Korelasi Problema Masyarakat Non Produktif dalam Bidang Pendidikan dengan Kampus Desa

Fenia Aurully Aisyah, mahasiswi semester 2, Fakultas Hukum, Universitas Widyagama Malang. Asal dari Kabupaten Nganjuk. Peserta Magang 2019.

0
196

Masyarakat non produktif seringkali menjadi salah satu problema yang tidak bisa dipungkiri. Minimnya pendidikan menjadi salah satu faktor penyebab kurangnya pengembangan kompetensi yang dimiliki oleh setiap orang. Di samping itu, kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan menjadi salah satu penyebab lambannya kualitas hidup manusia.

KampusDesa–Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwasanya Negara Indonesia adalah negara berkembang yang apabila dilihat dari segi pembangunannya kurang merata. Hal tersebut berakibat pada daerah-daerah tertentu yang tidak terealisasi baik dari segi pendidikan maupun sarana prasarana. Sedangkan dalam konstitusi sendiri tepatnya pada Pasal 28 (C) Ayat 1 menyebutkan bahwa setiap orang berhak mengembangkan dan melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya, dan demi kesejahteraan manusia. Dari sini kita dapat menyimpulkan faktor yang paling mendominasi ialah rendahnya kesadaran masyarakat dan kurangnya perhatian dari pemerintah itu sendiri.

Para pemuda di desa tersebut kebanyakan seorang pengangguran karena latar belakang yang hanya lulusan Sekolah Dasar dan tingkat kesulitan mencari lapangan pekerjaan bagi mereka.

Di sisi lain berdasarkan kebijakan pada tahun 2015 terkait dengan wajib pendidikan 12 tahun sudah memberikan peluang besar bagi masyarakat yang istilahnya non produktif supaya mampu mengenyam pendidikan. Namun di sisi lain tidak dapat dipungkiri adanya keterbatasan infrastruktur menghambat berjalanya kebijakan tersebut. Misalnya yang terjadi di Desa Klodan, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk. Di desa tersebut terdapat 6 Sekolah Dasar yang sebagian besar non aktif. Kenapa saya mengatakan non aktif, bagaimana tidak? Rata-rata setiap SD mempunyai murid sekitar 100 lebih dengan tenaga pengajar 3 orang. Apabila kelas 1, 2 dan 3 sedang melangsungkan KBM maka secara otomatis kelas 4, 5 dan 6 tidak terkondisikan. Sehingga kegiatan belajar mengajar kurang maksimal. Selain itu para pemuda di desa tersebut kebanyakan seorang pengangguran karena latar belakang yang hanya lulusan Sekolah Dasar dan tingkat kesulitan mencari lapangan pekerjaan bagi mereka.

Kondisi Indonesia saat ini secara kualitas dapat dikatakan sangat miris baik dari segi pendidikan, sosial maupun ekonomi.

Nah di sini kita sebagai pemuda penerus bangsa yang baik sudah semestinya merubah kondisi dan mindset masyarakat desa yang istilahnya masih kategori tertinggal. Apalagi dengan adanya program sosial “Kampus Desa” ini memberikan peluang yang sangat besar dan luar biasa untuk terjun ke masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung. Mengingat bahwa kondisi Indonesia saat ini secara kualitas dapat dikatakan sangat miris baik dari segi pendidikan, sosial maupun ekonomi. Maka dari itu sebagai bentuk kontribusi, perlu adanya sumbangsih yang besar untuk mengatasi problematika tersebut. Entah dalam bentuk finansial berupa pembagian buku bagi anak-anak secara gratis maupun dari segi jasa.

Diharapkan dengan adanya Kampus desa ini prosentase perolehan pendidikan semakin meningkat dan memperkecil angka buta huruf di kemudian hari.

Tidak berhenti di situ saja, didukung dengan adanya pihak-pihak dari Kampus Desa yang notabene mayoritas masih mempunyai status mahasiswa menjadi suatu keunggulan tersendiri untuk meminimalisir problematika yang terjadi di dalam masyarakat non produktif terutama dalam hal pendidikan. Sehingga secara tidak langsung peran mahasiswa dapat diaplikasikan ketika menangani masalah seperti ini. Diharapkan dengan adanya Kampus desa ini prosentase perolehan pendidikan semakin meningkat dan memperkecil angka buta huruf di kemudian hari. Seperti halnya sebuah lentera semangat yang dikutip dari Metropol pada 06 September 2015 dengan judul Indonesia Pintar: wajib belajar 12 tahun gratis tertera bahwa “Kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari bagaimana penyelenggaraan dan pelayanan pendidikan terhadap rakyatnya”.

Editor: Faatihatul Ghaybiyyah