenal dengan ilmu yang berkah. Artinya ilmu yang selalu bertambah dan berkembang sekaligus bermanfaat ila yaumil akhirah. Dengan demikian “amalan” itu tentu hanya dimiliki oleh seorang guru atau ustadz. Jadi jelaslah, selain seorang guru mendapatkan pahala derajat yang berlimpah ruah, mereka juga mendapatkan dana finansial yang keren dari profesi yang dahsyat yaitu sebagai seorang guru (Editor : Faatihatul Ghaybiyyah/Ifa).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here