Kurikulum Pendidikan, Kemerdekaan Guru dan Anak Menjadi Utama

0
402

Asik juga, njagong membincang soal pendidikan bersama orang-orang pemerhati pendidikan yang anti mainstrem.

Dalam kesempatan Jagongan Para Pakar Part II kemarin (08/10/2017), yang diadakan di Sekolah Garasi, Turen, Dr. Anselmus JE Toenlioe, M.Pd begitu menggelora menyampaikan kegundahanya, terutama melihat kondisi pendidikan saat ini, lebih spesifiknya tentang kurikulum pendidikan di Indonesia.

“Ayo kurikulum apalagi, KTSP? Apalagi K-13, kurikulum yang cacat faktual, cacat teori, cacat filosofis itu mau diandalkan. Seharusnya bukan kurikulumnya yang diganti, namun kapasitas pelaku pendidikan, terutama guru itu yang perlu ditingkatkan kapasitasnya, termasuk pemangku kebijakan itu juga!” ungkap Toenlieo orang kelahiran Timor beragama kristiani ini.

Sementara itu, founder Sekolah Garasi, Kentar Budhojo juga turut geram melihat situasi pendidikan, lebih khusus soal implementasi dari kurikulum di Indoensia.

“Kurikulum kita ini, masih saja menganggap kapasitas kemampuan anak didik kita sama, wong kemampuan dan kapasitas setiap anak itu kan berbeda. Makanya Sekolah Garasi ini saya terapkan tanpa memakai kurikulum pendidikan di Indonesia, seperti kurikulum yang dipakai di sekolah-sekolah formal pada umumnya. Ya belajar, ya ngaji, ya implementasi, itu prinsip di Sekolah kami,” begitu tandas Kentar pensiunan dari dosen Universitas Negeri Malang ini.

Memang ya, kalau dirasakan penerapan kurikulum di negara kita, seakan pendidikan menjadi tempat berlaga. Bersaing siapa yang pintar, dia yang lancar. Sedang yang gak pintar, dipaksa sedemikian rupa mengikuti intervensi kurikulum. Jika begitu, sama halnya mematikan karakter serta potensi alami yang dimiliki setiap anak didik.

Bahkan sampai Alfin Mustikawan, salah seorang inisiator Kampus Desa juga menampakkan kegeramannya menanggapi hal tersebut.

“Terlalu banyak sistem, juga panjang prosesnya, sedangkan implementasinya di lapangan minim. Pembelajaran mestinya diberikan sesuai dengan kapasitas masing-masing anak didik, dan tidak melulu konsen di dalam kelas. Makanya, mereka para pemangku kebijakan, perlu belajar lagi tentang kisah perjuangan para wali kita dulu, bagaimana setiap perjalanan ‘wali songo’ telah memberikan kita sebuah landscape pengetahuan yang utuh,” tutur Alfin kandidat doktor ahli evaluasi pendidikan ini.

Jika sudah begitu, sepertinya memang sudah waktunya ada revolusi pendidikan, serta rekronstruksi sistem pendidikan [mha].

Kantor Batu Cycling
09 Oktober 2017

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here