Laboratorium Sains Diubah Menjadi Sarana Bermain Anak-anak Desa

0
124
Belajar sain. Membuat lampu damar dari bahan air, minyak kelapa dan api

KampusDesa, Malang–Anak-anak asik meskipun asing. Mereka disuguhi miniatur laboratorium sains di Kelurahan Cemorokandang. Mereka dikenalkan bahwa sains itu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Api, air dan minyak tanah dapat disatukan menjadi wujud baru yang bisa digunakan untuk kehidupan. Semuanya didekatkan bukan dengan abstrak, tetapi dapat disentuh dan dibuat secara akrab dengan tangan-tangan mereka. Sains lebih praktis. Anak-anak pun dapat mengenali produks sain menjadi wahana bermain sekaligus menyuguhkan inspirasi bagi mereka agar memiliki memori mengenai produk-produk sains terapan yang berguna di suatu waktu untuk masa depan hidup mereka.

Kampus Desa, bersama relawan dari sejumlah mahasiswa di Malang, pada Minggu 21 Oktober 2018, berkolaborasi dengan Markas Dolanan di Kelurahan Cemorokandang, berbagi kegembiraan bersama anak-anak usia Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, berkumpul bermain dan menyaksikan demonstrasi sains terapan. Menurut Iin Wahyuni, Markas Dolanan memang disuguhkan untuk kegiatan bermain di luar sekolah, bagi anak-anak di sekitar Cemorokandang.

Nah, kegiatan bermain akan dikelola dengan jenis-jenis permainan yang terhubung dengan sain terapan sehingga melalui pendekatan bermain ini mereka terekam peraga-peraga sains yang menyemangatinya mencintai sain. Banyak dari kita tidak menyukai sain karena tuntutan menguasai rumus dan logika sistemik menjadikan anak-anak takut dengan sains. Melalui bermain sains, kampus desa ingin menyuguhkan sain dengan cara menyenangkan sehingga mereka bisa terinspirasi mengakrabi sains dan memantik menyukai belajar sains secara praktis.

Nuril Qomariyah, selaku pendamping 15 relawan yang turun sangat terinspirasi kegiatan tersebut sehingga literasi sains tidak didekati dengan pemikiran dan dominasi kemampuan bernalar, tetapi mendorong anak menyukai sains perlu didekati dengan praktik-praktik bermain. Dengan cara ini anak lebih akrab dengan sains, bukan sebuah produks abstrak yang hanya mampu menghafal rumus tetapi tidak pernah tahu kenyataannya di lapangan. Pendekatan Desa Belajar Sains dari kampusdesa mendorong menjembatani sekolah yang miskin praktik sains dengan bermain yang kaya sains.

Di tahap pertama ini, belajar sains dengan demo praktis membuat lampu damar dari bahan yang tidak asing dengan kehidupan sehari-hari, seperti menggunakan minya kelapa, air, sumbu api dan perangkat pendukung yang mudah didapatkan di sekitar tempat tinggal. Seorang pemilik Markas Dolanan, Abdul Ghofar Ansori, kemudian mendemonstrasikan dengan mengajak anak-anak tersebut menjadi partisipan untuk menyiapkan lampu damar dari bahan yang sudah tersedia. Setelah dipandu demonya, terbentuklah lampu damar dari bahan tersebut. Kemudian anak-anak tersebut riuh setelah tahu lampunya bisa hidup meski bahan bakarnya dari dari minyak kelapa.

Abdul Ghofar Ansori mengatakan, bermain dan mendemonstrasikan sains lebih menarik jika dengan mengambil peraga sains yang jarang ditemukan di anak-anak tetapi bahannya tersedia. Cara ini akan memantik daya tarik karena asing dan baru. Berbeda dengan menanam sayur atau yang sudah umum terjadi, karena mereka sudah sering tahu, maka kuriositasnya (rasa ingin tahunya) rendah, tetapi ketika kita bisa menyuguhkan demonstrasi yang asing, maka akan meningkatkan rasa ingin tahu dan tertarik bermain.

Kegiatan bermain sains, diamini sebagai ide permulaan untuk mengembangkan ikon desa wisata pendidikan keluarga. Mengapa disajikan tempatnya di Markas Dolanan ? Bermain sains menjadi salah satu menu bermain sehingga anak-anak bisa bermain secara menyenangkan tetapi mereka dikondisikan mencintai sains. Sains disajikan dengan mengasikkan, bukan dengan berbagai sajian teori-teori yang dihafal atau dites seperti di sekolah. Selain itu, anak disuguhkan sebuah waktu bermain yang bisa menyeimbangkan penggunaan gadget. Begitu tegas Iin Wahyuni, penggagas Markas Donalan.

Nah, saat itu, demonstrasi praktikum sainsnya adalah membuat lampu damar sebagai pengganti lilin di saat listrik mati. Bahannya bukan lilin tetapi dari minyak goreng, air dan sumbu yang dirancang sedemikian rupa agar bisa terapung. Permainan yang menarik, anak-anak disuguhkan jika air dan minyak tidak bisa menyatu karena massa minyak lebih ringan dari air. Di situ terlihat warna kuning minyak ada di atas air. Lalu sumbu yang dirancang bersinergi dengan alat apung tidak tenggelam. Lalu sumbu itu disulut dengan korek api. Bullll menyala. Lalu disambung dengan tepuk tangan dan menyanyikan selamat ulang tahun, meskipun tidak ada yang berulang tahun. Heee….

Selain itu, anak-anak juga dilatih public speaking karena latar belakang relawan tidak hanya dari sains eksakta, tetapi ada yang calon pendidik, ekonomi dan sebagainya. Oleh karena itu, untuk melatih kepercayaan diri, anak-anak dilatih tipis-tipis public speaking secara berkelompok dengan didampingi Relawan Desa Belajar dari mahasiswa. Nampaknya, penggabungan latihan public speaking dalam belajar sains melatih anak-anak percaya diri. Ini peluang yang menjadi bahan untuk kegiatan berikutnya, yakni melibatkan praktik public speaking untuk menambah serunya bermain dan menumbuhkan kepercayaan diri.

Melalui Desa Belajar Sains, kolaborasi antara Kampus Desa, Markas Donalan dan Relawan Mahasiswa, seperti memindah praktikkum berseragam dan formal di sebuah laboratorium sains menjadi sarana bermain di ruang terbuka anak-anak. Nuril menyebutnya sebagai praktikum dengan cara bermain.

Kegiatan ini menginspirasi para relawan, pemilik markas dolanan dan kampus desa mengenai penyelenggaraan praktikum sains dengan cara bermain. Banyak pelajaran yang diambil, yakni perlu menambah peraga lebih banyak. Pengalaman pertama bagi semuanya merupakan pengalaman berharga, bagaimana sains dikembangkan sebagai bagian dari dunia bermain. Masih butuh banyak peraga dan ketrampilan fasilitasi dalam mengelola permainan bernuansa praktikum sains yang sederhana-sederhana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here