Kopi dan Anak TK di Taman Singah Merjosari

0
48

M. Lutfi Hamdani

(Ketua Komisariat PMII Sunan Ampel Malang Masa Khitmad 2016-2017

Banyak momen terjadi setiap menit, disetiap hari. Banyak hal yang jika mau di teliti, bisa jadi pelajaran menarik. Tentu saja, perlu banyak waktu menelusuri satu demi satu. ‘Lelah’ juga merupakan satu frasa kata yang memuakkan. Kata sederhana yang seringkali jadi pembenaran terhadap ketidakmauan yang serba lemah. Maka, catatan kecil ini bermula dari tadi malam:

Semalam, ketika menghadiri undangan pernikahan salah seorang teman SMA, muncul di angan-angan bahwa cinta tidak semata sesuai kata pepatah Jawa ‘Tresno jalaran soko kulina’.Tanpa sering bertemu sebagai dua orang yang berlainan, teman saya berani memutuskan menikah. Tidak berada di sekolah yang sama, bukan dalam kampus yang sama, tidak dalam lingkungan kerja yang sama, bahkan terpisah tempat tinggal ujung-ke ujung Pulau Jawa. Selamat, idealnya memang demikian. Cinta harus terlembagakan dalam pernikahan.

Dan seperti kata Harun Yahya, hidup memang kadang soporadis juga penuh kejutan, tapi itu tetap bagian dari kesempurnaan desain holistik Gusti Allah, sehingga tidak ada yang disebut dengan istilah kebetulan. Sebagaimana pertemuan dan perpisahan. Juga kapan menikah atau mati. Lalu banyak lagi. Kata-kata yang sejak SMP saya tulis di halaman pertama buku catatan, sekaligus buku pelajaran untuk semua mata pelajaran. Campur aduk.

Masih sangat pagi saat saya pergi mencari kopi di Taman Merjosari, Malang. Ketika segerombolan anak-anak TK memakai seragam olahraga pergi ke taman bersama guru mereka. Dari mereka, yang berbaris-baris itu, terpikir betapa tambah banyak juga penduduk bumi. Mereka yang masih dengan riang berlari-lari di taman. Beberapa yang larinya kencang, mengolok temannya yang kegemukan dan kesusahan berlari. (Ya, obesitas akhir-akhir ini sedang banyak penderitanya. Dinobatkan pula sebagai salah satu penyakit yang lahir dari pola hidup modern.)

Indonesia masih menduduki peringkat ke empat negara dengan jumlah penduduk terbesar. Tahun 2013 penduduk kita mencapai 249,9 juta jiwa. Sudah jauh bertambah dari lagu Rhoma Irama, sebab ketika itu masih 135 juta, penduduk Indonesia. Dengan tingkat kelahiran mencapai 1,49 persen. Menurut kepala BKKBN, jumlah kelahiran setiap tahun di negeri ini sama dengan jumlah penduduk Singapura. Angka yang mengkhawatirkan, yang senantiasa di iringi dengan ke khawatiran akan rendahnya kualitas sumberdaya manusia, juga kualitas kesehatan yang kian buruk.

Anak-anak TK yang tadi pagi berlari-lari di taman, tentu tidak tahu bahwa Fritjof Chapra, dalam Titik Balik Peradaban-nya, mengidentifikasi kita tengah terserang oleh ‘penyakit-penyakit peradaban yang kronis’. Kemerosotan kualitas lingkungan dan masalah kesehatan individu-lah yang jadi penyebabnya. Dampaknya kemudian jamak di temukan kekurangan gizi, penyakit hati, stroke, kanker. Secara psikologis, muncul depresi hebat, scizofrenia, dan dari sisi sosial terjadi banyak tindak kekerasan, alkoholisme, kecelakaan, penyalahgunaan obat, dan banyak anak menderita cacat mental juga penyakit kejiwaan.

Chapra tentu tidak sedang ngawur ketika menulis bukunya. Dan, diakui atau tidak, gejala semacam itu memang benar sedang mengancam peradaban kita. Lebih lanjut dalam bukunya, Chapra mengutip pernyataan ekonom Victor Fuchs; ‘Epidemi merupakan kata yang terlalu lemah untuk menggambarkan situasi ini.’. Semoga, mereka bisa menjadi generasi berkualitas, jauh lebih dari saya. Ilmu pengetahuan dalam beberapa kasus jadi ‘bermata dua’, di satu sisi dia menghadirkan kemajuan, disisi lain dia memunculkan kerusakan dan kekhawatiran.

Pagi tadi juga, di Twitter, Wold Bank merilis hasil penelitian bahwa semakin tinggi pendapatan keluarga akan berdampak kepada keputusan keluarga utuk menunda memiliki anak. Sebab, muncul persepsi di kalangan perempuan bahwa keluarga kecil lebih ideal, juga mereka yang bekerja akan lebih mempertimbangkan biaya yang harus mereka tanggung selama proses kehamilan dan seterusnya. Meskipun penelitian di lakukan di negara-negara Sub Sahara, semoga persepsi tersebut terbangun juga di sini. Tapi, toh ada juga yang menyatakan banyak anak banyak rejeki.

Saya mengalihkan perhatian dari anak-anak TK tadi ke handphone dan menemukan Profesor Emil salim berkicau di akun Twitter-nya; “In politics there are no permanent friends, only permanent interests”. Kesatuan dan persatuan pelaku politik tidak lain hanya di ikat oleh kepentingan, tidak lebih. Teknokrat Anis diganti tokoh Muhammadiyah untuk dukungan politik presiden. Sebenarnya, kasihan mereka berdua. Kasihan Anis Baswedan, tokoh muda visioner yang harus di ganti di tengah masa pengabdiannya. Kasihan juga Pak Muhadjir Effendi yang ‘diduga’ di angkat bukan karena kapabilitas dan kompetensinya. Tapi semata demi kepentingan presiden mencari dukungan politik dari salah satu ormas terbesar di negeri ini. Serta memperkuat posisinya.

Ya, suatu ketika Gus Mus pernah berkata, dalam media sosial siapapun bisa menjadi apapun. Orang bebas berbagi dan mengomentari. Juga, kasihan Sandiaga Uno yang dibully karena memasang foto sok miskin (seorang pengusaha degan kekayaan belasan milyar pergi kerja dengan naik Kopaja).  Pria berkacamata ini di duga mencari simpati guna pencalonan Gubernunya. Beda dulu dengan Jokowi, yang malah dapat banyak atensi calon pemilih dan di elu-elukan sebagai representasi rakyat.

Untung, komentar-komentar ngawur di media sosial tidak secara tertulis di sebut sebagai salah satu penyakit kronis peradaban dalam buku Chapra. Dan untuk teman saya yang baru saja menikah, jangan takut punya anak. Ada yang bilang, anak adalah pengikat paling kuat dalam rumah tangga. Juga, satu dua anak tidak akan berdampak terlampau banyak pada data nasional pertumbuhan penduduk, atau saya rekomendasikan untuk tidak usah di catatkan. Hehehe.

Kopi saya habis, dua ribu limaratus cukup untuk banyak hal menarik di pagi tadi. Dalam perjalanan balik, ada seorang pemuda memakai kaos hitam pergi ke pasar. Yang unik, dan ini asli, bagian belakang kaosnya bertulis:

Teruslah bekerja, jangan berharap pada negara.

Teruslah ke pasar, jangan berharap kepada pembeli.

Yakin….?

Wallahu A’lam

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here